Cerita-cerita Korban yang Bikin Pelaku Teror Meleleh

Cerita-cerita Korban yang Bikin Pelaku Teror Meleleh

Ilustrasi (Erika Wittlieb/pixabay.com)

Ketika moral diungkapkan dalam bentuk perintah & larangan, ia bisa membosankan. Tetapi ketika dikemukakan dalam bentuk kisah, ia jadi memikat. Mungkin, itulah alasan kenapa ada banyak kisah dalam Kitab Suci. Karena kisah adalah elemen yang paling penting untuk memahami ajaran-Nya.

Kalimat-kalimat di atas sempat mejeng di akun Twitter dan Facebook saya beberapa waktu lalu. Tak ayal, sebagian orang bertanya-tanya, karena saya memang sangat jarang bicara kitab suci dan Tuhan.

Tapi, bukan tanpa alasan saya menuliskan kalimat yang bagi beberapa orang – bahkan bagi saya sendiri – terasa ‘sok relijius’ itu. Ada satu momen yang mendorong untuk menuliskannya.

Ketiga kalinya saya bertemu dengan orang-orang itu. Mereka, para korban aksi terorisme yang sempat menimpa negeri ini. Kami bertemu di salah satu hotel di kawasan Gondangdia, Jakarta, dalam sebuah acara peluncuran buku.

Pertemuan ini membangkitkan perasaan yang sempat berkecamuk dalam diri. Saya tidak pernah lupa, bagaimana rasanya terhentak ketika mendengar kisah mereka dalam pertemuan pertama kami beberapa tahun lalu. Ketika itu saya sedang mengikuti pelatihan “Meliput Aksi Terorisme dari Perspektif Korban”.

Seorang lelaki berkacamata bolak-balik ruang pelatihan, sesekali ia ikut duduk bersama kami menyimak paparan pemateri. Beberapa kali juga saya melihatnya berada di area khusus merokok. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

Secara umum tak terlihat hal mencolok pada penampilannya. Hingga saya melihat, salah satu matanya tampak berbeda. Ia, menggunakan mata palsu.

Belakangan saya tahu bahwa lelaki itu bernama Iwan Setiawan. Iwan adalah  korban bom yang meledak di depan Kedutaan Besar Australia pada 2004. Seperti kebanyakan kisah korban aksi terorisme, hari itu mereka merasa bahwa ini hanyalah hari yang biasa. Hingga kemudian semuanya berubah menjadi tragedi akibat hal-hal yang tidak secara langsung melibatkan mereka.

Mereka hanya melintas, atau kebetulan sedang ada di tempat itu. Mereka tak pernah bersinggungan dengan para pelaku aksi terorisme sebelumnya. Mereka tak pernah bertikai dengan si pelaku. Mereka tak pernah terlibat dalam ‘perang ideologi’.

Mereka, bisa dikatakan, hanya ada di ‘tempat yang salah dalam waktu yang salah’. Namun, mereka harus ikut-ikutan menanggung beban batin seumur hidupnya.

Kisah Iwan bermula pada  9 September 2004 ketika Halillah Seroja Daulay, istrinya, membonceng sepeda motor yang dikendarai Iwan. Mereka melintas di depan kantor Kedubes Australia. Saat itu, ia tengah mengandung Rizki (buah hati mereka berdua). Usia kandungannya sudah mencapai delapan bulan.

Dalam waktu bersamaan, Heri Kurniawan membawa bom dengan daya ledak besar menggunakan sebuah minivan. Heri mengarahkan minivan berisi bom itu ke depan gerbang Kedubes Australia. Bom pun meledak.

Tak ada yang menduga, dalam hitungan detik, kaca-kaca jendela gedung di sekitar Kedubes Australia hancur berantakan. Hiruk-pikuk keramaian di kawasan ‘Segitiga Emas’ Kuningan berubah menjadi kekacauan dan kepanikan.

Bom meledak tepat ketika Iwan dan Hallilah melintas. Keduanya terlempar dari motor. Halillah mengalami cedera di kepala, tangan, kaki, pantat, gendang telinga, dan tulang belakang. Mata sebelah kiri Iwan lepas. Hingga kini ia harus memakai protesa mata (mata palsu).

Sebulan kemudian Rizki lahir. Namun, Halillah hanya bisa menemani Rizki selama dua tahun. Ia meninggal, diduga karena tubuhnya tak mampu menahan cedera akibat ledakan bom itu lebih lama lagi.

Rizki, kata Iwan, begitu senang bertandang ke masjid. Yang ia tahu, Bapaknya selalu bilang kalau sang Ibu telah pulang ke rumah Tuhan. Baginya, masjidlah rumah Tuhan itu. Anak itu kerap kali ke masjid demi mencari Ibunya.

Setelah Sang Istri tiada, Iwan harus berperan sebagai orangtua tunggal untuk dua anaknya. Ia harus memutar otak demi mengatasi kesulitannya membayar biaya berobat yang bahkan harus membuatnya rela menjual rumah. Pasca kejadian, Iwan pun harus berjuang mencari pekerjaan baru karena status kerja sebelumnya hanyalah pegawai kontrak.

Kini, ia memiliki sebuah usaha servis komputer di daerah Margonda, Depok. Hidupnya dipusatkan untuk memberikan perhatian pada pertumbuhan dua anaknya yang tak sempat lama merasakan belaian kasih sayang ibundanya.

Iwan mengaku tidak lagi marah atau benci pada teroris yang menyebabkan hidupnya penuh derita, meski ia tak menampik jika dahulu rasa marah itu selalu datang.”Saya berharap bisa berbagi cerita, agar kelak tidak ada lagi korban kekerasan yang harus menderita seperti saya,” katanya.

Jika Iwan adalah seorang Bapak yang juga berperan sebagai Ibu, lain lagi dengan Endang Isnanik. Pasca tragedi bom Bali I, Endang harus menjalani peran sebagai Ibu sekaligus Bapak bagi ketiga anaknya.

Saya menemui Endang tahun lalu dalam sebuah liputan untuk majalah Gatra, tempat saya bekerja. Endang adalah istri dari Aris Munandar, yang meninggal dalam tragedi bom Bali I di Legian, Kuta, Bali. Aris bekerja sebagai sopir transportasi yang mangkal di depan Sari Club, Bali. Dia adalah tulang punggung yang menafkahi keluarga.

Malam itu, Endang sudah melarang Aris berangkat kerja. Ia khawatir, Aris lelah sehabis menyetir keluar kota. Namun, sang suami berkelit, dengan alasan Sabtu adalah hari yang ramai. Ada peluang ia bisa dapat penumpang lebih banyak. Endang sama sekali tidak menyangka bahwa kepergian Aris malam itu adalah untuk selamanya.

Keesokan harinya, Aris ditemukan di Rumah Sakit Sanglah. Sudah meninggal dunia. Posisi mayatnya menunjukkan dia sedang tertidur di dalam mobil. Tangan berada di belakang kepala, kaki ditumpangkan ke kaki lainnya. Seluruh tubuhnya terbakar.

Kepergian sang suami sungguh menjadi pukulan berat bagi Endang. Saat dirinya sedang sakit, suami yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga meninggalkannya bersama tiga orang anak yang masih kecil. Kondisi psikis Endang menjadi sangat kacau. Dia mengumpamakan saat itu adalah titik dimana ia merasa ‘hidup segan mati tak mau’.

Endang pun tak mau berlama-lama dirundung kesedihan. Ia mengumpulkan segenap tenaga untuk segera bangkit dan menggantikan peran suami membesarkan ketiga putranya. Dengan bantuan seorang pengusaha asal Australia yang tinggal di Bali, dia bekerja menjadi penjahit bersama para janda korban bom Bali lainnya.

Saat ini, anak pertamanya sudah lulus dari Sekolah Tinggi Desain Bali, anak kedua sedang kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata, dan anak ketiga di SMA. Endang menceritakan kesuksesannya menyekolahkan ketiga anaknya dengan penuh rasa bangga sekaligus haru.

Walaupun berat, karena separuh hidupnya direnggut secara paksa oleh ulah para teroris, ia tidak mau menyerah. “Ini semua untuk anak-anak saya,” katanya.

Dari sedikit kisah tersebut, mungkin pertanyaan ini yang muncul: “Bagaimana para pelaku teror bersikap ketika mereka tahu kisah para korban?”

Ya, saya juga penasaran. Apakah mereka menyesal atau malah bangga? Lalu, bagaimana jika korban dipertemukan langsung dengan para pelaku, apa yang terjadi?

Pernah ada sebuah kisah tentang pertemuan antara korban aksi teror dengan pelaku di lapas Kembang Kuning, Nusa Kambangan. Subur, salah seorang terpidana Bom Bali II yang didampingi oleh seorang petugas lapas dipertemukan dengan Iwan.

Subur berbicara meledak-ledak tentang keberhasilan aksinya. Namun, wajahnya berangsur-angsur sedih dan menangis saat Iwan bercerita tentang nasibnya setelah jadi korban bom.

Pada saat itu, masuklah Hasan, yang seketika memeluk Iwan dan berulang kali memohon maaf. Iwan seketika bingung terhadap pria tersebut. Akhirnya ia diberi tahu oleh Subur bahwa Hasan adalah pelaku bom Kedubes Australia.

“Saya sempat terenyak juga. Tapi, karena saya sudah bertekad, ya sudah, cuma gitu aja. Cuma, oh, ini orangnya,” kata Iwan. Keduanya lantas berbagi cerita tentang riwayat hidup masing-masing.

Pada akhirnya adalah penyesalan dan kebesaran hati untuk memaafkan. Penyesalan untuk sang pelaku, dan kebesaran hati dari para korban. Itulah yang terjadi setelah sekian lama.

Saya tidak tahu pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah-kisah ini. Tentu berbeda-beda.

Tapi bagi saya, kisah-kisah ini akan selalu mengingatkan bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk yang selalu ingin hidup dalam damai, meski beberapa orang kadang lupa dan tergoda untuk mengkhianati kedamaian itu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.