Cara Menerima Kekalahan Agar Tak Berakhir di Rumah Sakit Jiwa

Cara Menerima Kekalahan Agar Tak Berakhir di Rumah Sakit Jiwa

Ilustrasi (Photo by Florian Pérennès on Unsplash)

Bertel (bukan nama sebenarnya) sempat menjadi caleg pada pemilu 2014 lalu. Namun, ia gagal mendapat kursi empuk di DPR. Sebagai gantinya, ia mendapat kursi dan bangsal gratis di rumah sakit jiwa. Sudah lima tahun ia di sana dan tak kunjung sembuh.

Ada pula Bagong. Ia caleg pada pemilu 2019. Namun, setelah tahu tak satu pun warga di kampung A yang memilihnya, besoknya Bagong mendatangi rumah warga untuk meminta kembali semua yang pernah diberikan. Orang menyebutnya hampir ‘gila’.

Kisah Bertel dan Bagong bukan bohongan. Mereka benar ada. Pada setiap momen pemilihan umum, cerita tentang mereka biasanya menjadi santapan manis media massa. Kemudian, berseliweran di media sosial dan menjadi olok-olokan.

Tapi saya memilih untuk tidak mengolok-ngolok mereka. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga manusia. Mereka hanya tak mampu menerima kekalahan hingga akhirnya terpuruk tak berkesudahan. Ketika akal sehat tak lagi berfungsi baik, biasanya memang akan menyerempet pada gangguan kejiwaan.

Baca juga: Bacaan sebelum Anda Marah-marah

Mereka juga bukan orang bodoh. Malah ada yang sangat cerdas. Dulu, ada seorang tetangga, otaknya encer banget. Orang sekampung bahkan mengakui kecerdasannya. Saking cerdasnya, sejak SD hingga SMA, ia tak pernah absen peringkat satu di kelas. Tapi kemudian berakhir di pasung. Sebagian orang menyebutnya ‘gila’, mungkin karena terlalu cerdas.

Ketika itu, saya langsung membentengi diri untuk tidak belajar terlalu keras. Takut berakhir di pasung juga. Tapi seiring waktu, muncul sebuah kesimpulan bahwa cerdas itu bukan jaminan orang bisa bersikap bijak. Toh, sudah banyak contoh bagaimana orang-orang cerdas juga melakukan hal-hal bodoh.

Pada pemilu 2019 ini, topik soal kecerdasan menyeruak dan ramai diperbincangkan. Ada yang menyebutnya akal sehat versus kedunguan. Namun, tampaknya, masih banyak orang yang gagal paham soal ini. Sebab, konteks politik sangat mempengaruhi cara pandang seseorang.

Baca juga: Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

Menurut Karl Albrecht dalam bukunya, Practical Intelligence: The Art and Science of Common Sense, seni berpikir dengan akal sehat berarti cara kita menghindari keputusan yang irasional. Sebab, manusia punya kebiasaan merasa diri paling benar, yang bikin kita kesulitan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Merasa paling benar akan sulit mencegah munculnya pikiran picik. Juga cenderung tak mau menerima gagasan baru yang lahir dari orang lain. Alhasil, ini akan mempengaruhi kita saat mengambil keputusan. Maka jangan heran, jika kemudian bertemu orang yang dengan entengnya bilang dungu atau bahkan kafir ke orang lain.

Lalu, mengapa orang yang kalah dalam satu kompetisi biasanya gagal menggunakan akal sehat?

Untuk itu, kita bisa belajar dari Elisabeth Kübler-Ross tentang ilmu kehilangan. Dalam buku On Death and Dying, psikiater asal Swiss itu melahirkan teori yang disebut ‘Lima Tahapan Dukacita’. Bahwa pada dasarnya, orang yang kehilangan akan mengalami penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, hingga kembali pada proses penerimaan.

Baca juga: Beres-beres Medsos Ala Marie Kondo Biar Hidup Lebih Selo

Dalam banyak kasus, teori ini selalu dikaitkan pada situasi kekalahan seseorang. Sangat wajar, pada awal-awal satu kompetisi akan ada yang menyangkal. Utamanya bagi pihak yang kalah. Emosi berlebih juga akan muncul. Lalu, akan melakukan tawar-menawar baik dengan dirinya maupun orang lain. Kalau gagal bisa berakhir depresi atau malah kembali menerima kenyataan.

Persimpangannya sangat jelas. Kita bisa mengaitkan teori Kübler-Ross dengan caleg gagal yang berakhir di rumah sakit jiwa. Namun, beruntungnya masih banyak orang yang kalah tapi mau berdamai dengan kenyataan.

Saya tak ingin serampangan menyimpulkan bagaimana kebiasaan ini menjangkiti banyak orang. Namun, Igor Grossmann dalam risetnya berjudul A Route to Well-being: Intelligence versus Wise Reasoning, mengungkapkan, orang yang berpikir kritis lebih mampu menghindarkan hal buruk dalam hidupnya. Malah cenderung memiliki hubungan sosial yang sehat.

Kecerdasan, menurut Grossmann, gagal menjadi tolak ukur seseorang dalam bersikap dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Artikel populer: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Saya lantas merefleksikan hal ini dengan kekalahan yang pernah saya alami. Memang berat. Saya pikir semua orang pernah mengalami kekalahan. Pada posisi ini, terkadang kita melakukan hal-hal bodoh. Secerdas apapun kita menilai diri sendiri. Bahkan kita mengajak orang lain untuk ikut merasakan kebodohan itu.

Jika itu terjadi pada kelompok kecil, dampak kerusakan akibat tak menerima kekalahan tersebut hanya berdampak pada kelompok itu saja. Tapi, jika melibatkan organisasi yang sangat besar, semisal Indonesia, tentu dampaknya akan dahsyat.

Pada kondisi seperti itu, kita membutuhkan orang yang bukan cuma cerdas, melainkan mampu berpikir kritis. Hanya dengan begitu, kita bisa dengan mudah memakai akal sehat untuk melihat satu peristiwa. Biar keputusan yang diambil tetap bijaksana.

Ini juga sebagai bentuk kontribusi kita untuk mengurangi pekerjaan petugas di rumah sakit jiwa.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.