Tips Menghadapi Pertanyaan Calon Mertua dari Suami Ceria!

Tips Menghadapi Pertanyaan Calon Mertua dari Suami Ceria!

Ilustrasi (Sweet Ice Cream Photography/unsplash.com)

Lima tahun terakhir adalah musim kawin bagi angkatan milenial yang dulu tiap minggu mantengin TV dari pagi, sore main layangan, punya presiden namanya Harto, dan sekarang sudah dihadapkan kenyataan: satu per satu teman mainnya gendong anak.

Dan, akan tiba suatu masa, dimana mereka akan menghadapi pertanyaan basa-basi sok akrab paling legendaris dalam sejarah umat manusia, “Kapan nikah?”

Pertanyaan ‘kapan nikah’ memang tidak mudah dijawab hanya dengan ‘ya’ atau ‘tidak’. Dibalik setiap jawaban menimbulkan konsekuensi lebih lanjut. Dengan mengatakan ‘ya’, pertanyaan tak kalah pentingnya siap menanti, “Sudah kerja di mana?”

Kalaupun dijawab ‘tidak’ atau ‘belum’, situasinya bisa makin runyam. Yang paling jleb dan slep kalau secara serampangan dibilang, “Masih betah njomblo? Ntar perjaka/perawan tua lho!”

Tapi kalau cibiran pertanyaan itu datang dari sahabat, mungkin bisa dibalas dengan senyuman sinis. Lha ini, ada pejabat yang kerjaannya single-shaming ngomongin jomblo. Giliran lagi asyik berduaan di taman membicarakan masa depan sambil diiringi kicauan burung yang syahdu nan merdu tralala-trilili, malah dicekrek terus di-upload.

Itu namanya persekusi!

Jadi yang otaknya mesuman, siapa?

Balik lagi ke pertanyaan ‘kapan nikah’. Memang, kalau itu bacotan sahabat, bisa ditanggapi dengan ‘selow’. Tapi, bagaimana kalau yang nanya adalah orang tua pacar atau calon mertua? Matiii…

Usia dua puluhan adalah masa rintisan. Yang baru lulus masih bingung cari kerja. Yang kerja masih harus nabung. Masa gaji Rp 25-30 juta per bulan nggak bisa nabung, eh?

Pada masa inilah, terutama antara usia 25-29, seseorang akan merasa lebih sensitif dengan pertanyaan tentang komitmen pernikahan. Menjawab pertanyaan keseriusan hubungan apalagi kesiapan nikah, tidak sebercanda seperti mengatakannya di program acara televisi.

Dengan usia muda, kalaupun sudah punya sedikit uang, belum tentu mentalnya siap. Sebab berkompromi dengan sifat jelek pasangan dan sederet zona tak nyaman lainnya, lebih penting dari sekadar urusan bercinta di malam pertama.

Tak heran, pasangan yang mau menikah, setidaknya setahun sebelumnya sudah pusing. Apalagi yang belum siap mental dan finansial, tapi sudah ditarget pacar atau camer untuk nikah tahun depan. Alhasil, RAM otak makin menipis dan hidup sering nge-hang.

Intinya, pernikahan bukan sekadar habis ‘sah’ lalu ‘ahh’. Kamu masih harus berjuang untuk mandiri. Makan nggak makan, urusan suami-istri. Bukan suami atau istri saja, apalagi mertua.

Nah, kalau kamu yang kebetulan akan atau sedang menjalani fit and proper test dari calon mertua, yang lebih menegangkan dari sekadar pertanyaan-pertanyaan anggota DPR, bolehlah menyimak tips-tips berikut ini:

1. Serius sama anak saya?

Kalau memang tidak ada masalah, jawab aja, “Kalau saya sih yes.” Selesai. Beda cerita kalau kamu dan pacarmu baru jalan dua bulan sudah ditanya begituan. Belum juga mengenal lebih dalam, ehm, sudah diinterogasi mau nikahin atau cuma iseng? Ya kali, kalau iseng mah main TTS Cak Lontong, wahai bapak-ibu…

Gini lho, menikah itu katanya untuk selamanya. Ya kan butuh waktu untuk mengenal pasangan, terutama sifat buruknya. Sebab mengenal sifat baik saja hanya akan berakhir dengan ucapan, “Kamu terlalu baik buat aku.”

Coba deh, belajar dari Soe Hok Gie, bagaimana caranya mencintai Indonesia yang tak hanya dari keindahannya, melainkan juga soal kebobrokannya. Dari indahnya alam hingga kemiskinan warga.

Sama seperti mengenal pasangan, masa pacaran adalah waktu terbaik untuk saling memperbaiki sifat buruk. Kalau seandainya memang nggak sreg, ya putus saja. Terlebih, hubungan yang berjalan tidak sehat alias toxic relationship. Masa baru pacaran sudah main kekerasan, ada lho!

Uniknya, sudah tahu begitu, masih banyak pasangan yang tetap bertahan. Alasannya klasik, masih cinta. Halah… cinta juga nggak segitunya, keleus… Cinta kekerasan gitu?

Nah, untuk menjawab pertanyaan ‘serius sama anak saya’ yang meluncur dari calon mertua, kamu bilang saja, “Bapak, Ibu, beri saya waktu untuk mengenal sifat buruk anak Anda. Sebab pernikahan yang diisi sifat buruk lebih tepat disebut neraka.”

Saya jamin, calon mertua akan terpukau! Lha, hari gini, semua orang berlomba-lomba menghindari neraka. Lihat saja sekarang, banyak orang merasa paling ‘agamis’, merasa paling berhak mengkavling tanah surga.

2. Sekarang kerja di mana?

Pertanyaan ini sebetulnya untuk memastikan kelangsungan hidup anak si calon mertua. Setidaknya pacarmu itu tidak kelaparan nantinya. Kalau memang sudah kerja di tempat yang dianggap baik, silakan dijawab saja.

Yang jadi masalah adalah beberapa orang merasa kurang percaya diri dengan profesinya. Belum lagi anggapan kuno yang masih lestari hingga kini bahwa bekerja sebagai PNS adalah jaminan masa depan.

Tidak dipungkiri, urusan pekerjaan sebagai sumber utama penghasilan keluarga sangat penting, terlebih di era seperti sekarang ini. Seperti kata Cak Nun, “Teruslah bekerja, jangan berharap kepada negara.”

Jangan nekat, kalau memang belum siap mental dan finansial. Menikah bukan cuma urusan syahwat. Tak semudah anjuran menyesatkan akun-akun mahasiswa di media sosial yang bilang, “Kau haus? Minum. Lapar? Makan. Bokek? Nikah, biar ada yang nafkahin.”

Kan absurd!

Menikahlah, kalau kamu sudah percaya diri dengan kesiapan mental dan finansial. Tapi, kalau tetap diragukan oleh calon mertua, dan lamaran ditolak, ingatlah Kendrick Lamar, “be humble”. Percayalah, Tuhan menyimpan untukmu, dia yang menemanimu berjuang… 🙂

3. Kalau sudah nikah mau tinggal di mana?

Urusan tempat tinggal juga gampang-gampang susah. Gampang kalau cuma bilang DP 0 rupiah saat kampanye, tapi nyatanya harga rumahnya, eh rusun, tetap susah dijangkau.

Tapi memang, ada baiknya setelah menikah sudah punya rumah sendiri agar mandiri. Kamu bisa lebih independen mengatur rumah tangga. Campur tangan orang tua atau mertua membuat objektivitasmu menurun.

Kalau belum sanggup beli tunai, mengontraklah rumah kecil-kecilan atau kos pasutri, sambil nyicil KPR. Masa iya, generasi milenial – seperti yang dikatakan orang-orang – sulit punya rumah sendiri gegara kebutuhan gaya hidup?

Maka, bilang ke calon mertuamu, “Kami akan beli rumah dengan cara menyicil, sebab cicilan adalah koentji!” Lha, bagaimana tidak, memang apa yang menggerakkan perekonomian Indonesia? Daya beli? Bukan! Daya cicil…

4. Mau punya anak berapa?

Belum juga ‘sah’ dan ‘ahh’ sudah ditanya beginian. Sekali lagi, menghadapi calon mertua memerlukan skill diplomasi mendekati Jusuf Kalla.

Banyak pasangan mendambakan buah hati. Menjawab dengan angka tertentu, seperti 2 atau 3, tidaklah buruk. Tapi kalau memang mau menunda punya momongan, katakan saja, “Ya, nanti se-dikasihnya sama Tuhan.”

Pertanyaan ini tak perlu dianggap serius, tapi juga jangan terlalu dibuat candaan. Jawab saja dengan normatif. Tapi memang, yang repot, kalau ketemu dengan calon mertua yang ningrat banget, yang mengharuskan punya anak untuk melestarikan garis keturunan dan kekayaan hingga tujuh generasi.

Layaknya mbah Harto, yang daripadanya anak cucu diupayaken makmur, maka seyogianya beranak-pinaklah. Iya sih mbah, buktinya anak-anak dan mantan mantu bisa bikin partai masing-masing, ehm…

5. Kalau nikah besok kamu siap?

Ini dia yang ditunggu! Ya katakan saja, “Siap!” Lha, memang buat apa tips-tips receh tadi ditulis?

Hahaha…

Kuncinya, kalau memang siap menikah, bolehlah berjanji tapi jangan lebay. Memangnya pilpres atau pilkada? Itu saja tips-tips bagaimana menghadapi pertanyaan calon mertua dari saya.

Ttd,

Suami ceria!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.