Hospital Playlist (CJ ENM/tvN)

Menjadi peserta BPJS Kesehatan seperti bermain ular tangga. Iurannya tadi naik, sempet turun, eh naik lagi. Namun, komplain dari rakyat masih terdengar sumbang: pelayanannya gitu-gitu aja.

Dengan menaikkan premi asuransi kesehatan milik negara ini, pemerintah seolah memberikan sinyal permintaan tolong. Sebelum pandemi saja, BPJS Kesehatan sudah defisit. Kini minta bantuan rakyat karena talangan APBN tak mencukupi. Walaupun rakyat sendiri juga sedang terdampak kemerosotan ekonomi.

Padahal, konsep BPJS Kesehatan sudah baik. Yang sehat membantu yang sakit. Yang kaya membantu yang miskin. Namun, pada praktiknya, orang sakit bisa makin sakit karena pelayanan belum optimal. Dan, orang yang nyaris miskin bisa jatuh miskin karena iuran peserta menjadi relatif mahal.

Tentu saja, keruwetan itu sudah jadi tanggung jawab pemerintah dan petinggi BPJS Kesehatan yang bergaji besar. Rakyat biasa sudah pusing mikirin bayar iuran, tidak perlu ditambah beban pikiran untuk mencari solusinya.

Baca juga: Terciptanya Tatanan BPJS Kesehatan Tanpa Kelas Terasa Utopis

Di sisi lain, Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang juga dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan sebetulnya tiket bagi pasien miskin untuk bertemu dokter, tanpa perlu takut dengan biaya-biaya yang timbul kemudian. Sebab KIS disubsidi oleh pemerintah.

Idenya, dokter tidak hanya milik orang berduit. Orang miskin pun kalau sakit bisa berobat. Utopis sih, tapi bagaimanapun jaminan kesehatan sudah seharusnya menjadi hak dasar manusia.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, BPJS Kesehatan sempat diberitakan belum membayar klaim rumah sakit. Hal itu selalu menjadi kekhawatiran, karena bisa saja berimbas pada pelayanan rumah sakit terhadap pasien yang memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan. Dokter sebagai garda terdepan bisa berada dalam dilema antara kewajiban menolong orang sakit dan hak yang belum terpenuhi.

Nah, drama Korea Selatan bertajuk Hospital Playlist mencoba memanusiakan dokter dan mendokterkan manusia sejak episode pertama. Drakor bergenre medis humanistik ini menggambarkan kerapuhan dari sisi yang mengobati maupun yang diobati.

Seorang dokter tak hanya membantu menyembuhkan luka fisik, tetapi turut mendukung pasien dan keluarga pasien secara moral dan mental.

Baca juga: Kalau Ketemu Dokter atau Perawat, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Diceritakan, seorang pasien yang anaknya perlu dioperasi, eh, ibunya juga sakit. Ditambah punya suami patriarkis di rumah yang menuntutnya untuk menyiapkan makan untuk mertua. Lantas, merasa hidupnya paling malang sedunia.

Dokter yang mendengar keluhan itu jadi bersimpati dan membantu untuk operasi anaknya. Sampai keesokan harinya, pasien yang sama bersyukur betapa beruntungnya dia karena dipertemukan dengan sang dokter.

Ketulusan seorang dokter bisa mengubah keluhan pasien menjadi rasa syukur dan terima kasih.

Ketika tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien, dokter pun tidak kalah patah hatinya dengan keluarga yang ditinggalkan. Tanpa perlu mengeluarkan pernyataan “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin” ala sinetron televisi lokal untuk menunjukkan rasa empati.

Salah satu tokoh dokter di drakor ini begitu terpukul ketika pasien anak yang dirawatnya akhirnya meninggal dunia. Sampai ia pergi ke pemuka agama untuk pengakuan dosa. Berhubung pemuka agamanya adalah kakaknya sendiri, tebusannya adalah traktiran di restoran ayam goreng.

Baca juga: Tanda-tanda Relasi yang Sehat, Berkaca dari The King: Eternal Monarch yang Uwu-uwu

Kepada kakaknya, sang dokter mengaku ingin berhenti jadi dokter. Ia menitikkan air mata tanpa nyanyian Rossa dengan lirik, “Kumenangiiiiiis…” andalan sinetron religi kekinian.

Sang dokter ingin menuntaskan keinginan lamanya untuk banting stetoskop ke profesi lain. Namun, keinginannya ditolak. Kakaknya menyuruhnya bertahan satu tahun lagi.

Ternyata, rengekan sang dokter yang minta pensiun dini itu bukan kali pertama. Tahun sebelumnya ia juga pernah berniat berhenti, tetapi sang kakak menguatkannya dengan menyuruhnya bertahan. Begitu juga tahun-tahun sebelumnya.

Beruntunglah, sang dokter punya kakak yang menguatkannya ketika berada di titik terendah. Kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah berhenti jadi dokter, terus fokus jualan sepatu kebanggaan lokal dan berkolaborasi bikin masker dengan sebuah restoran ayam.

Hospital Playlist memperkenalkan berbagai dokter spesialis. Dari dokter spesialis anak, dokter ahli saraf, dokter ahli bedah unggulan, dokter spesialis penyakit saluran pencernaan, sampai dokter ginekologi yang kalau di Indonesia seperti dr Boyke. Kelimanya bertemu saat kuliah kedokteran. Mereka sempat bernaung dalam kelompok musik yang sama.

Artikel populer: Maunya Tetangga Kayak di Drakor Reply 1988, Nyatanya Tetangga Masa Gitu?

Ketika kelima sahabat ini masing-masing sudah jadi dokter profesional, dr Boyke Korea, eh, maksudnya dokter ginekologi tadi mengajak teman-temannya main band lagi. Kalau ada dr Tompi mungkin diajak juga jadi vokalisnya.

Itulah mengapa judul drakor ini Hospital Playlist. Sebab para dokter di sini hobi bermusik dan punya daftar lagu yang dimainkan. Kalau para dokternya hobi main game, mungkin judulnya jadi Hospital Play Station 5.

Di drakor ini, ada sosok manusia misterius bak malaikat penolong. Ketika ada pasien yang harus dioperasi tapi tidak punya uang, bisa meminta bantuan dana kepada ‘malaikat penolong’ tersebut. Tinggal telepon ke nomornya, voila! tagihan lunas. Keluarga pasien pun lega karena tidak perlu memikirkan biaya pengobatan.

Optimis saja, BPJS Kesehatan pun bisa menjadi ‘malaikat penolong’. Dimulai dengan menolong diri sendiri, tanpa perlu ‘menodong’ rakyat yang butuh pertolongan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini