Ilustrasi online (Photo by Josefa nDiaz on Unsplash)

Pelaksanaan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) di masa pandemi memang berbeda dari biasanya. Kalau sebelumnya mahasiswa baru (Maba) bertatapan langsung dengan mahasiswa senior yang memandu Ospek, kali ini dilakukan melalui aplikasi video daring.

Tetapi, bukan berarti kekerasan seksual yang kerap terjadi saat Ospek hilang begitu saja. Walaupun mediumnya berbeda, Ospek via daring rentan adanya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Dengan kata lain, modus dan kekerasan seksual yang sering kali terjadi saat tatap muka bisa terjadi pula secara daring.

Karena itu, Maba terutama perempuan perlu waspada dan mengetahui modus-modus kekerasan seksual saat Ospek ataupun acara lainnya. Jaringan Muda Setara telah mengumpulkan beberapa contohnya:

1. Menargetkan perempuan yang dianggap ‘cantik’

Perempuan yang dianggap paling ‘cantik’ seangkatan sering kali dijadikan target oleh senior untuk menjadi perwakilan angkatannya. Bahkan, tak heran, dia diminta menjadi maskot. Dengan menjadi perwakilan angkatan atau maskot, otomatis ia harus membagikan kontaknya agar mudah dihubungi.

Baca juga: Semestinya Kampus Melanggengkan Tradisi Intelektual, Bukan Kekerasan Seksual

Tentu tidak ada yang salah dengan perempuan menjadi ketua atau perwakilan angkatan, namun kita harus bisa melihat juga bagaimana ia diposisikan di tempat tersebut. Dan, ada saja mahasiswa senior yang melakukan pendekatan dengan cara-cara yang membuat perempuan merasa tidak nyaman.

Bagaimanapun, interaksi antara Maba dan senior tetap ada, meskipun secara online. Bahkan, bisa jadi privasi Maba lebih mudah terekspos karena mencantumkan nomor kontak di ruang publik melalui data-data yang diisi di platform. Ini membuat posisi Maba menjadi lebih rentan mengalami Kekerasan Berbasis Gender Online.

2. Merekrut Maba masuk organisasi mahasiswa

Maba perempuan sering kali ditarget untuk bergabung dengan organisasi mahasiswa agar beberapa mahasiswa senior dapat mendekatinya. Kamu pasti pernah dengar celotehan ini: “Kamu cocok masuk organisasi, ikut kaka yuk nanti kaka kenalin sama temen-temen kaka di organisasi.”

Tak jarang, ada senior yang berusaha menjadikan Maba perempuan sebagai pacar. Jika sudah jadian, perempuan kerap dieksploitasi untuk mengerjakan tugas-tugas pacarnya di organisasi. Harus hati-hati dengan modus-modus tersebut.

Baca juga: Lelaki Kiri dan Kanan Kadang Sama Saja, Suka Ngatur-ngatur

Bukan berarti masuk organisasi mahasiswa itu salah ya, tapi kita harus waspada dengan cara-cara beberapa mahasiswa senior yang bisa membuatmu merasa tidak nyaman.

Jika ingin bergabung dengan organisasi mahasiswa, carilah kakak senior yang mana kamu bisa cerita apapun dengan perasaan aman. Kalau ternyata kamu sebagai perempuan lebih aman dengan mahasiswa senior perempuan, kamu bisa meminta bimbingannya.

3. Intimidasi untuk melakukan hal-hal di luar Ospek

Intimidasi ini sering dibarengi dengan ancaman. Semisal, ungkapan seperti ini: “Jangan melawan sama senior, nanti saya buat kamu sulit kuliah di sini”. Atau, “Mau dibantuin? Cium pipi kaka dulu dong”.

Jika sebelum adanya wabah, Maba dibuat untuk mengejar-ngejar senior untuk minta tandatangan sebagai cara mengenal senior, maka bisa jadi saat Ospek daring diminta untuk mengirim foto-foto yang lain. Bahkan, bukan mustahil foto-foto intim.

Memang hal itu belum terdengar, tapi jangan lupa bahwa perempuan sering mengalami manipulasi konsensual untuk mengirimkan foto intim dengan ancaman seperti ini: “Kalau kamu nggak kirim, kamu saya putusin”.

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Bikin ‘Thread’ tentang Pengalaman Kekerasan Seksual

Sebelumnya, Jaringan Muda Setara telah mendokumentasikan modus-modus lainnya saat Ospek seperti memberi tugas “desain anatomi tubuh” hingga tugas “peragaan hubungan seksual”. Ini juga harus diwaspadai.

4. Dosen melakukan pelecehan seksual

Selain mahasiswa senior, dosen pun berpotensi melakukan pelecehan seksual terhadap Maba saat Ospek. Jaringan Muda Setara juga sempat mengumpulkan beberapa bentuk pelecehan yang dilakukan oleh dosen. Salah satunya, ungkapan bernada seperti ini: “Neng manis banget, cantik banget, orang mana sih neng?”

Tetaplah waspada, meski ia seorang dosen. Terlebih, jika ada dosen yang sering menguntit mahasiswanya melalui aplikasi daring dan menghubungi Maba di luar urusan kampus. Bentuk-bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online bisa kamu lihat di sini.

Selain itu, kita juga perlu mengenali motif-motif lainnya. Banyak yang memanfaatkan Ospek untuk kesempatan mencari pacar, menjadi ajang taruhan, ajang bercanda, ajang untuk eksis, hingga bully.

Artikel populer: Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Lantas, apa yang harus dilakukan jika mendapatkan pelecehan dan bentuk kekerasan seksual lainnya?

Segera dokumentasikan melalui fitur tangkap layar. Hal ini penting untuk dijadikan bukti saat melaporkannya. Namun sayangnya, hingga hari ini belum ada mekanisme atau prosedur yang konkret untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual di kampus-kampus. Namun, kita tetap harus berani melaporkannya kepada pihak yang berwenang di kampus.

Kita pun bisa cerita ke teman, namun pastikan teman tersebut memiliki perspektif tentang kekerasan seksual.

Kekerasan seksual saat Ospek ataupun acara lainnya harus segera dihentikan mulai sekarang. Jika tidak, kekerasan seksual di kampus akan menjadi sebuah normalisasi baru hingga ke ranah personal. Kelakuan seperti itu bisa berlanjut setelah lulus dan saat bekerja. Maka, kita mesti memutus rantai kekerasan seksual di ruang-ruang pendidikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini