Buku Bacaan untuk Pemilih Muda, sebab Demokrasi Tak Sebercanda Itu

Buku Bacaan untuk Pemilih Muda, sebab Demokrasi Tak Sebercanda Itu

Ilustrasi (Min An via Pexels)

Apa kabar pemilih muda?

Salam!

Yang bukan pemilih muda juga salam! Hehe…

Gimana persiapan menghadapi pemilu serentak nih? Pemilihan anggota legislatif digabung lho dengan pemilihan presiden. Bakal banyak foto calon di surat suara pada hari pencoblosan 17 April 2019. Tapi pastinya nggak ada foto kamu, sebab kamu bukan lagi sebagai calon, eh?

Oh ya, sekarang sebetulnya sudah masuk masa kampanye, sampai 13 April 2019. Kita bisa lihat baliho kampanye berjejer di jalan. Itu kalau masih ada sih, karena ada yang dirusak. Duh, menyayat hati gaes. Gara-gara dirusak, nyesek separtai.

Padahal, bikin baliho, spanduk, dan alat peraga kampanye lainnya itu nggak gampang. Bukan soal biaya, kalau itu sih mudah. Bayangkan, mereka sudah habis-habisan pasang wajah menjanjikan. Seolah mau bilang, “Kamu pilih aku yaa.” Atau, “Percaya deh, aku bisa bahagiakan kamu.” Eh, malah dicampakkan.

Sedih akutu…

Tapi, memang, memilih itu sulit. Apalagi memilih orang-orang yang akan menentukan arah pembangunan dan bangsa ini, aihh gokil! Ya mau gimana, mereka datang pas mau pemilihan, terus jualan program yang belum tahu gimana nantinya. Nggak ada yang namanya pendidikan politik.

Padahal, anak muda yang sudah punya hak pilih perlu pendidikan politik. Tapi yang terjadi malah kegaduhan elit politik. Malesin kan? Akibatnya, banyak anak muda yang apatis. Sebaliknya, giliran tampil malah diremehkan.

Baca juga: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Sobat muda, perubahan ada di tanganmu. Pengaruh pemilih muda, termasuk pemula, sangatlah besar. Penyebaran informasi, terutama di media sosial, sangat bergantung pada aktivisme sobat semuanya.

Tulisan ini diharapkan bisa menjadi petunjuk awal agar tidak gagap dalam menghadapi momen politik besar, seperti Pileg dan Pilpres. Ini juga sebagai upaya menjadi pemilih yang cerdas.

Sebab itu, saya ingin merekomendasikan beberapa buku yang penting dibaca sobat muda. Kuy disimak…

Menilik Demokrasi, Gunawan Wiradi (2015)

Sistem pemilihan langsung yang dilakukan saat ini bersumber dari sistem demokrasi. Buku ini membawa pembaca untuk mengulik secara singkat dan padat tentang perjalanan demokrasi di peradaban umat manusia.

Kajian mengenai demokrasi dan akar-akarnya jadi rujukan mengapa kita harus berkontribusi dalam sistem demokrasi. Apa dan bagaimana demokrasi juga perkembangannya diulas dalam buku ini.

Tentu buat kalangan mahasiswa ilmu politik dan sosial nggak asing dengan buku ini. Tapi, lain soal kalo ikhwan-akhwat jarang nongkrong di perpustakaan untuk berburu buku.

Setidaknya buku ini mengulas dua bagian. Pertama, tentang teori demokrasi dan seberapa obsesif peradaban manusia dengan demokrasi. Kedua, tentang demokrasi di tingkat lokal pedesaan.

Buku ini ditutup dengan epilog kawan saya, Bung Muhammad Ridha, yang mendedah sedikit banyak tentang “kenapa foto-foto para calon semakin banyak bertebaran ketika pemilu, sementara hidup kok gini-gini aja. Seolah nggak ada yang berubah”.

Buku ini wajib dibaca, mengingat pemilih muda, termasuk pemula, kudu banget sadar kalau pemilu serentak itu tujuannya bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk demokrasi dan kemajuan peradaban.

Baca juga: Orang Boleh Pintar, tapi Selama Tidak Baca Fiksi, Mereka akan Merugi

Negara, Civil Society & Demokratisasi, Luthfi J Kurniawan & Hesti P (2008)

Ini buku yang pertama kali saya baca ketika mau mempelajari garis besar pentingnya politik. Kaitannya buku ini dengan pemilu ada di kalimat civil society. Kalimat yang sampai sekarang agaknya masih debat kusir soal pemaknaannya. Tapi, umumnya dikaitkan dengan masyarakat sipil.

Buku ini bakal mengingatkan pemilih muda untuk lebih jeli lagi memposisikan dirinya. Sekaligus merinci peran dan fungsi civil society sebagai mediator, fasilitator, dan pendorong atas kebijakan pemerintah.

Buat pemilih muda yang masih takut atau malas ke kantor kelurahan ketika ngurus KTP, atau pemilih muda yang masih ragu-ragu ke kantor BPJS untuk ngurus jaminan kesehatan, setidaknya buku ini bisa jadi penguat. Sebab, kedaulatan ada di tangan rakyat, pemerintah hanyalah pelayan rakyat.

Jadi, buku ini bisa membantu memperluas pengetahuan sobat biar nggak ragu atau bingung pada hari pencoblosan maupun setelahnya.

Konsep Memperdalam Demokrasi, In’amul Mushoffa dkk (2016)

Buku ini ditulis In’amul Mushoffa dan Fahruroji. Mereka penulis-penulis muda, juga salah satunya saya. Hehe.

Berlatar belakang hasil penelitian soal pemilihan umum dengan seberapa dalam pelaksanaan demokrasi kita di Indonesia.

Beberapa hal yang coba diurai dalam buku ini adalah soal pemilu yang jadi bagian indikator dalam demokrasi. Sekalipun asumsi bahwa pemilu menjadi indikator terendah dalam demokrasi, bukan berarti pemilu jadi nggak penting.

Artikel populer: Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Buku ini juga mengurai betapa pentingnya peningkatan kualitas representasi dan tiap-tiap konstituen dengan menyemarakkan pendidikan politik yang merata.

Singkatnya, buku ini mendedah demokrasi dalam indikator pemilihan umum yang sekadar prosedural menjadi demokrasi yang lebih substansial. Tujuannya agar para representasi di parlemen lebih berkualitas dengan mental dan integritas membangun peradaban, bukan malah menjadi koruptor.

Oke, tiga buku tersebut tentu bukan kebenaran absolut dalam menilai dan menimbang demokrasi. Tapi, karena cara penyampaian dan bobot bahasa dalam buku ini terbilang sederhana dan mudah dicerna, maka saya merekomendasikannya sebagai pengantar sobat muda agar lebih menimbang bagaimana menjadi pemilih yang baik dan bijak.

Saya bisa menjamin, setelah membaca tiga buku tersebut, sobat bakal lebih argumentatif dan logis lagi dalam memilih. Menolak money politic, menolak idiom pemilu wani piro, menentang politik tukar guling, menolak kampanye-kampanye politik yang menggunakan sumber keuangan rakyat (anggaran negara).

Sobat muda perlu tahu bahwa demokrasi dan pemilihan umum tak sebercanda itu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.