Ilustrasi pasangan. (Photo by Andre Revilo on Unsplash)

Suatu hari, Prof Abdul Gaffar dari UGM mengadakan webinar yang intinya tentang bagaimana kalau ketemu pasangan yang beda agama, juga beda suku atau ras? Mau lanjut atau ambyar saja di tengah jalan?

Hal itu memang menjadi salah satu kendala yang lumayan bikin lumanyun bagi sebagian orang yang ternyata ‘klik’-nya kok dengan orang yang beda agama, plus beda suku atau ras pula.

Ya gimana, namanya juga jatuh cinta. Kita kadang nggak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa, orang mana, anaknya siapa, agamanya apa, suku bangsanya apa. Sama halnya dengan kita nggak bisa milih lahir di negara mana, anaknya siapa, suku bangsa apa, plus wujud kita kayak gimana.

Sementara, para orangtua kekinian tetap saja masih banyak yang konservatif banget kalau soal kesukuan, apalagi agama. Jangankan ngomongin anaknya bakal nikah beda agama, wong kalau ada anaknya yang tiba-tiba pindah ke agama lain saja kayak mau perang dunia ketiga. Bisa dicoret dari daftar KK, termasuk dari daftar penerima arisan, eh warisan.

Yup, di negeri ini, perkara memeluk agama merupakan hak yang paling hqq, tapi pakai embel-embel “katanya”, hihi…

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Jangan jauh-jauh dulu soal pernikahan, pacaran beda agama saja banyak yang menentang, terutama keluarga. Padahal, zamannya mama papa saya menikah sebelum tahun 1970, pernikahan beda agama masih bisa didaftarkan ke negara lewat catatan sipil.

Ini kita bicara kewajiban sebagai warga negara sih, salah satunya kan mendaftarkan pernikahan. Agar pernikahan punya kekuatan hukum. Biar making love dilindungi undang-undang, eh gimana-gimana?

Kalau sekarang, pernikahan yang dilegalisasi oleh negara harus dilegalisasi dulu secara agama. Jadi mesti ada keterangan menikah secara agama apa. Setelah itu, baru negara mau melegalisasi pernikahan.

Prosesnya tentu merepotkan, makanya sebagian orang akhirnya ‘mengalah’. Ambyar di tengah jalan, meski lagi sayang-sayangnya.

Sebagian lagi memilih pindah agama, meski tidak mudah. Alasannya bahwa itu sebagai salah satu bukti atau tanda cinta. Plus, memang biar nggak ribet aja sih.

Baca juga: Sama Halnya dengan Menikah, Bercerai juga Selamat Menempuh Hidup Baru

Saya dan suami kebetulan beda agama. Usia pernikahan sudah 16 tahun. Melegalisasi pernikahan secara agama yang dianut suami. Tentu banyak pertimbangan, salah satunya kepraktisan.

Nah, pertanyaan yang sering muncul saat ada kenalan yang tahu kami beda agama adalah, gimana sih kesehariannya? Apa nggak banyak konflik karena beda agama?

Duh, kalau berantem, konflik, jelas ada aja ya. Namanya juga sepasang manusia hidup bareng. Tapi itu tadi, kalau toh berantem ya masalah umum saja, sebagaimana rumah tangga pada umumnya. Mulai dari handuk basah yang digeletakin gitu aja di atas tempat tidur hingga perkara kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa.

Itu yang terakhir bacanya jangan sambil nyanyi ya, cyynnn… Ketahuan banget sih.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Untuk anak-anak, kami lebih banyak mengajarkan tentang bagaimana menjadi manusia yang merdeka atas diri mereka sendiri, dengan cara memanusiakan manusia. Mengenai agama, bukankah itu merupakan salah satu hak asasi manusia (HAM)? Kebebasan beragama juga dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Anak-anak pun berhak memilih agama ketika nanti sudah besar. Sebab agama adalah sesuatu yang sangat intim. Makanya, kami lebih concern mengenalkan dan merawat mereka tentang berbeda-beda tetap satu jua, bagaimana kelak menjalani kehidupan di tengah masyarakat yang majemuk, asiikk…

Ya kan nggak mungkin juga kami rawat seperti Mallika, masa dijadiin kecap?

Sebenarnya, hidup bersama pasangan yang beda agama bisa baik-baik saja kok. Yang bermasalah justru orang-orang di sekitar kita yang sibuk julid bin kepo. Tapi ini sekadar berbagi cerita saja ya, tidak bermaksud mengabaikan pasangan-pasangan yang mungkin menghadapi persoalan pelik.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Kesel bin sebel juga sih menghadapi mereka yang suka ngatur-ngatur kehidupan pribadi orang lain. Bahkan, ada yang sampai bawa-bawa surga dan neraka. Lah, memang kalau ke surga atau neraka, ngajak-ngajak mereka gitu? Mati juga mati sendiri, memang ada yang mau diajak?

Stop merecoki kehidupan pribadi orang lain, dijamin hidup kalian bakal tenteram.

Kami percaya ada tiga hal yang dapat menyatukan umat manusia tanpa memandang agama, suku, ras, bangsa, bahkan bahasa. Tiga hal itu adalah masakan (makanan), musik, dan cinta.

Jika cinta dilarang, apa kabar perdamaian?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini