Cerita-cerita Lebaran dan Makna di Balik Itu

Cerita-cerita Lebaran dan Makna di Balik Itu

Ilustrasi (Photo by mentatdgt from Pexels)

Waktu masih bocil, bayangan soal hari Lebaran terasa riang sekali. Tentang baju baru, nastar, permen, dan uang fitrah paman-bibi. Tambah usia, baru paham kalau makna lebaran tak sesederhana itu. Ternyata, Lebaran memiliki aneka tafsir dan amalan tertentu.

Lebaran adalah rabat-rabat sekian persen. Adalah musim ritel, jasa ekspedisi, maskapai penerbangan, dan seluruh moda transportasi massal menuai panen. Lebaran adalah grafik konsumsi rumah tangga yang melejit, pertumbuhan ekonomi yang dianggap membaik.

Lebaran adalah waktu-waktu dimana media massa tak kesulitan memilih topik siaran.

Lebaran adalah pertanyaan seputar kapan lulus, kapan kerja, kapan menikah, kapan punya anak/mati. Adalah basa-basi soal KPR, pekerjaan, mobil baru, prestasi anak-anak, bahkan bagus-bagusan calon menantu.

Aduh, banyak sekali ya. Baiklah, setop sampai di situ.

Dengan sejumlah pemaknaan di atas, barangkali memang tidak semua pihak menyukai Lebaran.

Baca juga: Maaf Lahir Batin, Bu, Maaf Belum Bisa Pulang Dulu

Sektor industri dan pemerintahan adalah beberapa pihak yang gembira bukan kepalang. Tak kalah gembir dari buruh-buruh yang dapat THR dan cuti satu-dua hari. Waktu personal yang sepanjang hari dirampas oleh rutinitas produksi akhirnya bisa diperoleh walau sebentar, dihabiskan di ruang privat bernama keluarga.

Seperti cerita-cerita berikut.

Wulan, genap delapan tahun usia pernikahannya pada syawal kali ini. Dari Yogyakarta pulang ke kampung halaman di Jawa Barat bersama suami. Meski cuti hanya beberapa hari, itu harus dibagi dengan kampung halaman suami dan ruas-ruas kemacetan lalu lintas menuju Sukabumi.

Pertemuan keluarga besar Wulan pun berlangsung, cipika-cipiki, kudapan, foto bersama dan… nasihat agar lekas punya momongan. Delapan kali Lebaran, delapan kali sudah diingatkan tentang pentingnya memiliki keturunan. Menghadapi pertanyaan dan nasihat yang sama dari dua pihak keluarga.

Atau Wati, 27 tahun. Selepas kuliah, sudah tiga tahun kerja sebagai karyawan swasta dan apa saja yang bisa dikerjakan. Upah rata-rata, hidup gitu-gitu aja.

Lebaran tahun ini, Wati mudik dari Ibu kota ke kampung halaman di Jawa Tengah. Pada hari H, semua sepupu perempuan yang seumuran datang bersama suami di acara keluarga. Sedangkan Wati masih kikuk kalau ditanya soal calonnya siapa dan orang mana.

Baca juga: Pledoi Cewek Lajang Indonesia

Atau Rudi, 26 tahun. Tahun ini adalah tahun ke-8 menjadi mahasiswa S1 jurusan Ilmu Pemerintahan di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Entah bagaimana ceritanya, Rudi belum juga kena DO dari kampus dan belum ingin. Tiga tahun belakangan, setiap Lebaran tiba, rasanya ia justru ingin di-DO saja dari acara keluarga.

Baik Wulan, Wati maupun Rudi sama-sama ingin melepas rindu akan aroma masakan mama, bau lembab di sudut-sudut ruangan rumah, canda tawa bersama satu keluarga besar. Tapi, rindu dan kelu rasanya tak lagi berjarak ketika entah harapan atau tuntutan keluarga menguap dalam percakapan-percakapan.

“Tak bisakah hari raya dilewatkan hanya dengan makan dan menonton siaran komedi bersama? Tanpa basa-basi yang serius.” Batin mereka.

Itu Wulan, Wati, dan Rudi yang memiliki keluarga harmonis dan kekerabatan sempurna. Di lain tempat, beberapa orang mungkin berpikir, kenapa harus ada satu hari yang dianggap paling istimewa dengan mengangkat tema keluarga? Hari dimana orang-orang membagi foto lengkap satu keluarga. Bapak, ibu, dan anak-anak.

Padahal, tidak semua keluarga berkonsep segenap itu, kecuali yang disebut keluarga sebatas lembar KK (Kartu Keluarga).

Baca juga: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Hari raya pun menjelma menjadi kebiasaan dimana jumlah anggota keluarga dipresensi. Lebaran kali ini tanpa si anu, tahun lalu tanpa si anu, tahun depan semoga bisa anu… Seolah-olah waktu berkumpul hanya ada di hari itu. Seolah-olah tidak mudik Lebaran adalah drama penderitaan paling pilu.

Tidakkah ingin sesekali merayakan Lebaran bersama orang-orang baru? Menjalin silaturahim kan tidak hanya dengan yang itu-itu. Misalnya, bagi anak-anak kota kelas menengah, sesekali bisa dicoba berlebaran dengan buruh-buruh tani di desa. Bisa juga bersama mereka yang tak memiliki kampung halaman, entah karena penggusuran atau bencana-bencana industri.

Lagipula, apa pulang kampung harus menunggu Lebaran tiba? Memangnya ada jaminan diskon tiket perjalanan ketika jelang hari Lebaran? Apakah kasih dan doa orangtua hanya bisa dibayar tuntas saat Lebaran? Silaturahim hanya dijalin saat Lebaran?

Lha, pada hari-hari biasa saja kita sering lalai berkabar, tak sempat berkunjung, jarang terhubung, saking dibelenggu oleh deadline-deadline pekerjaan. Demi karier hidup, demi rekening bank, demi tabungan nikah, demi kelas sosial, atau demi apa saja.

Artikel populer: Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Akhirnya, apakah Lebaran adalah semata-mata tentang merayakan keintiman hubungan keluarga? Jika begitu, lantas apa relasinya dengan puasa-puasa kita? Mengapa ada bayar zakat maupun fidyah – yang wujudnya materi – sebagai penutup puasa dan awal Idul Fitri?

Barangkali, memang ada relasi antara hakikat puasa dan penebusan dosa sosial, antara Lebaran dan ketercapaian misi sosial. Melalui praktik mengurangi porsi makan sehari selama satu bulan dan zakat-fidyah sebagai konsep redistribusi kekayaan.

Sayangnya, kita lumrah memperlakukan hari raya seperti ritus tradisi semata. Mudik, merayakan kebersamaan secara nostaljik, dan pertanyaan-pertanyaan ‘itu’, lalu kembali ke rutinitas semula. Bekerja, berbelanja, lelah, berwisata. Kalaupun ada ketercapaian yang besar adalah tercapainya misi sektor industri dan target konsumsi pemerintah saja.

Jadi, seandainya ada yang bilang agama tak lebih dari produk budaya, mungkin nggak sepantasnya kita misuh-misuh, selama yang nampak pada praktiknya memang sebatas tradisi. Sejauh apa kita mengilhami?

Syukur yang kita ucap saat menikmati hidangan di hari yang fitri, semoga juga dirasakan oleh mustadh’afin di seluruh negeri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.