Ilustrasi pasangan (Photo by thiszun/Pexels)

Manusia sebagai makhluk sosial tentu harus menjalin hubungan antar manusia. Ada hubungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, hingga percintaan. Semua orang tampaknya mendambakan hubungan yang baik-baik saja.

Realitasnya, hubungan tak selalu berjalan mulus, kadang malah berakhir tragis. Akan tetapi, sebelum skenario terburuk itu terjadi, kita sering menyaksikan atau mungkin berperan sebagai sosok yang bersikukuh mempertahankan keutuhan satu hubungan.

Tentu penyebab retaknya hubungan sangat beragam, tapi semua pasti ada hikmahnya. Begitulah kata seorang kawan yang bijak untuk urusan orang lain, tapi tidak untuk urusan diri sendiri.

Semisal, dalam hubungan asmara. Pasangan kamu selalu keberatan atau menyanggah pendapatmu dengan respons negatif, kemudian membuatmu berpikir bahwa kamulah yang sebenarnya memiliki sifat negatif itu. Padahal, bisa jadi hubunganmu tengah dirundung toxic relationship bernama gaslighting.

Gaslighting sebetulnya bukan konsep anyar, istilah ini pertama kali muncul dalam film psychological thriller tahun 1944 yang disutradarai oleh George Cukor berjudul Gaslight. Film ini merupakan adaptasi dari naskah drama berjudul Gas Light yang ditulis Patrick Hamilton pada 1938.

Film Gaslight berkisah tentang pasangan suami istri, Gregory (Charles Boyer) dan Paula (Ingrid Bergman). Pada tengah malam, Gregory mencari harta yang tersembunyi di loteng rumah mereka dengan menggunakan lampu gas sebagai penerangan. Saat itu pula, Paula mengeluh kepada Gregory karena lampu rumah meredup. Tetapi, Gregory malah menuduh Paula hanya mengada-ada dan membuat Paula berpikir bahwa semua itu hanya imajinasi saja.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Pada kesempatan lain, Gregory kerap menutupi perbuatannya dengan cara berbohong. Ketika Paula bertanya atau mencoba berdiskusi tentang hal tersebut, Gregory melemparkan perkataan-perkataan yang menghakimi. Akibatnya, lambat laun Paula ragu dengan apa yang dikatakannya sendiri dan merasa percaya pada tuduhan-tuduhan yang dilontarkan suaminya.

Menurut para psikolog, istilah gaslighting untuk merujuk pada jenis manipulasi tertentu, dimana si pelaku berusaha membuat orang lain mempertanyakan realitasnya atau persepsi mereka. Hingga akhirnya, si korban ketergantungan dengan pelaku, baik dalam hal pemikiran maupun perasaan.

Robin Stern, associate director Yale Center for Emotional Intelligence, mengatakan bahwa betapa berbahayanya seseorang melepaskan realitasnya. Menurut penulis buku The Gaslight Effect tersebut, jika seseorang mulai meragukan penilaiannya sendiri, ia bisa berakhir dalam kondisi dimana ia tidak bisa mengambil keputusan secara mandiri.

Gaslighting kerap dibangun karena ada kekuatan yang timpang antar hubungan interpersonal. Gaslighting juga bisa terjadi dalam segala jenis hubungan, dimana satu orang begitu penting bagi orang lain, sehingga mereka tidak ingin mengambil risiko yang bisa membuat orang itu marah.

Baca juga: Yang Paling Berbahaya dari ‘Ghosting’, Bukan Cuma Kisah Horor dalam Percintaan

Pelaku gaslighting atau gaslighter sering kali tidak menyadari bahwa dirinya tengah memanipulasi pasangannya. Mungkin, dia hanya merasa bahwa dia adalah orang yang selalu mengekspresikan dirinya secara langsung.

Begitu juga korban gaslighting yang kerap tidak menyadari bahwa mereka merupakan korban dari kekerasan emosional atau mental dalam satu hubungan. Sebab, kekerasan tipe ini tidak meninggalkan bekas yang bisa dilihat kasat mata. Namun, berdampak dalam jangka waktu panjang, terutama pada mental seseorang.

Elsa Ronningstam dalam bukunya berjudul Identifying and Understanding the Narcissistic Personality (2005) menyebutkan bahwa pelaku gaslighting punya kepribadian narsistik dan arogan, karena mampu menjatuhkan harga diri korban dan membuat mereka menganggap pelaku sebagai satu-satunya penyemangat dalam hidup.

Sementara, terapis pernikahan dan keluarga Karyl McBride dalam artikel yang dimuat Psychology Today menjelaskan alasan seorang narsistik menjadi gaslighter berawal dari pemicu sederhana, yakni sikap tak mau disalahkan.

Baca juga: Pasangan Nggak Diumbar? Boleh, tapi Jangan Abaikan ‘Stashing’ yang Kejam Kayak ‘Ghosting’

Orang tidak terlahir sebagai gaslighter sebagaimana mereka terlahir sebagai introvert atau ekstrovert. Pola pendidikan dan situasi lingkungan yang membuatnya menjadi gaslighter. Ia hanya melihat dunia dari satu perspektif, sehingga ketika melihat sesuatu secara berbeda, menganggapnya sesuatu yang salah. Sesuatu yang salah itu harus dilawan dengan berbagai acara agar kembali sesuai dengan imajinasinya.

Perempuan menjadi sangat rentan untuk menjadi korban gaslighting, terlebih di lingkungan yang masih kental dengan budaya patriarki. Situasi yang mengkondisikan mereka sebagai manusia yang harus nurut dan bergantung pada lelaki.

Meski begitu, tanpa memandang gender, pelaku dan korban gaslighting bisa siapa saja. Biasanya, korban adalah mereka yang kurang percaya diri, sehingga sangat mudah diatur-atur oleh orang lain, semisal pasangannya.

Salah satu indikasi bahwa kamu terjerembap dalam kubangan gaslighting adalah, kamu selalu lebih sering minta maaf ketika ada konflik. Kamu lebih sering membuat alasan untuk perilaku pasanganmu, kamu mulai menyalahkan diri sendiri serta mulai ragu dengan persepsimu sendiri.

“Banyak orang dalam hal ini korban gaslighting mengubah persepsi mereka untuk menghindari konflik,” kata Darlene Lancer, penulis Conquering Shame and Codependency: 8 Steps to Freeing the True You.

Artikel populer: Tren Baru yang Bikin Orang Terjebak dalam ‘Toxic Positivity’

Karena itu, kamu jangan panikan dan langsung menyalahkan diri sendiri ketika terjadi apa-apa dalam hubungan. Bisa jadi itu gaslighting. Tetap tenang dan mulailah bicara dengan orang terdekat. Ingat, sebelum pasanganmu itu ada, kamu masih bisa hidup.

Saat ini, kita mengenal istilah bucin alias ‘budak cinta’. Sebutan yang disematkan pada mereka yang ‘tunduk’ terhadap pasangan. Kalaupun merasa tidak keberatan atau bahkan menolak disebut bucin, tetaplah berhati-hati dan menjaga nalar agar tidak menjadi korban gaslighting.

Sebab, hubungan asmara bukan soal pengabdian, melainkan hubungan yang setara. Apapun yang mengatasnamakan perbudakan harus dihapuskan dari muka bumi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini