Ilustrasi perempuan. (Image by holdosi from Pixabay)

Kesehatan reproduksi memang penting banget. Apalagi, nggak cuma soal sehat organ, tapi juga mental dan sosial. Kamu-kamu yang sudah menikah maupun yang belum atau tidak menikah, bolehlah periksa ke klinik kesehatan reproduksi. Terlebih, kalau kamu aktif secara seksual.

Mungkin bagi yang sudah menikah seperti saya, itu bukan sesuatu yang baru. Tapi terus terang, masih ada perasaan nggak nyaman ketika periksa di klinik tertentu. Mulai dari tatapan tak mengenakkan, justifikasi, pertanyaan-pertanyaan tendensius yang nggak ada kaitannya dengan masalah kesehatan reproduksi, hingga ‘nasihat spiritual’.

Perempuan kerap mendapat perlakuan semacam itu. Perlakuan dari beberapa tenaga medis yang sesama perempuan pula. Misalnya, ketika konsultasi masalah kontrasepsi setelah melahirkan. Alih-alih mendapat jawaban langsung tentang kontrasepsi apa yang pas, malah mendapat jawaban yang kurang lebih seperti ini: “Wah, udah mikir KB aja nih bu, udah nggak tahan ya mau gaspol secepatnya.”

Tuh kan, perempuan yang sudah menikah saja mendapat pengalaman tidak mengenakkan, apalagi yang belum atau tidak menikah? Padahal, ini concern terhadap tubuh sendiri dan mau memeriksakan kondisi kesehatan reproduksi. Dan, seperti disebutkan di awal, kesehatan reproduksi nggak cuma soal sehat organ, tapi juga mental dan sosial. Bisa nggak sih berhenti melontarkan kalimat yang aneh-aneh?

Baca juga: Lelaki Harus Mau Pakai Kontrasepsi, Jangan Perempuan Melulu

Saya pernah mengantar seorang teman yang sudah beberapa bulan tidak mengalami menstruasi. Mungkin, dia sedang stres saja. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dokter obgyn untuk berkonsultasi agar tahu masalahnya.

Namun, dokter malah menanyakan di mana suami teman saya itu. Kok diantar oleh saya, bukan sama suaminya? Dokter tersebut juga bilang bahwa mungkin saja teman saya seorang janda, tapi malu, makanya mengaku masih menikah di loket pendaftaran. Atau, pernah berhubungan badan dengan orang lain, tapi lupa dan malu mengakui karena itu adalah hubungan terlarang. Makanya tidak menstruasi, karena bisa jadi hamil.

Ujung-ujungnya, dia kekeuh menyodorkan tespek ke teman saya, sambil memberikan ‘nasihat’ panjang kali lebar tentang dosa kalau berhubungan badan dengan laki-laki tanpa ikatan pernikahan. Lah, ini lagi di klinik obgyn, KUA, atau tempat ibadah?

Eh, hasil tespeknya ternyata negatif. Wong, teman saya memang tidak sedang mengandung, tapi lebih karena stres menghadapi pandemi. Apalagi, ia sudah kehilangan kerabat dekatnya karena Covid-19.

Baca juga: Salahkah Perempuan Lajang ke Dokter Kandungan?

Untungnya, setelah itu, kami menemukan dokter lain yang lebih kompeten. Yup, memang banyak juga dokter yang bagus-bagus dan berpikiran lebih maju. Benar-benar memeriksa secara saksama, baik fisik maupun psikis. Dari situ, akhirnya diketahui bahwa penyebab utama tidak menstruasi adalah faktor stres dan minim nutrisi. Ada efek samping dari diet ketat yang dijalani oleh teman saya tersebut.

Tapi tetap saja, dari peristiwa sebelumnya, muncul pertanyaan besar: Apa kabar para perempuan lajang yang ingin memeriksa kondisi kesehatan reproduksinya, ya?

Kita tahu, kesehatan adalah hak setiap orang. Terlepas dari menikah atau tidak, identitas ataupun orientasi seksualnya, semua berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Dijamin undang-undang lho, dilindungi negara. Ada di pasal 28H UUD 1945!

Apalagi, kesehatan perempuan lebih kompleks ketimbang laki-laki. Selain kesehatan reproduksi, perempuan juga butuh pengetahuan dan akses layanan kesehatan yang memadai terkait kanker payudara dan kanker serviks. Menurut data Kemenkes, kanker payudara dan kanker serviks menjadi pembunuh perempuan nomor satu dan dua di negara ini.

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Kasus kanker payudara pada perempuan di angka 42,1 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kasus kematian 17 kasus per 100.000. Untuk kasus kanker leher rahim atau serviks pada perempuan di angka 23,4 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kasus kematian 13,9 kasus per 100.000.

Selama ini, banyak kasus yang terlambat ditangani karena banyak perempuan enggan memeriksakan kondisi kesehatan reproduksinya. Tentu kita perlu mengedukasi agar banyak perempuan mau ke klinik, selain penyediaan fasilitas dan akses layanan. Tapi, tolong dong, jangan ada lagi pertanyaan maupun pernyataan aneh-aneh yang melanggengkan stigma dan membuat pasien merasa tidak nyaman ketika memeriksakan kondisi kesehatan reproduksinya.

Seorang kawan bercerita bagaimana ia harus berdebat dengan seorang dokter hanya karena meminta tes pap smear untuk anaknya yang belum menikah dan berusia 25 tahun. Dokter terang-terangan tidak mau memberikan tes dengan alasan yang tak masuk akal, yaitu menunggu si anak menikah terlebih dahulu, baru bisa diberikan tes pap smear.

Padahal, pap smear adalah langkah awal deteksi kanker serviks. Itu wajib dilakukan oleh perempuan yang sudah berusia 21-69 tahun, terutama yang kehidupan seksualnya aktif, baik yang sudah menikah ataupun tidak.

Artikel populer: Chef Juna, Kita, dan Kata-kata Penghapus Stigma

Di banyak negara maju, pap smear direkomendasikan untuk dilakukan setiap tiga tahun sekali. Sedangkan di Indonesia disarankan satu tahun sekali. Sebab per tahun 2020, kanker serviks merupakan pembunuh perempuan nomor dua di Indonesia. Sebelumnya menjadi pembunuh perempuan nomor satu.

Ironisnya, peristiwa yang dialami oleh kawan saya, dialami juga oleh banyak perempuan yang kesulitan mendapatkan tes pap smear hanya karena mereka belum menikah.

Seolah hanya perempuan yang sudah menikah saja yang bisa aktif secara seksual. Lagi pula, kehidupan seksual masuk ranah privat, bukan urusan dokter atau tenaga medis. Tapiii, ya gitu deh, masih ada stigma di antara kita.

Duh, mau sehat aja susah bener…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini