Catatan untuk Kamu yang Terobsesi dengan Anak “Blasteran”

Catatan untuk Kamu yang Terobsesi dengan Anak “Blasteran”

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Belakangan saya semakin sering menerima pesan dari teman lama yang bertanya kapan punya anak, atau lebih tepatnya menyuruh punya anak. Bahkan, ada yang sampai bilang, “Cepetan loh, keburu tua, udah mau expired.”

Enak betul suruh-suruh punya anak macam titip beli pecel di pinggir jalan. Padahal, belum tentu juga orang mau membawa manusia baru ke dunia yang udaranya semakin buruk, iklimnya semakin berantakan, suhunya sudah naik satu derajat Celcius, penuh perang, juga penuh kebencian terhadap perbedaan.

Kebanyakan kawan lama yang menggadang-gadang agar saya segera punya anak ini selalu mengatakan bahwa mud blood anak berdarah campuran antara orang Indonesia dengan ras berkulit putih bakal lebih cakep dan lebih lucu. Mereka terobsesi betul dengan itu.

Katanya, bayi-bayi “blasteran” lebih menggemaskan, lalu akan jadi ganteng dan cantik ketika dewasa.

Bahasa Inggris mengistilahkan hal ini sebagai fetishizing. Obsesi terhadap ras campuran ini masuk dalam kategori racial fetishism. Kurang lebih bisa diartikan sebagai obsesi terhadap ras tertentu.

Salah satu contoh racial fetishism ini adalah laki-laki kulit putih yang terobsesi memperistri perempuan Asia karena dianggap submisif dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa disuruh-suruh, namun liar di ranjang.

Lebih parah lagi, fetishizing yang berkelindan dengan politik warna kulit ini diamini dan diterima luas oleh masyarakat Indonesia sebagai sesuatu yang biasa saja.

Baca juga: Pacaran atau Kawin dengan ‘Bule’ Sama Aja, Nggak Usah Lebay, Keleus…

Pernah dengar istilah memperbaiki keturunan? Tak jarang pelaku kawin campur sendiri percaya pada retorika memperbaiki keturunan, berharap anaknya nanti akan terlahir dengan ciri-ciri fisik Kaukasian tertentu.

Mereka seolah mengamini bahwa orang Indonesia tidaklah sebaik ras berkulit putih, sehingga harus diperbaiki keturunannya.

Pemujaan terhadap anak “blasteran” ini juga semakin dikukuhkan oleh wajah-wajah artis sinetron dan model-model yang kebanyakan memiliki fitur ras campuran. Banyak yang berpikir bahwa anak-anak seperti itu bakal gampang menjadi selebriti.

Obsesi pada bentuk fisik ini tentu menyakitkan. Sebab, kedirian anak manusia direduksi menjadi ciri-ciri fisik saja.

Tidak hanya di Indonesia, persoalan ini juga terjadi di negara-negara lain. Di Amerika Serikat, banyak yang terobsesi pada manusia dengan ras campuran kulit putih dan hitam. Mereka berharap perkawinan campur dapat menghasilkan anak dengan mata berwarna terang seperti hazelnut, namun dengan warna kulit cokelat muda dan rambut yang tak hitam legam.

Seperti di Indonesia, obsesi ini tak terlepas dari anggapan bahwa ras berkulit hitam tidaklah sebaik dan secantik kulit putih. Bedanya, tidak seperti di Indonesia yang terobsesi pada kulit putih, di negara-negara maju banyak yang beranggapan orang Kaukasian juga kurang cantik karena kulit putihnya dianggap terlalu pucat.

Padahal, bagaimana kalau akhirnya si anak-anak campuran tidaklah memiliki ciri fisik yang diharapkan? Bagaimana kalau kulitnya tetap cokelat gelap, sementara mata dan rambutnya hitam kelam? Bagaimana kalau hidungnya tidak mancung dan tetap pesek ala Indonesia?

Lantas, apakah si orang tua yang terobsesi ini akan kecewa? Apakah anak ini akan dianggap kurang atau tidak cantik? Apa mereka dianggap produk gagal?

Baca juga: Habis dari Luar Negeri, Terbitlah Gegar Budaya

Persoalan memperbaiki keturunan ini ujung-ujungnya cuma romantisasi fitur campuran dengan ciri-ciri Kaukasian yang kuat. Mental semacam ini sama saja menganggap bahwa ras Indonesia lebih rendah dari kulit putih.

Kalau sudah begini, anak sudah macam anjing dan kucing saja, dikawin-mawin silang agar mendapatkan produk yang disukai oleh konsumen. Padahal, breeder anjing dan kucing saja sudah banyak dikecam para pencinta binatang.

Ironinya, lantaran rasisme dan prasangka, hidup anak “blasteran” justru lebih rumit daripada anak biasa.

Dalam Bumi Manusia, yang semoga saja nggak bikin emosi-emosi amat ketika filmnya muncul di bioskop, Robert Mellema kesulitan diterima oleh komunitas Belanda karena kulitnya yang lebih gelap dibandingkan orang Eropa lainnya. Sementara, Annelies Mellema juga sulit menjadi Jawa seutuhnya lantaran fiturnya yang sangat Eropa.

Hal itu masih terjadi hingga sekarang, anak-anak “blasteran” bingung menempatkan diri di masyarakat, Indonesia tidak, Inggris juga cuma setengah. Banyak dari anak-anak ini kemudian tidak bisa berbahasa seperti kedua orang tuanya.

Seorang teman yang hidup berpindah-pindah negara, tidak berbicara Bahasa Inggris dengan logat Australia seperti ayahnya, tidak juga bisa berbahasa Melayu seperti ibunya. Akhirnya, dia berbicara Bahasa Inggris dengan logat “internasional”, sebagaimana sering ditemukan di sekolah-sekolah internasional.

Artikel populer: Beberapa Bagian Penting dari ‘Crazy Rich Asians’ yang Perlu Dicermati

Belum lagi, perlakuan rasis dari masyarakat. Misalnya, adik ipar saya yang memiliki ciri-ciri fisik India yang lebih kentara dibandingkan kakak-kakaknya, seringkali mendapat perlakuan tidak baik dan dirundung lantaran penampilan fisiknya. Masa kecilnya tak semudah kakak-kakaknya yang terlihat lebih Kaukasian.

Lima tahun lalu, National Geographic pernah menerbitkan edisi khusus tentang semakin banyaknya anak dengan ras campuran di Amerika Serikat. Meski edisi ini diklaim ingin menunjukkan keberagaman, banyak pertanyaan tentang apakah anak-anak ras campuran menunjukkan bahwa rasisme semakin berkurang?

Jawabannya, tidak. Kaukasian yang menikah dengan kelompok ras lain tetap bisa rasis terhadap pasangan dan anaknya.

Banyak cerita yang menggambarkan bagaimana ayah atau ibu yang berkulit putih dari anak “blasteran” sering kali tidak sensitif dan melontarkan rasisme kasual kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mengejek ketika anak-anaknya mencoba mempelajari bahasa dari ras pasangannya.

Sebab itu, jangan punya anak jika hanya ingin agar anak tersebut menampilkan ciri ras tertentu. Semua anak, apapun ras dan latar belakangnya, adalah berharga. Ide-ide rasis tentang penampilan fisik ini tak seharusnya ditekankan kepada anak-anak.

Jika memutuskan untuk punya anak berdarah campuran, kita harus sadar dan paham segala kerumitan yang akan dialami anak, dan jangan menjadi beban tambahan bagi si anak.

2 COMMENTS

  1. Gak ada yg salah kalau pengen punya keturunan ras campuran, toh niatnya pun untuk hal positif. Tapi kadang2 org terlalu sinis menanggapinya. Well, pada akhirnya warna kulit, rupa wajah, gak bakal ngaruh. Yang jadi penting itu bukan rasnya apa, tp apa yg orang itu lakukan.

    • Memang tidak salah, kan yg dibahas obsesi yg berlebih untuk punya anak ras campuran. Dan anggapan “wow” pd anak yg rasnya campuran. Bahasa sederhananya, kalau nikah sm bule. Pasti anaknya bagus lah, karirnya gampang nnti.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.