Chef Juna. (MasterChef Indonesia/RCTI)

Are you the one that’s gonna be pregnant for nine months? No, right? How can you pressure your better half to suffer like that if she doesn’t want it? – Chef Juna

Duh, rasanya kepingin cetak jawaban Chef Juna yang viral tersebut saat ia ditanya oleh Deddy Corbuzier soal anak. Lalu dipigura, terus dipasang di ruang tamu supaya orang bisa membaca kata-kata tersebut. Kita memang butuh orang seperti Chef Juna yang gamblang berkata-kata untuk menghapus stigma, yang kadung berurat dan berakar dalam keseharian masyarakat Indonesia.

If my wife wants kids, we have kids. Is my wife doesn’t want kids, then we don’t have kids,” ujar Chef Juna.

Dalam masyarakat kita, pernikahan sering kali dianggap sebagai persoalan bersama – bukan hanya perihal seorang laki-laki dan perempuan saling mencinta, lalu daftar ke KUA supaya hubungan mereka diakui negara. Tapi ada harapan-harapan, bahkan beban yang dilekatkan pada sebuah pernikahan terutama dalam memperoleh keturunan.

Baca juga: Orang Berhak Punya Pasangan dan Anak, Sebagaimana Mereka yang Melajang dan Tak Ingin Punya Anak

Kebetulan karena kodrat perempuan adalah menstruasi, hamil, melahirkan, kemudian menyusui, pada akhirnya beban untuk melakukan reproduksi dianggap sudah menjadi kewajiban perempuan. Sampai di sini, perhatikan kata “beban” dan “kewajiban”.

Akibat main pukul rata akhirnya muncul salah kaprah antara konstruksi sosial dan konstruksi biologis yang disebut sebagai kodrat tadi. Ada nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kita, memilah peran dalam rumah tangga berdasarkan gender. Perempuan dianggap paling bertanggung jawab dalam urusan domestik dan reproduksi, sedangkan laki-laki dalam urusan publik dan produksi.

Persoalannya, apakah peran perempuan dalam urusan domestik dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran laki-laki dalam urusan publik dan produksi? Nyatanya tidak, karena itulah ada ketidakadilan gender, bahkan di masyarakat modern yang terdidik dan punya kecenderungan individualistik sekalipun.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Untuk ikut meningkatkan taraf hidup, misalnya, entah itu membayar cicilan KPR atau bayar SPP anak, banyak perempuan yang sudah dibebani dengan urusan domestik dan reproduksi muncul di ranah publik dan mencari uang. Lantas, masalahnya adalah perempuan kemudian menanggung beban yang jauh lebih banyak ketimbang laki-laki dalam berumah tangga.

Iklan di televisi yang menceritakan seorang istri baru pulang kerja langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara suaminya yang juga baru pulang kerja langsung leyeh-leyeh di sofa, bisa jadi itu merupakan potret keseharian rumah tangga di Indonesia.

Namun, kesadaran bahwa perempuan menanggung beban ganda ketika ia berumah tangga mulai bermunculan saat ini. Kesadaran tersebut muncul dalam berbagai bentuk pilihan hidup. Salah satunya keputusan untuk childfree dengan berbagai latar belakang alasan.

Baca juga: Tak Ada yang Mudah dalam Kehamilan, maka Jangan Bungkam Keluhan, Mending Kasih Pelukan

Saat seseorang bertanya, “Sudah punya anak berapa?”, kemudian dijawab oleh orang yang ditanya, “Saya tidak punya anak.” Tapi pastinya jawaban tersebut bakalan diprotes, “Jangan ngomong gitu, ah! Belum punya anak, itu jawaban yang lebih tepat.”

Selanjutnya, orang yang menjawab “tidak punya anak” itu terpaksa tersenyum mengiyakan – berpura-pura seakan baik-baik saja – demi ‘sopan santun’ dan berusaha memahami bahwa penanya mungkin berpikir dengan cara yang terlalu sederhana, karena tak bisa membedakan antara childfree (bebas anak) dan childless (tanpa anak). Saya pertama kali baca dua kategori tersebut di buku Childfree & Happy yang ditulis oleh Victoria Tunggono.

Seseorang bisa saja berpikir bahwa melahirkan dan punya anak itu tak perlu, pasangannya pun setuju untuk childfree, tapi apa kata dunia? Dunia itu maksudnya keluarga, tetangga, teman, kenalan, orang asing yang kebetulan mutualan, followers, warganet yang gabut dan kebetulan baca posting-an kita yang dibagikan orang lain, dan seterusnya – yang bisa kita sebut juga dengan istilah society.

Artikel populer: Saat Perempuan Lajang Memasuki Usia 40 Tahun

Kita, orang Indonesia, hidup di dalam dunia yang mengharuskan setiap orang berjalan jinjit. Bersuara sedikit saja, ada suara kaki bersentuhan dengan lantai sebentar saja, bisa membuat semua orang menoleh. Kemudian, mulai berkomentar meski tak diminta.

Karena itulah ide childfree, mempersiapkan kelahiran sejak jauh hari, kekhawatiran akan tumbuh kembang anak, dan pertimbangan kondisi finansial maupun mental, menjadi tidak populer. Komentar orang memang beragam, tapi intinya cuma satu: tidak menghargai pilihan hidup orang lain.

Seseorang dengan pemikiran seperti Chef Juna menganggap bahwa perempuan memiliki otoritas terhadap tubuhnya dan berhak memilih, termasuk apakah mau hamil dan melahirkan anak – atau tidak. Masyarakat kita terlalu cerewet dan kepoan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini