Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Parasite (Cannes Film Festival)

Festival Film Cannes memilih film Korea Selatan, yaitu Parasite, sebagai pemenang Palme d’Or tahun ini. ‘‎Palem Emas’ itu adalah penghargaan bergengsi di salah satu festival film paling bergengsi di muka bumi. Mantul!

Semula, saya sempat B aja dengan film ini. Ah, Korea? Apaan? Romantisme kelas menengah lagi? Salah!

Jangan harap film Parasite akan menampilkan fantasi romantis ala Drama Korea alias Drakor yang selama ini dikenal banyak orang: seorang pangeran kekinian bertemu gadis istimewa-jatuh cinta-konflik-berakhir bahagia. Seolah perempuan adalah makhluk penuh konflik yang hanya bisa diselamatkan oleh laki-laki.

Tak ada kebahagiaan di film yang dalam bahasa Korea disebut Gisaengchung ini. Hanya satire yang sangat getir: tawa tanpa komedi, air mata tanpa tragedi. Ini film gelap, segelap masa depan perempuan Indonesia tanpa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, pastinya.

Karena ini bukan spoiler, seperti yang diwanti-wanti oleh sang sutradara Bong Joon-ho, jadi tulisan ini akan melihat dari perspektif lain: perjuangan kelas.

Baca juga: 5 Film Korea Layak Tonton untuk Menghadapi Tahun Politik

Tapi, sebelum itu, ada yang unik dari penonton film ini, terutama respons mereka terhadap akhir cerita. Ada yang diam tercengang begitu keluar dari studio bioskop, ada yang tak beranjak dari kursi karena masih berusaha mencerna narasi besarnya.

Film Parasite membawa narasi besar yang sama dengan makna judulnya, parasit atau benalu. Organisme yang numpang hidup dan mengisap makanan dari organisme lain yang ditempelinya. Dia tak akan berhenti sampai inangnya mati. Dalam pengertian lain di KBBI adalah orang yang hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain.

Kita akan melihat narasi yang naif tentang relasi sosial antara borjuis dan proletar, relasi yang terpisah oleh ruang dan akses. Perihal dua keluarga dari dua ujung strata sosial. Kelas menengah medioker pasti akan bingung dibuatnya. Harus menempatkan empati kepada keluarga yang mana? Yang satu terlalu miskin, yang satu lagi terlalu kaya.

Keluarga yang terlalu miskin dalam film ini berusaha mematahkan stigma dari masyarakat perihal kemiskinan. Tak ada miskin yang muncul karena malas.

Baca juga: Kapan Anak-anak Borjuis dan Proletar Bisa Nongkrong Bareng, nih?

Seorang ayah dapat bekerja keras seumur hidupnya, tapi tetap tidak mampu keluar dari garis kemiskinan. Seorang anak yang sangat cerdas tetap tidak mampu berkuliah di universitas favorit, berapa kali pun ia mencoba untuk diterima, hanya karena ia miskin.

Maka, jelaslah bahwa kemiskinan tidak datang karena kamu malas atau tidak bekerja keras. Kemiskinan datang sebagai konsekuensi dari kesempatan yang tak pernah hadir untukmu. Hingga akhirnya, keluarga yang proletar itu diberi kesempatan.

Kemudian, mereka mengambil sisa-sisa kesempatan untuk hidup tidak terlalu miskin, namun tidak pula menjadi kaya. Dengan cara apa? Tentu saja menjadi buruh.

Film ini serasa dipersembahkan untuk kaum buruh sedunia. Termasuk, para buruh informal yang mengisi ruang kosong dalam sistem yang menopang para kapital. Meski para buruh ini tidak terlibat langsung dalam produksi dan konsumsi, mereka tetap menopang stabilitas hidup para pemodal.

Ya, seperti Kevin sebagai guru Bahasa Inggris, Jessica sebagai guru seni, atau kedua orangtuanya yang menjadi sopir beserta pekerja rumah tangga. Mereka semua menjual tenaga untuk ditukar dengan upah.

Baca juga: Pemilik Modal Bukan, Bos juga Bukan, tapi Nyinyirin Buruh

Namun, film ini tetap menyajikan narasi utama dalam kapitalisme. Sebanyak apapun kamu mampu membeli sesuatu, selama kamu tak memiliki alat produksi dan diupah oleh orang lain, kamu tetap buruh. Dasar proletar!

Beberapa orang mungkin akan melihat betapa jahatnya orang miskin dalam film ini. Sudah miskin, jahat pula. Bahkan, celetukan penuh rasa geram atas tidak tahu terima kasihnya orang-orang miskin dalam film ini terdengar dari beberapa penonton.

Sesungguhnya, cara-cara jahat yang digunakan oleh orang miskin di film ini sama jahatnya dengan perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, serta kejahatan dari kaum borjuasi yang tidak membayar upah buruhnya.

Sama juga seperti orang-orang borjuis yang terlihat bahagia dan tak terkalahkan. Tetap kaya raya, meski segala konflik datang menerpa. Dan, yang paling utama, mereka tetap jadi orang baik sampai akhir film. Jadi, mereka sebetulnya kaya karena baik, atau baik karena kaya?

Nah, buat kamu yang merasa jadi kelas menengah budiman, harus menonton film ini. Tentunya dengan narasi kesadaran kelas. Jika tidak, kamu akan berakhir dengan narasi “kasihan ya, sudah baik-baik dikasih pertolongan, eh malah jadi parasit”. Kamu menjadi auto-empati kepada si kaya semata, tanpa melihat esensi dari mana kejahatan bisa muncul.

Artikel populer: Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Film ini pun seolah mencaci-maki kita dengan komedinya yang gelap. Meruntuhkan sudut pandang kita pada konsep si kaya dan miskin. Kita tidak pernah cukup kaya dan tidak pernah semenderita orang miskin. Kita semacam kelas menengah yang berada di antara mereka, yang menurut Gramsci sengaja diciptakan untuk menjadi batas. Agar keduanya tidak saling bertentangan.

Film ini bisa dilihat dari dua sisi, tergantung di mana kesadaran kelasmu. Bisa dikatakan proletar, karena bercerita tentang segelintir borjuis yang kebetulan beruntung memiliki keistimewaan dibanding orang lain. Keistimewaan yang sebetulnya tidak mereka gunakan untuk menyetarakan diri dan menolong orang.

Keistimewaan itu dimanfaatkan untuk memperkokoh hegemoninya. Merasa sudah menolong, namun sesungguhnya mencabik-cabik batas kesabaran orang-orang miskin.

Film ini juga bisa dikatakan borjuis, karena menceritakan proletar yang tidak sadar bahwa dirinya cukup bau untuk jadi manusia, tidak cukup layak untuk hidup, dan tak tahu terima kasih karena sudah diberi kesempatan.

Lalu, siapa sebetulnya yang menjadi parasit?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.