Ceritakanlah kepada Anakmu bahwa ‘Frozen’ adalah Dongeng tentang Ratu Independen

Ceritakanlah kepada Anakmu bahwa ‘Frozen’ adalah Dongeng tentang Ratu Independen

Frozen II (Disney)

Melalui Frozen, Disney seolah ingin merevisi dongeng-dongeng patriarkis yang lebih dulu populer. Sebelumnya dongeng Snow White atau Putri Salju menyuguhkan derita perempuan yang dikutuk dan harus diselamatkan oleh ciuman pangeran tampan. Namun, tidak dengan kisah persaudaraan Elsa dan Anna.

Elsa bisa dinobatkan sebagai Ratu Salju, tapi bukan karena kulitnya seputih salju. Elsa dinilai bukan karena fisiknya semata, melainkan kemampuannya. Elsa diberkahi tangan ajaib yang mampu memanipulasi salju dan es. Seolah-olah telapak tangannya mengandung freon, hehe..

Sementara Anna tidak punya kekuatan apa-apa. Kehadirannya untuk menguji rasa tanggung jawab sang kakak. Pasca kematian kedua orangtua mereka, Elsa sebagai anak pertama otomatis menggantikan sang ayah jadi tulang punggung keluarga. Bahkan perannya lebih besar dari itu, pemimpin kerajaan.

Ketika berusia 21 tahun, Elsa diangkat sebagai ratu di Kerajaan Arendelle. Rakyat menyambut sang ratu baru dengan sukacita. Tidak ada di antara rakyat jelata itu yang ngomong, “Masih muda udah jadi ratu. Ya wajarlah karena bapaknya yang punya partai, eh kerajaan.”

Baca juga: ‘Maleficent: Mistress of Evil’, Ya Begitulah Seharusnya Cinta

Rakyat bisa adem-ayem juga karena juru bicara kerajaannya nggak cari perkara dengan pertanyaan nyelekit, “Elsa baru 21 tahun udah jadi ratu. Kalau kamu di usia 21 tahun sedang melakukan apa?”

Walaupun masih lajang, Ratu Elsa tetap dihargai oleh rakyatnya. Berbeda dengan kondisi sosial politik di kerajaan antah-berantah yang mendiskriminasi calon pemimpin hanya karena status perkawinan. “Masa nanti kita dipimpin oleh raja yang nggak punya ratu?” Begitu kata mereka yang gemar menyerang ranah pribadi sang calon raja.

Tanpa didampingi raja pun, Elsa cukup kompeten untuk memimpin kerajaan. Sampai akhirnya, sang adik minta izin nikah padanya.

Di usia yang lebih muda dari Elsa, Anna sudah menemukan tambatan hati. Seorang pangeran tampan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Elsa menganggap Anna naif karena langsung memutuskan cinta, padahal belum lama kenal. Alhasil, Elsa tidak merestui hubungan kilat tersebut. Kemudian, Anna dan Elsa terlibat cekcok sampai Elsa lepas kontrol dan mengeluarkan bakat terpendamnya. Insiden itu membuat semua orang takut. Dituduh monster karena overpower, Elsa pun merasa bersalah dan pergi meninggalkan kerajaan.

Baca juga: Pesan-pesan yang ‘Jleb’ Banget dari Semua Seri Toy Story

Sebagai catatan, Elsa nggak kasih restu bukan karena nggak sudi dilangkahi Anna. Elsa kabur dari kerajaan pun bukan karena ngebet cari jodoh di luar sana agar bisa menyalip nikah duluan sebelum Anna. Elsa tidak segamang itu. Ada alasan idealis di balik keputusannya. Kepala boleh panas, tapi hati dan tangan tetap dingin, begitu kira-kira prinsip hidup Elsa.

Kita bisa menceritakan kepada anak-cucu kita bahwa Frozen adalah dongeng tentang ratu yang independen. Saking indie-nya, Elsa sampai mengasingkan diri dan bikin istana kerajaan sendiri yang terbuat dari es. Di sanalah, ia ingin meniti karier sebagai petapa tunacita. Tak lupa minum es kopi.

Elsa yang lebih senang menyepi dan tak terobsesi hubungan romantis dengan orang lain, menjadi polemik tersendiri di kalangan penikmat film animasi. Frozen diisukan mengusung semangat LGBTQ. Gara-gara masih asyik sendiri, Elsa dirumorkan lesbian. Padahal, bisa saja jojoba alias jomblo-jomblo bahagia, atau istilah kekiniannya self-partnering seperti yang dipopulerkan oleh aktris film Harry Potter dan Beauty and the Beast, Emma Watson.

Baca juga: ‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Sebenarnya, yang berpikir demikian malah mempersempit makna dari lagu Let It Go yang dinyanyikan Idina Menzel si pengisi suara Elsa. Lagunya tak melulu tentang kampanye untuk melela (coming out perihal orientasi seksual). Sebagai film anak dan remaja, sesungguhnya Disney ingin mengajak penontonnya untuk tidak takut menunjukkan bakat dan jati diri. Pesannya seuniversal itu.

Frozen memberikan perspektif baru tentang cinta sejati. Jika selama ini industri perfilman mempertontonkan kisah cinta lawan jenis untuk jualan arus utama, Frozen memberikan alternatif. Kasih sayang kakak-beradik juga termasuk cinta sejati dan bisa menyelamatkan satu sama lain.

Di Frozen II, Elsa masih belum punya kekasih. Sementara, Anna tinggal tunggu momen yang pas untuk dilamar oleh Kristoff. Namun, Elsa tidak iri dengan sang adik, justru ia ikut bahagia. Itulah sifat anak pertama: lebih mengutamakan kebahagiaan adiknya.

Namun, anak pertama juga rerata punya sifat keras kepala dan egois. Inilah konflik di sekuelnya yang notabene masih senada dengan film pendahulunya. Elsa kabur lagi dari Anna dan Olaf yang dinilai tak banyak membantu. Elsa rela berkorban demi keselamatan sang adik dan boneka salju bikinannya itu. Padahal, kalau Elsa dalam bahaya, ya Olaf bakal ikut binasa.

Artikel populer: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Walaupun Anna powerless, ternyata ia tetap berguna dalam cerita. Sejak film pertama, keberaniannya mampu menyelamatkan sang kakak. Sepertinya Disney ingin memberi tahu kepada anak-anak yang menonton filmnya bahwa keberanian juga kekuatan. Kalau nggak punya kekuatan super, minimal punya keberanian.

Sebenarnya, keputusan Elsa untuk tetap sendiri di film kedua ini patut diapresiasi. Ia ingin fokus mencari jati diri. Walaupun ia sudah sukses jadi ratu, masih ingin merambah jadi Avatar pengendali empat elemen alam.

Ada benarnya juga sih Elsa. Kalau diri sendiri aja belum ketemu, kenapa harus ngoyo cari kekasih? Kan, urutan yang betul begini. Belajar mengenal dan sayang dengan diri sendiri dulu, sebelum mengenal dan sayang dengan pasangan. Ciyee…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.