Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas...

Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Ilustrasi (pixabay)

Suatu hari, seorang teman menelpon saya. Ia menangis dan mengaku ingin bunuh diri. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya karena berubah drastis. Dari seseorang yang memiliki mobilitas tinggi menjadi ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu di rumah sepanjang hari.

Semula, saya berusaha membujuknya untuk keluar dan mencari udara segar, tapi ia enggan. Ia bilang bahwa dirinya sempat berada di loteng rumah dan ingin mengakhiri hidupnya. Hanya menunggu satu keberanian untuk melompat.

Saya pun terdiam dan bergidik. Lalu, saya bertanya, “Kenapa kamu tidak bahagia?” Ia menangis. Intinya, ia lelah merasa sendirian. Saya tidak bertanya di mana keluarganya, karena rasa sepi memang tidak bisa dinilai secara materiil.

Saya memilih untuk lebih banyak mendengar. Tentang rasa sepi, tentang bagaimana ia harus diam dan merasa tak memiliki teman, termasuk mengalami depresi saat hamil. Ia mengira ketika hamil, semua orang akan memperhatikannya. Nyatanya tidak juga. Ia merasa tidak siap dengan perubahan itu.

Lalu, telpon terputus. Dihubungi balik tidak bisa. Semoga tidak terjadi apa-apa, yakin saya dalam hati.

Baca juga: Percayalah, Bunuh Diri juga Mengintai Kita, Tak Hanya Jonghyun

***

Menurut penelitian WHO pada 2016, ada sekitar 800 ribu kasus bunuh diri dalam setahun. Itu artinya, setiap 40 detik, ada satu orang yang mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh memprihatinkan.

Pada 2016, bunuh diri menjadi pembunuh No 18 di dunia. Indonesia sendiri berada pada urutan ke-159. Angka bunuh diri tertinggi terjadi di Guyana, Lesotho, dan Rusia.

Saya sebetulnya sudah akrab sejak lama dengan fenomena bunuh diri. Suatu waktu pernah melihat seorang pria terjun ke laut dari kapal ferry. Pria itu tenggelam dan tak ada yang menolongnya. Dari laporan konseli juga sering menemukan beberapa orang yang ingin bunuh diri, termasuk dalam kasus kekerasan seksual yang menyisakan pengalaman traumatik.

Sementara, masih banyak orang yang salah kaprah terhadap persoalan bunuh diri. Ada yang menganggap bahwa bunuh diri adalah bentuk dari renggangnya relasi individu dengan Tuhan dan minimnya rasa bersyukur.

Bahkan, seorang kawan yang mengambil S2 Magister Profesi Psikologi di salah satu kampus Islam terkemuka menjadikan terapi ‘sabar’ dan sholat kepada mereka yang terindikasi melakukan percobaan bunuh diri.

Baca juga: Agar Kita Tidak Naif Menyikapi Kasus Tora Sudiro

Saya pernah menyarankan seorang teman untuk datang ke psikolog di salah satu rumah sakit jiwa milik negara. Sepulang dari sana, dia hanya menangis karena kesal sudah mengantre, membayar cukup mahal untuk kantong mahasiswa, tapi sang psikolog hanya memintanya untuk lebih giat beribadah.

Tak ada masalah besar antara dia dan Tuhan, yang masalah adalah relasinya dengan dirinya sendiri. Sayangnya, orang lain bahkan yang berprofesi sebagai psikolog pun tak banyak membantu.

American Foundation for Suicide Prevention pernah mengungkapkan bahwa tak pernah ada faktor tunggal yang melatarbelakangi bunuh diri. Tindakan itu datang dari individu yang merasa hancur dan putus asa. Menurut mereka, kondisi stres dan depresi serta kesehatan mental lah yang terkait erat dengan para korban yang memiliki tendensi melakukan percobaan bunuh diri.

Orang yang ingin bunuh diri karena depresi harus bertarung dengan dirinya sendiri, dan stigma dari masyarakat yang menganggap mereka lemah iman dan lemah mental. Banyak yang tak menyadari, stigma itu justru terkadang ikut mengantarkan mereka pada keberanian untuk mengakhiri hidup.

Baca juga: Lepas dari Kesepian dengan Cara yang Indah

Bunuh diri sebetulnya bukan keinginan seseorang untuk mati, namun keinginan untuk melepaskan diri dari rasa sakit. Rasa sakit yang ia tanggung sendirian dan tak mampu ditolong oleh orang lain.

Di Indonesia, pengetahuan seputar kesehatan mental dan depresi masih sangat minim. Masih banyak sekali kita temukan kondisi depresi yang tidak tertangani dengan baik.

Sebagai social support dari individu yang sedang mengalami depresi, kita semestinya memahami situasi dan sudut pandang mereka. Seremeh apapun persoalan yang mereka hadapi di mata kita, rasa sakit yang mereka alami memang tidak tertahankan.

Kita sebenarnya bisa melihat tanda-tanda dari individu yang terluka, mulai dari kehilangan minat pada hal-hal yang biasa disenangi, perubahan sikap yang signifikan, hingga kecemasan yang sering muncul secara berulang.

Artikel populer: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Kita sering kali mengabaikan tanda-tanda tersebut. Kalaupun peka, ya sekadar menyarankan mereka untuk bersabar, tabah, dan banyak-banyak bersyukur. Itu memang tidak salah, tapi kurang tepat.

Hingga akhirnya, kita tersentak karena kehilangan mereka selamanya. Kalaupun mereka lolos dari percobaan bunuh diri, kita tetap kehilangan jiwa dan karakter mereka karena hancur dan rusak akibat depresi.

Percayalah, tak ada relasi yang kuat antara iman dan bunuh diri. Sebab, banyak orang yang bunuh diri dengan meledakkan dirinya sendiri atas nama iman dan takwa.

Kita harus mulai melihat dan merasakan, apakah individu di sekitar kita sedang terluka? Atau, jangan-jangan kita sendiri yang sedang butuh pertolongan? Segeralah cari pertolongan. Sama saya, misalnya? 🙂

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.