Ilustrasi (Congerdesign/Pixabay)

Dear KPAI, apa kabar?

Semoga bapak-ibu dalam kondisi baik ya, tak seperti orangtua yang kewalahan bahkan stres mendampingi anaknya yang belajar dari rumah. Belum lagi, setiap hari dag dig dug dengan ancaman virus Corona atau Covid-19 yang semakin meluas.

Makanya, aneh saja kalau ada komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) yang bilang bahwa anak-anak menjadi stres akibat diberi banyak tugas secara online selama masa belajar dari rumah. Kemudian, KPAI meminta Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi para guru.

Ya sih, pernyataan itu berdasarkan pengaduan sejumlah orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya pada stres. Tapi kok kalau baca curhatan para orangtua di grup-grup WA dan media sosial, kenapa malah sebaliknya ya?

Lebih banyak orangtua yang merasa stres, karena kewalahan menghadapi anak-anak mereka di rumah. Dari mulai hal yang paling simpel, seperti menyuruh mereka mandi, hingga hal sulit semacam mengajari mereka mengerjakan PR atau tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya.

Baca juga: ‘Social Distancing’, Semoga Tidak Malah Bikin Kerumunan Baru di Tempat Lain

Terlebih, kalau orangtuanya juga kerja dari rumah alias work from home (WFH) atau berdagang. Kebayang kan, bagaimana rasanya dikejar deadline atau lagi urus dagangan, terus harus mengajari anak mengerjakan tugas pula? Ya sih, siapa suruh jadi orangtua!!!

Anak-anak lebih suka beradu argumentasi dengan orangtua daripada sama gurunya ketika mengerjakan soal. Belum lagi, materi pelajaran yang sangat jauh berbeda dengan materi yang pernah dipelajari oleh para orangtua di zaman old, duh curhat nih, jelas ini membuat para orangtua kesulitan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anaknya.

Jadi, wahai bapak-ibu KPAI, apa sudah yakin yang mengeluh kepada bapak-ibu adalah benar perkara anak yang stres karena banyak tugas dari sekolah, atau sebetulnya para orangtua yang stres karena kewalahan mendampingi anaknya belajar di rumah??

Lagi pula, keluhan bahwa anak-anak mendapat tugas yang begitu banyak masih bisa diperdebatkan kok. Wong, dalam satu hari, hanya ada satu-dua tugas dari guru mata pelajaran yang berbeda. Bahkan, kadang-kadang tidak ada tugas sama sekali. Anak-anak hanya diberi tugas untuk membaca buku pelajaran tanpa tambahan tugas, semisal mengerjakan beberapa soal.

Baca juga: Supaya Kamu Tetap Waras saat Kerja dari Rumah

Nah, kalau begitu, ukuran banyak atau tidaknya tugas anak, menjadi sesuatu penilaian yang subyektif, bukan? Kalau nggak percaya, bapak-ibu KPAI bisa masuk ke grup-grup WA orangtua. Duaarrr..!

Oh ya, Pak, Bu, saya kebetulan punya dua anak. Yang pertama sekolah di SMP, yang kedua di SD. Jadi, setiap hari, saya berkomunikasi dengan para guru mengenai pelajaran apa yang harus dikerjakan oleh anak-anak.

FYI aja nih, anak-anak juga suka chat sama teman-temannya soal belajar dari rumah ini. Mau tahu apa yang dibahas? Kebetulan, anak mengizinkan saya untuk membaca chat-nya. Jadi mereka sebetulnya merasa jenuh karena nggak bisa kemana-mana.

Mereka rindu sekolah, bukan pelajarannya (lho?!). Rindu dengan segala keceriaan bersama teman-temannya, termasuk para guru. Keluhan mereka bukan karena banyaknya tugas yang menumpuk, melainkan pada suasana yang cuma mentok di rumah. Belajar di tengah teriakan orangtua yang mulai darah tinggi karena stres harus kerjain ini-itu. Anak mau main sepeda di luar? Langsung dipelototin ortu.

Baca juga: Perang Melawan Virus, Sejarawan Israel Yuval Noah Ada Benarnya

Tapi, lagi-lagi, itu kan demi kebaikan bersama. Bagaimanapun, diam di rumah saja menjadi salah satu opsi yang realistis di tengah pandemi virus Corona saat ini.

Padahal ya, kalau hari-hari biasa tanpa ancaman virus Corona, banyak orangtua puyeng menghadapi anak-anak yang sibuk main gadget. Sekarang, keadaannya justru terbalik. Banyak yang nelangsa saat melihat sepeda dan tas sekolah anak ketimbang kehabisan kuota data.

Di sisi lain, para guru ketar-ketir juga lho! Mereka merasa punya tanggung jawab, meski anak didik belajar dari rumah. Terlebih, bagaimana mempersiapkan anak menghadapi ujian kenaikan kelas. Sebab, ada sebagian siswa yang bahkan belum menjalani tes tengah semester, karena materi pelajaran belum selesai dan sekolah keburu ditutup akibat wabah Corona.

Kebayang juga kan, bagaimana beban para guru saat ini? Beliau-beliau yang terbiasa mengawasi murid-muridnya mengerjakan tes secara langsung, mau tidak mau harus mengawasi tes para muridnya secara online. Ya tentu, tak semua murid yang jujur ketika mengisi lembar jawabannya.

Artikel populer: Ya Beginilah, ‘Social Distancing’ bagi Anak-anak Kosan

Oh ya, itu sepenggal cerita orangtua, guru, dan anak selama proses belajar dari rumah di Pulau Jawa. Lantas, bagaimana dengan daerah di luar Jawa yang fasilitasnya, terutama jaringan internet, tidak sebagus di Jawa?

Para guru pasti setengah mati berjuang di tengah pandemi ini. Berusaha hadir demi anak-anak didik mereka dengan berbagai cara. Mereka merasa bahwa ini pertanggung jawaban sebagai pendidik agar anak-anak kita kelak menjadi generasi yang tangguh, bukan cuma rebahan plus main gadget.

Sebab itu, kita semua bahu membahu dalam menghadapi pandemi virus Corona ini. Minimal, tidak menambah keributan di tengah keribetan. Ye kan, Pak, Bu?!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini