Cek Seberapa Dononya Abimana di Film Gundala

Cek Seberapa Dononya Abimana di Film Gundala

Film Gundala (dok Screenplay Films)

Sebagai alumni Warkop DKI Reborn, Abimana Aryasatya menyusul Vino G Bastian menjadi superhero. Vino sudah lebih dulu menjadi Wiro Sableng yang diangkat dari novel silat legendaris karangan ayahandanya. Sementara, Abimana menjelma menjadi versi manusia dari karakter komik Gundala.

Sebenarnya, Vino akan reuni dengan Abimana di semesta Wiro Sableng. Di adegan akhir film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Abimana muncul sebagai Pangeran Matahari, yang tak lain adalah musuh bebuyutan Wiro Sableng. Tapi kini, Abimana dan Vino menjadi jagoan di semesta masing-masing.

Di film Warkop DKI Reborn, Abimana didapuk sebagai Dono. Abimana bisa mengimitasi Dono dengan fasih, dari suara sampai gerak-geriknya. Ketika jadi superhero Gundala, masihkah ada sisa-sisa Dono dalam diri Abimana?

Sebagai film aksi pahlawan super, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot garapan Joko Anwar masih terbilang lucu karena memiliki bumbu-bumbu komedi yang pas. Salah satu yang bikin tergelitik adalah nasib Abimana sebagai Sancaka, sosok di balik topeng Gundala.

Baca juga: Boleh kan Berharap Ada ‘Gundala-Gundala’ Lain? Eh tapi, Harapan adalah Candu

Sejak kecil, Sancaka sering dikeroyok banyak orang. Kejadian itu tak jarang bermula ketika Sancaka memutuskan untuk menolong seorang perempuan.

Berbeda sewaktu jadi Dono yang sering genit kepada cewek, Abimana saat memerankan Sancaka sangat peduli dengan perempuan. Ketika tetangganya diganggu preman, Sancaka membela dengan gagah berani. Sampai akhirnya, Sancaka dikeroyok komplotan preman gara-gara ikut campur.

Puncaknya, saat Sancaka melawan 30 orang preman pasar dan masih bisa menang. Lucu banget. Sancaka tentu jauh lebih kuat daripada Iko Uwais di film laganya yang manapun.

Mau jadi Dono atau Sancaka, nasib Abimana memang sama-sama berakhir babak-belur. Mukanya jadi pating plenyek, kalau kata Indro Warkop.

Bedanya, ketika dikejar-kejar orang, Sancaka bisa becus kabur dengan benar sambil sesekali jotos-jotosan. Kalau Dono tiap kejar-kejaran, adegan akhirnya kecebur sungai.

Film Gundala memang didominasi oleh adegan Sancaka dikeroyok penjahat dan disambar petir. Atau, kombinasi keduanya: dikeroyok penjahat, lalu disambar petir. Bagian disambar petir, Sancaka justru ketagihan. Setiap langit bergemuruh, ia menengadahkan tangan minta disambar.

Baca juga: Mantan, Warkop DKI, Orba: Gagal “Move On” Paling Paripurna

Disambar petir bagi Sancaka adalah candu. Dan, candu itu berbahaya bagi penjahat. Setiap disambar petir, Sancaka berubah jadi Gundala yang kebal dan bisa nyetrum.

Yah, Gundala termasuk superhero yang agak rempong karena beraksinya tergantung cuaca. Kalau musim kemarau, Gundala libur jadi jagoan, kali.

Coba kalau di film Warkop DKI, setiap Dono disambar petir, sudah pasti wajahnya jadi gosong dengan rambut berdiri ala Atta Halilintar pas nge-prank jadi gembel. Persis adegan kesetrum sewaktu membetulkan televisi.

Di film Warkop DKI, Dono punya Kasino sebagai teman sekaligus mentor. Jiwa pemimpin Kasino terlihat ketika melantunkan nyanyian kode untuk memberikan arahan kepada Dono.

Sementara, Sancaka sempat diajari cara berkelahi oleh temannya yang sesama anak jalanan bernama Awang. Awang pun berpesan kepada Sancaka, “Belajar buat urus hidup lo sendiri. Karena kalau lo ikut campur urusan orang lain, hidup lo bakal susah.”

Petuah bijak itu bisa disambung dengan kutipan Kasino: “Daripada ngurusin urusan orang lain, mending piara kambing bisa gemuk.”

Baca juga: Membayangkan ‘Superhero’ Marvel Beraksi di Indonesia

Sejak itulah, Sancaka jadi acuh tak acuh terhadap orang-orang di sekelilingnya. Melihat ada orang lemah ditindas, ia hanya melengos.

Namun, sikap Sancaka berubah ketika bertemu Wulan yang diperankan oleh Tara Basro. Sancaka akhirnya mau peduli dengan urusan Wulan yang sedang kesusahan. Ditambah Sancaka dapat petuah yang lebih bijak dari teman kerjanya, yaitu Pak Agung. “Nggak ada gunanya hidup kalau nggak peduli dan cuma mikirin diri sendiri.”

Prinsip hidup Sancaka pun bergeser.

Lalu, Sancaka memantapkan diri menjadi patriot. Dia membuat kostumnya sendiri dari bahan-bahan yang didapatkannya dari pabrik. Namun, kostum versi beta itu bikin Pak Agung malu. Sebab, Sancaka pakai antena radio di kupingnya.

Demi mengomentari kostum rintisan Gundala, Pak Agung bisa mengutip umpatan Kasino, “Duh, bocah kok ora ana pendidikanne? Blabar pisan!”

Musuh utama Gundala di film ini adalah Pengkor. Pengkor menebar hoaks bahwa telah beredar serum berbahaya yang mampu membuat sebuah generasi menjadi amoral. Semacam ‘micin’ kalau diibaratkan dengan generasi sekarang.

Artikel populer: Membayangkan ‘Rangga dan Cinta’ Bertemu sebagai Aquanus dan Dewi Api

Sasaran dari virus berbahaya itu adalah para ibu hamil. Hmmm.. Hampir setiap film yang disutradarai oleh Joko Anwar selalu berkaitan dengan kehamilan. Di film Janji Joni, Nicholas Saputra menolong ibu hamil yang mau melahirkan. Di film Pengabdi Setan, tokoh Ibu malah nggak bisa hamil sebelum ikut sekte sesat. Sebenarnya, Joko Anwar ada masalah apa sih dengan ibu hamil?

Dengan cerdik, Joko Anwar memasukkan soundtrack Pengabdi Setan di film Gundala. Sehingga, film Gundala tetap punya kaitan dengan film besutan Joko Anwar lainnya. Di sisi lain, Gundala juga menjadi gerbang pembuka untuk Jagat Sinema BumiLangit alias BumiLangit Cinematic Universe (BCU) jilid I.

Sampai beberapa tahun ke depan, jika diberi umur panjang, kita bakalan menonton Abimana sebagai Gundala. Abimana ikut menjadi pelopor bangkitnya film superhero tanah air. Kemungkinan Gundala tetap bisa muncul sebagai peran pendukung di film patriot lainnya, sekaligus pemeran utama di BCU jilid I.

Sementara itu, peran Dono di waralaba Warkop DKI Reborn biar untuk Aliando saja.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.