BumiTani Cinematic Universe: Negeri Ini Butuh Pahlawan Pangan

BumiTani Cinematic Universe: Negeri Ini Butuh Pahlawan Pangan

Ilustrasi petani (Image by Free-Photos from Pixabay)

Setelah nonton film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot dan mengetahui pahlawan super lainnya dalam BumiLangit Cinematic Universe (BCU), pikiran saya malah bukan mau nulis resensi-resensian. Yang terus bermunculan di benak saya adalah para pahlawan untuk urusan tanam-menanam, lingkungan terkait konservasi, juga ketahanan pangan.

Berikut ini adalah nama-nama yang terus bermunculan. Mungkin saja nanti ada BumiTani Cinematic Universe, kemudian dibikin beberapa filmnya. Keren juga.

Mukibat

Beliau adalah seorang petani yang tinggal di Kabupaten Kediri. Beliau yang melakukan stek sambung pertama kali antara singkong karet dan singkong umbi. Hasilnya adalah tanaman singkong yang panenannya bisa meningkat 300-500%. Dari stek sambung yang berawal dari Pak Mukibat inilah dilakukan riset lanjutan hingga hasil per hektare panenan singkong terus meningkat.

Beliau hidup 1903-1966 atau pada masa rawan pangan. Penemuan Pak Mukibat sangat bermakna bagi ketahanan pangan masa itu. Bukan sekadar meningkatkan produksi tanaman singkong, melainkan menyediakan pangan murah bagi rakyat.

Moedjair

Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa beliau adalah penangkar ikan mujahir yang sering kita konsumsi. Mbah Moedjair terlahir dengan nama Iwan Dalauk, seorang warga Blitar yang hidup pada masa 1890-1957. Beliau menemukan hal menarik ketika mandi di muara Sungai Serang di Blitar. Beliau takjub dengan ikan yang menelan telur-telurnya, lalu menyemburnya keluar dari mulut saat dewasa dan siap mencari makan sendiri.

Baca juga: Mamak-mamak Penyelamat Bumi

Mbah Moedjair menjaring ikan-ikan tersebut dari muara dan membawanya ke rumah. Tujuannya adalah melakukan percobaan, bisakah ikan ini dikembangbiakkan di air tawar. Mbah Moedjair mengurangi kadar garam sedikit demi sedikit. Belasan kali dilakukannya. Hingga akhirnya, ada beberapa pasang ikan yang benar-benar bisa hidup di air tawar dan dikembangkannya.

Ikan mujahir berkembang biak dengan sangat cepat. Dalam sekali proses kembang biak, bisa 150-600 ekor anakan mujahir. Dan, hanya butuh waktu 1-2 bulan untuk mujahir betina kembali menyimpan telur ikan yang sudah dibuahi ke dalam mulutnya.

Sama seperti Pak Mukibat, Mbah Moedjair memberikan solusi protein murah untuk rakyat pada masa-masa yang sulit.

John Walukow

Biasa dipanggil Om John. Nama lengkapnya, John Walukow. Ia adalah seorang petani yang tinggal di Makaaruyen, Modoinding, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Beliaulah sosok di balik tanaman kentang dengan produktivitas tinggi bernama Super John.

Beliau bukan peneliti, hanya petani biasa. Dia biasa menanam kentang jenis Granola. Namun, umbi kentang panenannya dirasa lama kelamaan semakin kecil. Suatu hari, dia memperhatikan ada tanaman yang berbeda. Fisik lebih besar, daunnya lebih lebat. Om John memperhatikan tanaman ini secara serius. Saat panen, terbukti kentangnya lebih besar. Kentang tersebut tidak dikonsumsi, namun dijadikan bibit.

Pada 1999, dia memanen sekitar 100 koli kentang besar yang keseluruhannya dijadikan bibit. Kentang Super John ini disukai petani karena umbi besar dan tidak mudah rusak.

Baca juga: Seberapa Kenal Kamu dengan 5 Tokoh Inspiratif Ini?

Saat negara yang tergantung dengan produksi padi, penanaman tanaman karbohidrat alternatif seperti kentang ini dapat meningkatkan produksi lokal, menjadi pangan alternatif, juga mampu mengurangi ketergantungan impor.

Prof Suhardi

Alm Prof Suhardi pernah menjadi ketua umum Partai Gerindra. Beliau terkenal bukan karena karier politiknya, tapi riset dan kampanye mengkampanyekan makan ketela alias telo. Karena kegigihannya dalam kampanye telo, dia sampai dijuluki profesor telo.

Ketela rambat, ubi kayu, garut, ganyong, serta umbi-umbian lain di Indonesia sangat banyak variasinya, juga besar potensinya. Dengan fokus pada peningkatan produksi yang dibarengi kampanye berikut marketing yang jitu, pangan karbohidrat non-beras ini dapat menjadi alternatif.

Komang Armada

Ia adalah pegiat ekowisata di Munduk, Buleleng, Bali. Ia bersama dengan para pemuda kampung mengaktifkan gerakan bersih kampung dan menekankan pariwisata di Munduk sebagai bagian dari ekosistem pertanian.

Bli Komang adalah petani tulen. Bertani cengkeh dan kopi. Dia membuat sendiri pupuk organik dari sisa upacara yang ada di kampungnya. Di Munduk, produktivitas cengkeh yang dikelolanya berhasil menduduki peringkat pertama. Dia meraih berbagai penghargaan pertanian.

Bibit cengkeh Bli Komang ini memakai pokok batang pohon benji. Sejak kecil, dua batang ini ditanam berdempet, ketika sudah mulai besar, kulit kedua pohon dikelupas dan dipersatukan. Kemudian, perlahan pohon benjinya dipangkas, sehingga yang tumbuh membesar pohon cengkehnya. Terbukti, cengkeh model ini lebih tahan hama, lebih cepat tumbuh, dan tentu saja cepat mempersembahkan bunga.

Baca juga: Cara Mengurangi Sampah Plastik Tanpa Harus Patuh pada Neolib

Soal pemupukan, Bli Komang membuat pupuk sendiri, pupuk cair organik. Dulu, sebelum diberi pupuk cair organik buatan sendiri, satu pohon cengkeh menghasilkan rerata 20 kg kering cengkeh (sekira 60 kg basah cengkeh). Begitu dirawat dengan pupuk tersebut, kini menghasilkan sebanyak 40 kg cengkeh kering (120 kg cengkeh basah). Nanti targetnya satu pohon bisa 80 kg cengkeh kering.

Agus Affianto

Saya sebenarnya tidak mau menulis tentang beliau. Tapi hitung-hitung amal, ya sudahlah coba dikupas sedikit. Agus Affianto dikenal di Twitter dengan nama Picoez. Dia adalah seorang dosen di sebuah kampus di Yogyakarta. Orangnya memiliki skill menanam cukup ciamik.

Beberapa hal menarik yang bisa saya tabulasi adalah, dia berhasil menanam buah dan sayur di lahan bekas tambang. Entah apa yang dilakukannya untuk menyuburkan lahan yang top soilnya sudah hilang itu. Dia melakukannya di Bangka Belitung. Dia juga mengembangbiakkan kantong semar dari berbagai wilayah di Indonesia. Ditanam di rumahnya.

Beberapa waktu lalu, Mas Picoez berhasil menangkarkan pohon bakau yang bisa tumbuh di air tawar. Penemuan ini tentu luar biasa, jika dikembangkan lebih lanjut karena dapat dimanfaatkan untuk menahan abrasi di sekitar sungai. Melihat wajah Mas Picoez ini membuat kita sadar benar bahwa don’t judge a book by its cover sungguh tepat.

Artikel populer: Membayangkan ‘Rangga dan Cinta’ Bertemu sebagai Aquanus dan Dewi Api

Pak Guntur

Pak Guntur ada di Tanjung Burung, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten. Beliau sempat dikira gila sama tetangga karena menanam mangrove. Ditangkarkan di rumah dan ditanam sekitar pantai tak jauh dari beliau tinggal. Abrasi air laut di Kabupaten Tangerang cukup masuk level mengerikan. Pak Guntur ini yang terus menanam dan mengembangbiakkan mangrove alias bakau untuk menahan abrasi.

Di daerah lain di Kabupaten Tangerang seperti Mauk, Sukadiri, Kresek, dan Kronjo membutuhkan banyak sentuhan orang-orang peduli seperti Pak Guntur ini.

Bagas Suratman

Bagas adalah nama anaknya, nama aslinya adalah Suratman. Menjalani hidupnya mulai dari karyawan pabrik, kenek, hingga kuli angkut dan dagang buah. Pilihan coba-coba bertani justru mengubah hidupnya. Adalah daerah Rawa Lini, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, di mana Suratman menyewa lahan dan menanam kangkung. Ternyata hasilnya bagus.

Kemudian, ia juga menanam sayuran daun kangkung, bayam, caisim, sawi, kayuk, kemangi, dan lain-lain. Sukses semua. Suratman lalu merambah menanam melon golden juga jagung manis. Sukses juga.

Kini, dia menularkan virus menanam itu ke sekitar wilayahnya. Dia juga mengajak remaja-remaja masjid dan pesantren sekitar untuk mulai belajar menanam. Suratman tak sekolah tinggi. Pengalaman jatuh bangunnya dalam pertanian diajarkan ke orang sekitarnya agar mereka tak perlu menghadapi risiko serupa. Produk Suratman sangat diminati ritel modern.

Sebenarnya masih banyak tokoh lokal lainnya yang menurut saya adalah pahlawan super. Tapi lain kali akan saya sambung. Hei, Joko Anwar, baca artikel ini. Atau, saya akan bawa ke Livi Zheng!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.