Komodo. (Image by Signe Allerslev from Pixabay)

Pemerintah pernah menjadi ‘Avengers’ dan melawan ‘Thanos’ sebagai simbol antagonis ekonomi global. Ternyata pejabat negeri ini memang senang bermain peran. Kali ini, mereka seolah ingin menghidupkan cerita fiksi dari film Hollywood lainnya, yakni Jurassic Park – seri film yang menceritakan taman nasional khusus untuk dinosaurus yang dihidupkan kembali berkat kemajuan teknologi.

Namun, konsep ‘Jurassic Park‘ versi Indonesia hanya akan memamerkan komodo. ‘Jurassic Park‘ komodo ini bakal dibangun di Pulau Rinca, NTT. Tentunya akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti kafe, restoran, hingga toilet umum. Nantinya para wisatawan bakalan betah dan nyaman, nggak tahu kalau komodo.

Investor melihat potensi cuan di sini. Namun, masyarakat malah melihat tanda bahaya. Sebab komodo adalah hewan yang introvert dan tidak biasa hidup dalam keramaian. Jadi, tempat tinggal komodo yang sekarang sudah zona nyaman. Manusia saja ogah disuruh pindah dari zona nyaman, apalagi komodo yang diperkirakan sudah menetap selama puluhan ribu tahun.

Baca juga: Andaikan Cerita The Lion King Berlatar Alam Liar Nusantara

Beredar di media sosial, seekor komodo tertangkap kamera sedang menghadang truk proyek yang mau membedah ‘rumah’-nya. Bukti bahwa sang hewan purba itu merasa terganggu dengan bunyi bising proyek pembangunan.

Jangan sampai karena ambisi manusia dalam pembangunan, keselamatan komodo malah terancam. Kalau sampai punah, untuk apa ‘Jurassic Park‘ komodo jika komodonya saja tidak ada?

Di film, Jurassic Park dibuat untuk menampung para hewan purba yang sudah punah dari muka bumi, lalu dihidupkan kembali. Nah, ini komodo masih ada dan hidup melintas zaman, kok sudah dibuatkan ‘Jurassic Park‘-nya?

Sebaiknya kita rewatch film Jurassic Park itu sendiri. Bagaimana nasib orang-orang di balik proyek ambisius tersebut pada akhirnya. Ada yang terbunuh, ada yang dimakan dinosaurus. Ilmuwan yang selamat pun justru menyesal.

Baca juga: Menyoal Abuse of Power Lewat Satire Superhero, Nyindir Banget!

Dalam konteks ‘Jurassic Park‘ komodo ini mengingatkan kita pada pemilu. Saat pemilu, suara rakyat diperebutkan. Namun, setelah pejabat dilantik, terkadang suara rakyat malah tidak didengarkan.

Begitu pula ketika kita menerima SMS untuk mendukung Pulau Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Dulu, kita semangat voting Pulau Komodo supaya dunia tahu ada hewan langka terancam punah di negara kepulauan ini. Sebuah kebanggaan telah menjaga dan melestarikan biawak terbesar di dunia ini.

Pulau Komodo telah terpilih sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun, setelah terpilih, suara rakyat yang menolak proyek ‘Jurassic Park‘ komodo tidak didengarkan. Suara-suara yang menyerukan #SaveKomodo malah dibenturkan dengan dengungan para buzzer. Akhirnya, rakyat melawan rakyat di media sosial. Di lapangan, komodo melawan alat proyek.

Lagi pula, daripada repot-repot bikin ‘Jurassic Park‘ komodo yang tidak ada urgensinya, ada film Hollywood lain yang lebih cocok untuk Indonesia dan pemerintah bisa membuatnya menjadi nyata, yaitu Night at the Museum.

Tunggu dulu, ini bukan night at the museum biasa yang sudah ada di Ibu Kota. Ini konsepnya lebih bombastis daripada ‘Jurassic Park‘ komodo.

Baca juga: Menghukum Koruptor dengan Cara yang Unik dan Milenial Banget

Kalau Jurassic Park konsepnya taman seperti kebun binatang tapi isinya dinosaurus, Night at the Museum berlatar di museum. Di filmnya, objek museum bisa hidup pada malam hari. Membuat penjaga museum kerepotan. Sama seperti petugas lapas yang kerepotan ketika napi tipikor keluar sel, lalu jalan-jalan (dan ketahuan media).

Nah, pemerintah bisa membuat Night at the Museum, tapi temanya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kalau ada museum uang dan museum bank, kenapa tidak dibuat museum korupsi atau koruptor? Sebab korupsi sendiri berkaitan dengan uang dan rekening gendut di bank.

Konsepnya, museum ini mengoleksi kasus-kasus korupsi dan memamerkan patung para koruptor. Ditambah beberapa misteri dari skandal korupsi yang belum terpecahkan sampai saat ini, serta koruptor yang menjadi buronan. Ini sebagai pengingat bahwa korupsi begitu berbahaya.

Artikel populer: Octopus Law dan Demo di Bikini Bottom

Setelah didirikan ‘Night at the Museum‘ koruptor, para pejabat diwajibkan untuk mengunjunginya pada malam hari. Paginya kerja, malamnya diingatkan tentang dampak dari penyalahgunaan wewenang. Soalnya kalau korupsi, bisa bikin malu anak-cucu. Nanti patungnya bisa dipajang di museum dan dikenang sepanjang masa sebagai koruptor.

Kenyataannya, semakin ke sini semakin berkurang pemberitaan media tentang penangkapan pejabat atau politisi yang korupsi oleh KPK. Operasi tangkap tangan (OTT) menjadi atraksi yang langka. Entah karena korupsinya yang makin sedikit atau karena tidak ditangkap. Bisa juga karena belum ketahuan saja atau sama-sama tahu.

Sementara, museum pada umumnya untuk merekam peninggalan yang sangat langka, bahkan bisa dibilang telah punah. Jadi, untuk bisa mendirikan museum koruptor, syaratnya korupsi harus punah dulu dari negeri ini.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini