Cek Lagi soal ‘Rape Culture’, Jangan Sampai Kamu Jadi Antek-anteknya

Cek Lagi soal ‘Rape Culture’, Jangan Sampai Kamu Jadi Antek-anteknya

Ilustrasi perempuan (Photo by Pim Chu on Unsplash)

Banyak yang kecewa dengan putusan MA atas kasus yang menimpa Baiq Nuril. Korban pelecehan seksual itu malah dinyatakan bersalah. Ia dijatuhi hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan. Keputusan MA berbanding terbalik dengan Pengadilan Negeri Mataram yang sebelumnya memutus bebas Baiq Nuril.

Speechless!

Nyatanya, saat dilecehkan, Baiq Nuril hanya melindungi diri, sekaligus melawan demi mempertahankan harkat dan martabatnya. Namun, dia yang harus menanggung kekalahan dan kesalahan yang dilakukan orang lain. Betapa susahnya jadi perempuan di negeri ini.

Saat bersuara, ia malah dihukum. Dihukum karena menyuarakan kebenaran? Oleh sistem hukum di negara kita?? Oleh masyarakat kita??? Bukan rahasia lagi, sebagian orang ikut menyalahkan Baiq Nuril. Bahkan, ‘hukum masyarakat’ jauh lebih kejam daripada ketukan palu hakim.

***

Perempuan penyintas kekerasan seksual sering kali tersingkirkan oleh masyarakat. Misalnya, dalam kasus pemerkosaan. Para korban kerap dianggap sebagai perempuan yang telah ternoda, kotor, tak pantas disentuh lagi, apalagi dicintai.

Baca juga: Sudah Diperkosa, Dianggap sebagai Aib Keluarga, Bisa Dipidana pula

Terlebih, korban masih satu hubungan darah dengan pelaku. Masih ada orang yang nyinyir bahkan menghujat korban. Korban ya, korban! Bahkan, seluruh anggota keluarga juga ikut jadi korban pelabelan. Boro-boro berempati, nggak dikucilkan saja sudah untung.

Nggak heran, beberapa penyintas pemerkosaan akhirnya mengalami depresi. Bukan cuma karena trauma atas peristiwa buruk yang menimpanya, melainkan tekanan dari masyarakat.

Anehnya lagi, banyak yang cenderung berempati kepada pelaku kekerasan seksual semacam pemerkosaan, jika si pelaku mau menikahi korban dengan alasan mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Duh…

Sebetulnya sebal betul kalau ngomongin kekerasan seksual terhadap perempuan. Sebalnya karena angka kejahatan ini justru meningkat setiap tahunnya, bukannya menurun. Apalagi, kalau sudah ngomongin korban kekerasan seksual di bawah umur, walah..

Terkadang saya jadi mikir, apakah ini akibat ‘budaya memerkosa’ atau rape culture di negeri ini yang menjadi biang kerok minimnya kesadaran masyarakat terhadap kasus-kasus kekerasan seksual? Bahkan, untuk sekadar berempati?

Baca juga: Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Dalam Oxford Dictionaries, rape culture adalah istilah untuk menggambarkan suatu masyarakat ataupun lingkungan yang terkesan menyepelekan pelecehan seksual. Bahkan, masyarakat memiliki tendensi untuk menyalahkan korban atau victim blaming.

Nah, kalau kamu merasa bahwa kasus kekerasan seksual merupakan sesuatu yang wajar atau menganggapnya hanya angin lalu, bisa jadi kamu adalah bagian dari rape culture. Apalagi, kamu juga ikut-ikutan memaafkan pelaku pemerkosaan yang menikahi korbannya dengan alasan ‘pertanggungjawaban’.

Menikahi korban bukan solusi atas trauma fisik dan psikis penyintas. Pendek kata, itu hanya jalan instan yang nyatanya berpihak pada pelaku. Pendek kata lagi, pelaku cari aman!

Korban yang dinikahi pelaku sebetulnya merasa tidak nyaman secara fisik maupun psikis ketika menjalani itu semua. Lagi-lagi, korban terpojok dalam situasi yang tidak berpihak. Tekanan dari keluarga dan masyarakat begitu besar.

Bahkan, banyak orang menganggap bahwa penyintas seharusnya merasa ‘beruntung’, karena si pelaku mau ‘bertanggung jawab’. Ini lho, rape culture level akut!

Baca juga: Pakaian Perempuan Dipersoalkan Terooosss… Coba deh Pahami Ini

Dari kasus itu saja, kita bisa melihat bahwa penyintas tak punya posisi tawar atas hidupnya. Alih-alih mendampingi penyintas untuk apapun pilihannya, misalnya melawan, tapi justru banyak yang mendesak agar penyintas menerima dan bersyukur atas apa yang terjadi.

Gaes… Jangan mau jadi antek-antek rape culture!

Cek lagi mulai dari peristiwa yang selama ini terkesan ‘sepele’, misalnya obrolan seksis. Kamu pernah ngomong seksis, nggak? Lalu, kalau ditegur malah nyolot. Bilangnya, “Cuma bercanda.” Tetap saja itu seksis cyynnn, ngawur lah.

Belum lagi, omongan yang cenderung memaklumi tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dengan alasan, “Yah, namanya juga lelaki, ya gitu deh. Kucing kalo dikasih ikan asin tetep nggak nolak lah!”

Ya kali, kucing juga nggak gitu-gitu amat, keleus…

Semakin jelas lah ya, rape culture yang terjaga dan dijaga menjadi momok bagi para perempuan. Mirisnya, budaya ini juga dilanggengkan, bahkan dilegalisasi oleh sejumlah perangkat hukum.

Alhasil, muncul beberapa peraturan di sejumlah daerah yang menguatkan perilaku victim blaming, mulai dari aturan pakaian khusus bagi perempuan, jam malam bagi perempuan, hingga pemisahan tempat parkir.

Artikel populer: #MeToo, karena Kita Harus Berhenti Terbiasa pada Penjahat Kelamin

Aturan-aturan tersebut justru membuat timbangan antara laki-laki dan perempuan semakin tidak berimbang, lebih berpihak kepada laki-laki. Misalnya, aturan soal pakaian khusus bagi perempuan. Aturan itu dibuat bukan cuma alasan syariat agama, melainkan agar lelaki tak tergoda dengan busana yang dikenakan perempuan.

Padahal ya, sudah banyak kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan berjilbab sekalipun. Bahkan, pelecehan seksual juga terjadi di tempat yang suci, ketika sedang beribadah pula.

Ini masalah pakaian atau otakmu saja yang mesum sih? Alih-alih mengedukasi para lelaki untuk mengendalikan hawa nafsu, eh malah menyalahkan pakaian perempuan. Nyatanya, yang bermasalah adalah si pelaku, bukan korban.

Masalah pakaian adalah satu dari sekian buanyakk contoh rape culture dalam masyarakat kita. Begitu juga dalam kasus yang dialami Baiq Nuril. Giliran pelaku yang terpojok, kerap muncul ‘kesepakatan damai’. Yuk, kita hijrah dari masyarakat yang melanggengkan rape culture ke masyarakat yang berpihak pada korban.

((( hijrah )))

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.