Ilustrasi fan sepak bola (Image by jorono from Pixabay)

Berbicara sepak bola, kita bisa sepakat bahwa olahraga ini memiliki popularitas nomor satu di dunia. Faktanya setiap pertandingan mulai dari level tarkam hingga dunia selalu berhasil mendatangkan massa berlimpah. Massa ini didominasi oleh laki-laki, sehingga persepsi bahwa sepak bola adalah olahraga yang ‘laki banget’ begitu melekat.

Namun, persepsi itu kini mulai luntur. Secara bertahap, perempuan mendapatkan porsi dalam sepak bola, baik sebagai suporter, pejabat organisasi, hingga kompetisi sepak bola perempuan. Meski demikian masih menyisakan bias gender. Terlebih, laki-laki kerap melakukan pelecehan seksual, seperti catcalling hingga seksisme, terhadap penonton perempuan yang datang ke stadion.

Sebagai contoh, ketika perempuan tengah merayakan dan menyuarakan haknya di Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2020, viral potongan video di media sosial tentang ucapan yang melecehkan penonton perempuan. Video tersebut berisi ucapan Rama Sugianto dan Erwin Fitriansyah yang menjadi komentator dalam laga sepak bola Liga 1 antara Persita vs PSM pada 6 Maret 2020.

Saat kamera menyorot bagian tribun yang ditempati suporter perempuan pendukung Persita, Rama mengeluarkan komentar tak etis. “Sementara kita lihat ada sesuatu yang menonjol, tapi bukan bakat. Ada yang besar, tapi bukan harapan, apa itu mas Erwin?” kata Rama.

“Perempuan-perempuan ini yang menghiasi tribun,” balas Erwin.

Baca juga: Lelaki Nggak Suka Bola Sering Diledek, Memangnya Aneh ya, Bung?!

Setelah video tersebut viral, para komentator tersebut menjadi sasaran amarah. Politikus perempuan pun turut geram dengan kelakuan si komentator. “Konstruksi fisik seseorang perempuan adalah given. Jika seorang komentator acara saja bisa kayak gitu, apalagi dia di luar acara. Kebayang yang bersangkutan perilaku di luar seperti apa. KPI harap memanggil stasiun TV yang mempekerjakan komentator tersebut,” ucap Nurul Arifin.

Sementara itu, si komentator kelabakan dan langsung menyatakan permohonan maaf melalui akun di media sosial. “Mohon maaf sekali lagi jika bercanda saya sangat berlebihan. Ini jadi pelajaran berharga tentunya untuk saya ke depannya. Insya Allah ini tidak akan terulang ke depannya,” tulis Rama melalui akun Twitter.

Sedangkan O Channel selaku stasiun TV yang menyiarkan laga tersebut juga meminta maaf dan mengaku sudah memberikan peringatan tegas dan sanksi internal kepada Rama.

Permohonan maaf itu direspons beragam, salah satunya dari seorang komika, Adjis Doa Ibu. “Dimaafin tapi mundur dong dari kerjaannya yang sekarang, biar beneran jadi pelajaran yang berharga balik lagi nanti kalau udah dewasa, Insya Allah rezeki akan datang lagi,” kata Adjis di Twitter.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Meski komentator bola tadi secara resmi sudah meminta maaf, tetapi bukan berarti permasalahan pelecehan seksual bisa selesai begitu saja. Sebab, tak semua masalah bisa diselesaikan dengan minta maaf. Saya setuju dengan Adjis bahwa harus ada konsekuensi yang berefek jera.

Di luar itu, ada yang harus terus dibenahi di tengah budaya patriarki yang begitu kuat dan mengakar ini: pikiran lelaki yang cenderung memandang perempuan sebagai objek dan properti. Selama pemikiran itu masih berkelindan dalam ruang imajinasi laki-laki, kasus-kasus serupa masih akan terus bermunculan.

Dengan kejadian tersebut, kita bisa membayangkan risiko pelecehan seksual yang dialami perempuan, yang tak tertangkap kamera, kala manyambangi stadion untuk menyaksikan secara langsung laga sepak bola. Mengerikan sekali budaya patriarki ini, Bung!

Seorang komentator yang memiliki latar pendidikan tinggi saja bisa bertutur kata seenak jidat. Padahal, ia seharusnya bertugas menyoroti taktik permainan di lapangan hijau, bukan malah menyoroti fisik penonton.

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Melawan Stigma, Ayo Tendang, Jeung!

Lantas, menjadi omong kosong belaka kala komentator sepak bola menyerukan kepada suporter untuk berhenti menyanyikan chant-chant bernada rasisme dan provokasi, jika sendirinya masih melecehkan seseorang.

Kita pun masih sering mendengar istilah ‘bidadari tribun’ atau ‘pemanis tribun’ yang dilontarkan komentator laki-laki atau dalam pemberitaan media. Dari sana sudah jelas, perempuan hanya dijadikan sebagai objek visual dalam pandangan lelaki seksis.

Selama tayangan televisi dan media masih menganggap perempuan sebagai komoditas pemanis dan objek belaka, selama itu pula lelaki masih menganggap bahwa sepak bola adalah simbol maskulinitas. Alhasil, sepak bola akan terus menjadi saluran untuk terus melanggengkan ketidaksetaraan gender dan pelecehan seksual.

Namun, saya masih menyimpan harapan pada pelaku sepak bola yang beradab untuk melawan pelecehan dan menghormati hak perempuan dalam sepak bola. Sebab, sepak bola dan ornamen di dalamnya bisa berbicara lebih banyak dan mampu merangkul siapa saja tanpa harus memandang gender.

Artikel populer: Kelihatannya Sepele, tapi Tanpa Sadar Kita Jadi Misoginis, Cek Ya!

Sepak bola malah bisa menjadi alat edukasi paling efektif untuk mengkampanyekan berbagai hal lantaran olahraga ini selalu menyedot animo besar. Dengan begitu, jangkauan kampanyenya akan lebih masif dan merebak lebih cepat.

Tak kalah penting bagi para wakil rakyat untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU-PKS) karena bisa turut menghapuskan pelecehan seksual yang kini kian genting.

Lagi pula, lelucon seksis itu mana ada lucu-lucunya sih? Pelawak aja nggak lucu kalau seksis, apalagi komentator bola??

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini