Foto ilustrasi.

Bayangkan jika nenek moyang kita, yang konon seorang pelaut, punya kecenderungan stalking, memata-matai, atau menguntit pasangan. Tentunya sulit, wong mau kangen-kangenan saja mesti pakai selembar surat yang diberi cap bibir. Tapi, sungguh, cap bibir itu manusiawi.

Kini, zaman bergerak. Modernisasi dan globalisasi malah mendorong orang untuk mengabaikan hal-hal yang manusiawi, termasuk dalam urusan percintaan. Kita bisa lihat campur tangan teknologi yang menunjang kelakuan stalking seseorang.

Di mesin pencari, kata kunci stalking application bahkan muncul sebagai auto-suggestion keyword. Warganet pun beramai-ramai mengunduh aplikasi tersebut untuk menunjang kekepoan.

Lha, memangnya stalking kenapa?

Stalking adalah bentuk pelanggaran HAM gaya baru dan merujuk pada pelecehan secara emosional. Perbuatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, biasanya si pelaku atau stalker merasa gelisah jika tidak mengetahui kabar, keberadaan, atau lainnya dari orang yang dia intai – termasuk pasangan sendiri.

Baca juga: Yang Paling Berbahaya dari ‘Ghosting’, Bukan Cuma Kisah Horor dalam Percintaan

Sebagai makhluk monodualis, manusia adalah makhluk sosial sekaligus individu yang memiliki privasi. Itu tentu berlaku juga pada hubungan percintaan. Namun, privasi pasangan sering kali dicederai oleh aktivitas stalking.

Parah sih, merasa dirinya berkuasa penuh atas pasangannya. Bahkan merasa punya akses untuk membuka HP dan mengecek seluruh riwayat chat, email, galeri foto, juga panggilan masuk dan keluar. Jika tanpa persetujuan, itu adalah pelanggaran privasi.

Namun, rata-rata para stalker sering berdalih, “Kalau nggak ada apa-apa di HP dia, ya nggak masalah dong aku kepoin.”

Itu dalih yang ngawur, sih. Kalau pasanganmu terlihat buru-buru membalas chat atau pergi menjauh saat menjawab panggilan masuk di HP, tidak bisa dijadikan alasan utama untuk mencurigai pasanganmu. Bisa jadi dia menjauh supaya sinyalnya stabil. Alih-alih berpikir seperti itu, para stalker sekonyong-konyong merebut HP si pasangan.

Baca juga: Lebih Dalam soal Perselingkuhan dengan Alasan Doi Kaya

Seorang kawan lama yang juga ‘ahli’ stalking pernah berkata, “Stalking itu salah satu cabang olahraga jantung, karena ada sensasi cenat-cenut dan jantung berdebar-debar hebat saat khidmat cek HP pasangan, waspada kalau ada sesuatu yang mencurigakan.”

Konyol juga.

Jase Lindgren, seorang pakar relationship, mengatakan bahwa stalking HP pasangan mengarah pada dua hal. Pertama, kamu bakal menemukan sesuatu yang janggal, lalu kamu tetap nggak akan merasa lega – malah marah. Kedua, kamu nggak menemukan sesuatu yang aneh-aneh, tetapi kamu malah semakin curiga karena menganggap doi lihai menyembunyikan rahasia. Kemudian, kamu bertekad harus mengorek lebih dalam lagi.

See… stalking bak dua mata pisau yang sama-sama berbahaya. Bisa-bisa fondasi cinta dan kepercayaan yang telah dibangun bersama, retak – gegara kamu seorang stalker.

Lagi pula, kalau doi memang selingkuh, pastilah semua riwayat chat, email, serta panggilan masuk dan keluar sudah dihapus dari HP. Apalagi, doi tahu bahwa kamu suka stalking. Alhasil, kamu tetap saja nggak bisa dapat bukti apa-apa, sementara dia berselingkuh semakin jauh.

Baca juga: Bucin atau Tidak, Hati-hati dengan ‘Gaslighting’

Pasangan suami istri saja nggak ada tuh yang namanya hak atau kewajiban mematai-matai HP satu sama lain, malahan dilarang. Masa iya yang masih pacaran sampai rebutan HP hingga videonya viral gitu? Bucin sih bucin, menguntit secara fisik ataupun digital adalah satu dari 10 bentuk kekerasan dalam pacaran, cyin…

Beberapa psikolog menganggap stalker yang ceki-ceki HP pasangan sebetulnya punya masalah kepercayaan yang begitu besar, yang tak pernah terselesaikan dengan pasangan. Stalking akan mengundang kesalahpahaman yang lebih jauh lagi.

Oh ya, ada juga lho yang stalking sampai menggunakan aplikasi find device. Aplikasi itu dimanfaatkan oleh para stalker untuk melacak keberadaan HP pasangannya, dengan asumsi: di mana ada ponsel doi, di situlah ia berada.

Woiii… pasangan bukan benda yang letaknya bisa diatur-atur sesuai kehendak kita. Juga, bukan kucing Anggora atau Persia yang harus dikalungi lonceng di leher agar kita tahu lokasi dari bunyinya.

Artikel populer: Deket Doang, Jadian Nggak: Menyoal “Kita Ini Apa?” di NKCTHI

Itulah kenapa stalking adalah bentuk penjajahan mental yang bisa menghancurkan kepercayaan diri si korban. Korbannya akan bertanya-tanya, apakah dia tidak layak memperoleh kepercayaan dari pasangannya? Terlebih, korban stalking bakal merasa hak-haknya sebagai individu yang bebas telah diobrak-abrik. Bukankah sudah jelas dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan?

FYI aja nih, menjalin hubungan cinta bukan sekadar ‘aku milikmu, kamu milikku’, sebab di dalamnya ada hak-hak privasi yang tetap harus dihormati. Kalau memang ada yang mengganjal, start talking stop stalking aja deh!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini