Ilustrasi pasangan (Image by Free-Photos from Pixabay)

Film Fantastic Beasts and Where to Find Them sempat menuai kontroversi ketika tayang pada 2016. Sebab, tokoh Grindelwald – penyihir hitam besar pada masanya sekaligus crush Albus Dumbledore semasa sekolah – diperankan oleh aktor Johnny Depp.

Penonton memprotes JK Rowling, orang di balik universe Harry Potter, karena bekerjasama dengan Johnny Depp. Alasan penonton? Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di balik perceraian Johnny Depp dan Amber Heard.

Keduanya adalah aktor dan aktris besar di layar lebar, baru menikah 18 bulan sebelum akhirnya resmi bercerai. Dari kasus perceraian, Amber Heard mengaku dirinya adalah korban kekerasan Johnny Depp, baik fisik maupun verbal.

Kemudian, Amber Heard diangkat jadi duta anti-KDRT. Ia menulis untuk kolom sebuah media, mewakili perempuan yang berani berbicara setelah menjadi korban kekerasan. Penggemar Heard menyerang Depp, mendesak beberapa rumah produksi untuk menyelesaikan kontrak kerja dengan ‘si penjahat’. Depp sendiri harus membayar tunjangan sesuai gugatan yang disepakati.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Kalau kamu berpikir kasus ini akhirnya selesai, wah tunggu dulu. Per Maret 2019, Johnny Depp kembali maju ke pengadilan dan menuntut mantan istrinya atas pencemaran nama baik. Timnya percaya apa yang Amber Heard lakukan adalah manipulasi demi popularitas. Jelas, Heard nggak terima. Ia menegaskan posisinya sebagai korban, bahkan menyebut Depp sebagai ‘monster’.

Perang tuduhan berlanjut hingga akhirnya, belum lama ini, rekaman audio berisi percakapan Depp dan Heard terkuak di publik. Dalam potongan suara tersebut, Heard mengakui dirinya memukul Depp: “I did not punch you. I was hitting you!”

P.S: Baik punch maupun hit bisa menjadi aksi kekerasan. Sorry, Nona Heard.

Perhatian publik tersita lagi. Kalau tuntutan Depp benar dan Heard hanya memanipulasi seluruh cerita (beberapa pihak bahkan menganalisis dan meyakini bahwa bekas lebam di wajah Heard adalah luka palsu), seberapa mengejutkannya ini semua?

Bagaimana kasus Depp dan Heard bakal berakhir memang masih menjadi misteri, tapi begitu seringnya kasus kekerasan dan manipulasi muncul dalam hubungan romantis sungguh memprihatinkan.

Kenapa sih, orang-orang yang tadinya tersenyum manis sambil membuai dengan kata-kata cinta, tahu-tahu malah menyeringai dan bersikap kasar? Kenapa ada orang yang akhirnya memutuskan untuk melakukan abuse dan manipulasi? Apa penyebabnya dan apa yang ingin ia sampaikan?

Baca juga: Bucin atau Tidak, Hati-hati dengan ‘Gaslighting’

Satu dari tiga orang mengaku pernah mengalami kekerasan dalam hubungan. Kontrol menjadi salah satu alasan dalam abusive relationship. Orang-orang cenderung merasa berhak atas pasangannya sampai-sampai merasa bisa melakukan apa pun. Padahal, mau apa pun alasannya, kekerasan tetap saja bukan sesuatu yang oke dan nggak pernah bisa jadi keputusan yang tepat dalam permasalahan hubungan.

Saya yakin kamu sudah mendengar ini ratusan kali: kekerasan bukan cuma soal fisik. Ada yang disebut dengan kekerasan verbal atau kekerasan psikis. Emosi seseorang bakal ditekan habis-habisan dan tak ada seorang pun yang tahu selain dirinya sendiri dan pasangannya – si pelaku kekerasan.

Manipulator, si pelaku kekerasan mental, sering kali menunjukkan sikapnya yang pasif-agresif alias juara hipokrit sedunia. Contoh yang sederhana, seorang kekasih yang kelewat menuntut mungkin bakal bicara, “Kalau kamu nggak makan sama aku malam ini, aku bakalan sedih banget.”

Meski terkesan sepele, kalimat itu sebenarnya cukup berbahaya. Si penutur tampak sedang menunjukkan bahwa pacarnya memiliki ‘hak istimewa’ atas dirinya, tapi ia juga sekaligus ‘melemparkan’ tanggung jawab atas keadaan emosinya sendiri pada si pacar. Maksud saya, helloo… ngapain sih maksa-maksa orang lain untuk bersama denganmu?

Baca juga: Menjadi ‘Survivor’ Patah Hati, Termasuk dari Teman yang Positif tapi Beracun

Contoh lainnya, dia bakal bilang nggak apa-apa kalau kamu makan kue bagiannya, tapi tiap kali kamu melakukannya, dia akan bersikap seperti korban yang makanannya dirampas tanpa persetujuan.

Mengerikannya, manipulator bahkan bisa berbuat lebih jauh daripada itu.

Ada banyak ciri-ciri kekerasan dalam pacaran yang bisa kamu baca dan pelajari. Tapi, menghadapi dan menghindarinya, itu adalah hal yang lain.

Melanie Tonia Evans, seorang ahli dalam bidang recovery bagi penyintas hubungan dengan orang-orang narcissistic, pernah menulis bahwa asal usul sikap manipulatif adalah perasaan takut, yaitu ketakutan ditinggal oleh pasangan dan takut merasa tidak diinginkan.

Dalam kasus Depp dan Heard, misalnya, ada lagi rekaman audio yang menunjukkan bahwa Heard menolak gagasan keduanya berpisah, tapi ia tidak bisa berjanji tidak bakal “get physical again” di masa depan karena terkadang dia merasa sangat marah dan… lose it.

Begini. Hubungan romantis itu, kan, dibangun oleh dua manusia. Manusia, tentu saja, akan sangat mungkin melakukan kesalahan. Tapi, menjadikan semua beban salah dan ‘dosa’ hanya di pundak partner-mu saja adalah perbuatan paling tidak fair dalam komitmen berdua.

Artikel populer: Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Menjadi pelaku manipulasi memang akan membuatmu merasa ‘aman’ dan diuntungkan, tapi korbannya bakal mengalami trauma yang cukup panjang, bahkan tanpa ia sadari. Jadi, kenapa harus merasa kamu lah yang wajib diinginkan dan dipuaskan, alih-alih mendengar juga kebutuhan kekasihmu?

Hati-hati. Kasus Johnny Depp dan Amber Heard adalah contoh yang nyata dari dua paragraf terakhir. Amarah dan emosi tentu hal wajar dalam hubungan, tapi kekerasan dan manipulasi? Oh, tunggu dulu.

Dan, ya, kita semua perlu berhati-hati; nggak peduli kamu laki-laki atau perempuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini