Ilustrasi laki-laki. (Photo by Khoa Vo from Pexels)

Imajinasi tentang Johnny Sins sering membuat para pria yang mengidolakannya selalu terjebak dalam khayalan bahwa ‘senjatanya’ tidak tampak ‘gagah’ dibanding sang bintang film biru tersebut.

Pun, ketika beberapa artikel di media mencoba mengulik-ngulik berapa ukuran ideal Mr. P seorang laki-laki. Lalu, keluarlah perbandingan antara Afrika, Amerika, Asia, dan versi Indonesia. Namun, isi artikel soal penis ini selalu begitu-begitu saja, menginformasikan bahwa penis yang ideal adalah memiliki diameter dan panjang sekian.

Jika search kata “penis” di Google, yang keluar juga tidak jauh-jauh dari kiat memperbesar, perbandingan kecil dan besar, hingga kembali lagi seperti yang disebutkan di awal. Tampaknya pria punya obsesi dan momok tersendiri jika berbicara tentang penis, terutama soal ukuran.

Maskulinitas lelaki sering kali diukur-ukur lewat besar atau kecilnya penis. Sehingga yang terjadi, makin suburnya obat hingga praktik-praktik memperbesar penis yang tak jelas juntrungannya.

Baca juga: Wahai Pemuja Ilusi Maskulinitas, Apalah Artinya Penis kalau Isi Kepala Rapuh?

Penis seolah menjadi sebuah komoditas guna mencari pundi keuntungan sekaligus melahirkan sebuah obsesi yang justru membunuh rasa bahagia seorang laki-laki. Menimbulkan resah dan gelisah yang ujung-ujungnya kerap menjadi masalah.

Permasalahan yang ditimbulkan pada akhirnya membuat semua laki-laki khususnya laki-laki Indonesia insecure, terobsesi, hingga membenci tubuhnya sendiri.

Insecure ketika tahu dirinya tidak memiliki penis yang besar seperti di film biru. Lalu, menjadi terobsesi untuk mencoba memperbesar penisnya dengan cara apapun hingga bermuara menjadi seorang pria yang tidak pernah mencintai dirinya sendiri, khususnya penisnya sendiri.

Jika merunut ke belakang, obsesi penis besar selalu hadir karena dianggap berpengaruh terhadap hubungan di ranjang. Padahal, berdasarkan riset yang berjudul Am I normal? A systematic review and construction of nomograms for flaccid and erect penis length and circumference in up to 15 521 men, disebutkan bahwa ukuran penis tidak berkorelasi dengan kepuasan dalam hubungan seksual. Faktor kesehatan hingga variasi gaya bercinta juga punya peran yang tidak jauh berbeda dengan ukuran penis.

Baca juga: Ngomong Penis dan Vagina Dianggap Tabu, Pendidikan Seks Dipikirnya Urusan Ranjang Melulu

Harry Fisch dalam bukunya yang berjudul The New Naked: The Ultimate Sex Education for Grown-Ups menyebutkan, rata-rata panjang penis pria yakni 7,5 cm dan 11-15 cm saat ereksi. Walaupun begitu, ukuran tersebut tidak pasti dimiliki semua pria, karena pada dasarnya pria tidak bisa memilih menyoal besar kecilnya penis yang dia miliki. Sebab pengaruh gen dan hormon tidak bisa diintervensi secara total.

Jadi, jangan termakan dengan obsesi yang menggebu-gebu ingin memiliki penis besar, lalu menggunakan cara-cara di luar nalar demi membentuk penis menjadi seukuran pentungan satpam.

Paul Chrystal dalam bukunya In Bed with the Ancient Greeks (2016) menuliskan bahwa di zaman Yunani Kuno, penis besar adalah simbolisme sosok yang melanggar norma, vulgar, dan terkesan barbar. Itu kenapa banyak patung-patung pria dari Yunani kuno digambarkan memiliki penis yang tidak terlalu besar alias cenderung kecil.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

“Penis kecil cocok dengan idealisme Yunani soal ketampanan seorang pria. Penis besar adalah bahan olok-olok. Di panggung komedi, pemeran karakter ‘si bodoh’ pasti berpenis besar, menandakan kebodohan yang lebih dekat ke binatang buas ketimbang manusia,” jelas Paul.

Namun, kita tetap tidak bisa menyebut bahwa penis kecil lebih baik dari penis besar, atau sebaliknya. Karena sekali lagi, besar atau kecilnya penismu, yang terbaik dari semua itu adalah bagaimana kamu tahu cara memanfaatkannya dengan baik dan benar.

Obsesi yang besar dalam diri seorang lelaki ketika membandingkan penisnya dengan berbagai ukuran penis manusia lainnya tentu saja juga menjadi ladang bagi seorang lelaki untuk membuat self hate-nya membara.

Obsesi yang meresahkan itu justru sangat merusak secara emosional, kepercayaan diri, hingga merambah ke dunia percintaan. Ketidakpercayaan diri terhadap penismu sendiri benar-benar akan membunuhmu perlahan. Itu seharusnya sudah mulai dicegah ketika kamu merasa penismu yang sekarang tidak lebih baik saat membaca artikel tentang penis orang-orang Meksiko.

Artikel populer: Bagaimana kalau Pasanganmu Ternyata Suka Sex Toy?

Bro, ingat. Menjaga dan merawat penismu yang sekarang jauh lebih penting ketimbang terus-terusan memikirkan cara-cara seperti minum obat pembesar penis, diurut, hingga menempelkan lintah agar membesar.

Penis shaming sering kali membuat laki-laki insecure, namun sebetulnya jawaban dari semua itu sederhana saja. Kalau boleh meminjam logika ‘senjata’ yang selama ini diidentikkan dengan penis, maka camkan ini, Bro…

“Senjata akan tampak hebat, jika pemiliknya tahu dengan benar cara menggunakannya. Tahu dengan pasti kapan harus menggunakannya. Dan, tahu bagaimana cara merawatnya dengan percaya diri. Jika kamu tahu itu, tidak perlu resah atau takut. Senjatamu tetap sakti mandraguna, laras pendek atau panjang.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini