Tren ‘Bridal Shower’: Mulai dari Selempang ‘Belah Duren’ Hingga Hal-hal yang Tak...

Tren ‘Bridal Shower’: Mulai dari Selempang ‘Belah Duren’ Hingga Hal-hal yang Tak Kita Sadari

Ilustrasi (NGDPhotoworks/pixabay.com)

Salah satu hal yang paling saya syukuri saat ini adalah memiliki dua sahabat perempuan yang nggak tergila-gila dengan bridal shower. Yup, bridal shower memang lagi ngetren di Indonesia.

Bridal shower berbeda dengan siraman pengantin ala Jawa. Siraman, dalam budaya Jawa, termasuk dalam rangkaian prosesi pernikahan yang diadakan sebelum ijab kabul bersama keluarga dua mempelai.

Sementara bridal shower lebih sering menjadi ajang kumpul calon mempelai perempuan dengan teman-teman terdekatnya.

Sejarah bridal shower sendiri berawal di Belanda pada abad ke-16, ketika seorang perempuan dari keluarga terpandang hendak menikahi seorang lelaki miskin. Keluarga perempuan tidak menyetujui perkawinan itu, lalu menolak untuk memberi modal nikah.

Akhirnya, teman-teman calon mempelai patungan untuk membantu pernikahan tersebut. Bantuan itu berupa sumbangan uang dan berbagai keperluan rumah tangga. Namun, dengan zaman yang semakin berkembang, terjadi perubahan dari makna asalnya.

Bridal shower di kota-kota urban Indonesia biasanya diadakan oleh orang-orang terdekat calon mempelai perempuan. Sebagian besar lokasinya di restoran atau kafe yang instagrammable bangetlah.

Biasanya, teman mempelai datang duluan, menyiapkan dekorasi (bunga, taplak meja, lilin, kue, dan lain-lain), lalu menunggu sang ratu datang yang memang selalu datang belakangan.

Plot ini diatur seolah sebagai kejutan. Jika menjadi scene dalam buku, sudah tentu jadi plot twist yang buruk, karena gampang ketebak. Tapi, ya si calon mempelai terkadang pura-pura kaget. Dramalah, pokoknya.

Setelah itu, acara pun dimulai dengan memakaikan sash, tiara palsu, makan minum, bergosip (obrolan seputar malam pertama, seks, persiapan hari H, dan seterusnya), lalu swafoto.

Tak jarang, teman-teman menjahili sang calon pengantin, dari mencorat-coret mukanya dengan lipstik, memakaikan daster, atau meminta pengantin mengenakan selempang.

Seringkali calon pengantin diberikan selempang dengan ujaran-ujaran tak senonoh seperti ‘belah duren’, ‘menuju ena-ena’, ‘siap dibelah’, dan ujaran provokatif lainnya.

Pada satu sisi, bridal shower merupakan niatan baik dari kawan-kawan terdekat kepada sang calon manten. Bridal shower dianggap sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral. Pun, sebagai momen penting untuk seru-seruan.

Namun, di balik itu, ada beberapa hal yang tidak disadari banyak orang. Bridal shower juga turut melanggengkan stereotip gender yang menjadikan perempuan sebagai objek, sebagai pihak pasif terkait eksplorasi tubuhnya secara seksual.

Kata-kata ‘belah duren’ atau ‘siap dibelah’ juga bermasalah. Selain menempatkan perempuan sebagai objek, penggunaan kata ‘dibelah’ juga memposisikan perempuan pada posisi yang pasif dalam hubungan seks. Kata ‘dibelah’ sebagai alegori untuk ‘ditiduri’, alih-alih ‘meniduri’ atau ‘bercinta’ yang lebih netral dan inklusif.

Di Amerika Serikat, bridal shower diiringi dengan pemberian hadiah kepada calon mempelai. Kebanyakan kado bersifat domestik berupa peralatan rumah tangga. Seolah-olah tugas domestik sudah menjadi kewajiban dan hanya dilakukan oleh perempuan dalam sebuah rumah tangga.

Padahal, dalam sebuah hubungan yang setara, tugas domestik seharusnya dibagi antara suami dan istri, sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan masing-masing.

Selain itu, kebanyakan bridal shower juga dianggap sebagai pesta melepas sang sahabat sebelum terlambat, eh sebelum berumah tangga. Ada persepsi bahwa nantinya calon mempelai bakal lebih sulit diajak ketemuan, bila sudah menikah.

Secara nggak langsung, perempuan yang hendak menikah itu dianggap nggak punya kesadaran sendiri. Kalau sudah punya suami, berarti bisa diatur, mobilitasnya berkurang, dan nggak lagi memiliki kebebasan untuk sekadar ngumpul bersama teman-temannya.

Bagi saya, selain dari ajang rumpi dan foto-foto, bridal shower nggak memiliki signifikansi apapun. Jika ada, saya melihatnya sebagai salah satu bentuk pemasaran yang tidak berbayar dan kapitalisasi pernikahan itu sendiri.

Karena itu pula, ketika saya dan dua sahabat ngobrolin soal ini, kami sama-sama sepakat untuk tidak mengadakan satu sama lain nantinya. Selain memang nggak butuh, tapi kelihatannya hanya buang-buang duit.

Dan, lewat tulisan singkat ini, yang mana mengkritisi makna bridal shower, aih sedapp.., kami berusaha mewujudkan salah satu dari cita-cita bersama kaum perempuan seluruh dunia, yakni menghapus ketidaksetaraan gender.

Ciao!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.