Ilustrasi: Pixabay

Ketika upaya untuk memberikan perlindungan bagi korban kekerasan seksual diupayakan dalam RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS), dan Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), muncul reaksi dari netizen lelaki yang begitu menggelitik. Bunyinya, “Wah kalau saya naksir sama orang dan mau deketin, bisa dianggap pelecehan seksual dong?”

Baiklah, mari kita bayangkan jika dirimu naksir dengan seseorang dan kamu ingin mendekatinya alias PDKT. Atau sebaliknya, ada yang naksir kamu dan ternyata kamu naksir balik, namun saat ia mendekatimu ia mengatakan hal-hal yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dan bikin kita il-feel. Kira-kira kamu akan lanjut PDKT atau tidak? Pastinya tidak. Apalagi, kalau cara mendekatinya terkesan seperti merendahkan kamu dan mengganggumu. Lebih parah, ketika pas awal-awal kenal malah minta foto telanjang.

Kalau ditanya apa saya pernah ditolak ketika mendekati seseorang? Tentu saja pernah. Sering malah. Tapi saya tak akan mendekati orang menggunakan cara yang menseksualisasi mereka. Kalau ditolak, saya akan menghormati keputusannya. Kalau ditolak berinteraksi itu artinya dia tidak tertarik denganmu. Jadi, kenapa memaksa?

Baca juga: Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

Respons serupa juga tercatat dalam jurnal Organizational Dynamics berjudul “Looking Ahead: Now What We Know About Sexual Harassment Now Informs us of the Future” oleh Leanne E. Atwater et.al. Sejak gerakan #MeToo yang membuka ketabuan dalam membicarakan kekerasan seksual, dilakukan sebuah survei yang menyatakan bahwa 16% lelaki lebih takut untuk mempekerjakan perempuan yang dianggap berpenampilan menarik dan 15% baik lelaki maupun perempuan takut mempekerjakan perempuan untuk tugas yang membutuhkan interaksi personal seperti dinas.

Banyak lelaki menjadi takut berinteraksi dengan perempuan karena takut dianggap sebagai pelecehan seksual. Mereka menolak bekerja dengan perempuan yang berpenampilan menarik karena takut dianggap melecehkan. Hal ini berujung pada diskriminasi perempuan dalam kesempatan bekerja.

Bukankah seharusnya orang dipekerjakan karena kemampuannya, bukan karena penampilannya atau karena kamu mengganggap dia menarik? Kenapa lelaki bingung dan takut dianggap melecehkan? Apakah karena dia tidak tahu batasan? Ataukah sebenarnya ia tahu, tapi tak mau mengakuinya dan lebih memilih untuk melakukan pelecehan seksual?

Lalu, jika kita menganggap seseorang menarik, apakah kita akan membuatnya merasa tak nyaman di sekitar kita? Bagaimana membedakan apakah pendekatan kita membuat nyaman atau tidak?

Baca juga: Apakah Beauty Privilege Benar-benar Ada?

Nah, cara membedakannya adalah apakah kamu akan mengatakan hal-hal yang dianggap tidak nyaman kepada rekan kerja yang kamu anggap tak menarik? Kalau kamu naksir seseorang pastinya kamu menghormatinya dong, bukan malah ingin mendominasinya secara seksual kan?

Sebenarnya lelaki tahu batasan, tapi kenapa lelaki membiarkan dirinya melakukannya? Jika kita tertarik dengan seseorang atau ada orang yang dianggap memiliki penampilan menarik, tak bisakah kita berperilaku wajar selayaknya dengan rekan kerja lainnya yang kita anggap tak menarik?

Penulis Arwa Mahdawi dalam artikelnya di Guardian menyatakan bahwa temuan serta pernyataan yang menyatakan lelaki takut dituduh melecehkan ini cenderung menyalahkan korban kekerasan seksual. Daripada takut dan menghindari perempuan, bukankah lebih baik mengevaluasi diri dan membenahi perilaku kita? Tidakkah bisa kita bersikap wajar selayaknya kita bersikap dengan orang lain yang kita hormati?

Lelaki yang merasa takut tersebut memilih untuk meluapkan kemarahan akibat gerakan melawan pelecehan seksual kepada perempuan.

Baca juga: Perempuan Melajang di Usia 30-an, Julidnya Warga Mana Tahan…

Mirip dengan stereotip perempuan galak yang bunyinya, “Awas perempuan gak boleh galak, nanti susah dapat jodoh karena lelaki akan takut mendekati.” Perempuan galak adalah respons umum untuk perlindungan diri dari pelecehan seksual. Lagi pula, siapa sih yang tidak marah ketika dilecehkan? Dan, siapa pula yang ingin berjodoh dengan pelaku kekerasan seksual?

Stereotip perempuan galak diciptakan untuk membuat perempuan tunduk, pasif, submisif, dan mudah dimanipulasi oleh masyarakat patriarkis. Tentunya stereotip ini adalah bentuk upaya untuk menyalahkan perempuan dan orang-orang yang rentan menjadi korban kekerasan seksual.

Lantas, bagaimana mengekspresikan diri jika suatu saat nanti ingin ada interaksi yang melibatkan sentuhan? Kalau kamu naksir dan menyukai seseorang, pasti akan menghormatinya.

Saya teringat cerita seorang teman ketika hendak berpisah dengan temannya yang kini menjadi suaminya. Awal-awal pendekatan sebagai teman, sang lelaki menanyakan kepada teman saya, “Bolehkah saya memeluk kamu?” Kemauan seseorang untuk menanyakan izin menandakan bahwa ia menghormati orang lain. Justru berani menanyakan izin, itu bikin nilai plus buat kamu kalau kamu ingin mendekati seseorang.

Artikel populer: Pacaran Lama-lama Terus Putus, Rugi Nggak sih?

Sama halnya dengan pertanyaan yang diajukan seorang teman yang pernah dekat dengan saya beberapa tahun lalu. Dia seorang lelaki yang bahkan baru pertama kali bertemu, walaupun kami sudah berinteraksi cukup lama secara digital. Ia bertanya, “Maukah kamu memelukku?” Saya yang suka jadi makin suka, karena dia menghormati saya.

Tentu saja hal itu diutarakan ketika interaksinya sudah terjadi cukup lama, sehingga keduanya sudah tak canggung lagi. Kita pun tidak boleh berasumsi apakah dia menginginkannya atau tidak.

Penting sekali mengkomunikasikan apa yang hendak kita lakukan dengan meminta persetujuan. Karena jika tidak, kita melanggar ruang dan batasan seseorang. Nah, gimana? Nggak sulit kan PDKT sama seseorang tanpa melecehkan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini