Boleh kan Berharap Ada ‘Gundala-Gundala’ Lain? Eh tapi, Harapan adalah Candu

Boleh kan Berharap Ada ‘Gundala-Gundala’ Lain? Eh tapi, Harapan adalah Candu

Gundala (BumiLangit Studios)

Trailer resmi film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot sudah dirilis di YouTube. Dalam hitungan hari, cuplikan adegan dalam film garapan Joko Anwar ini ditonton lebih dari 600 ribu kali. Tentu saja, dengan berbagai macam komentar dari netizen maha benar.

Ada yang sangat mendukung dan antusias menunggu filmnya tayang di bioskop. Entah nanti beneran nonton atau tidak. Ada juga yang dislike dan nyinyir, kok filmnya suram, kok filmnya penuh adegan kekerasan atau sekadar tanya setting tahun berapa kok sudah ada TV LED layar datar. Yah, sebagaimana hukum reaksi ‘dukung-nyinyir’ di era milenial.

Tapi, siapa sih Gundala?

Adalah Ki Ageng Selo, salah satu tokoh yang menginspirasi Harya Suraminatan (HASMI) menciptakan superhero bernama Gundala. Konon, kata ‘gundala’ diadaptasi dari bahasa Jawa ‘gundolo’ yang berarti petir. Ki Ageng Selo sendiri disebut-sebut sebagai leluhur raja-raja Kesultanan Mataram. Itu berarti Ki Ageng Selo adalah tokoh penting dalam sejarah Nusantara.

Baca juga: Ketika Film ‘Superhero’ Indonesia Punya Dua Kubu ‘Universe’ seperti Marvel dan DC

Pada kemudian hari, kita mengenal Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Solo) yang merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram. Silsilah keturunannya sangat panjang. Sila browsing sendiri.

Ada satu cerita yang melegenda pada masa lalu. Mungkin cerita itu sudah jarang, bahkan tak lagi terdengar di telinga anak-anak milenial. Mungkin juga netizen yang budiman.

Cerita yang melegenda itu adalah peristiwa ketika Ki Ageng Selo berhasil menangkap petir ketika sedang bertani. Cukup masuk akal sebenarnya. Risiko orang berada di tanah lapang atau sawah sekalipun adalah kemungkinan tersambar petir. Jadi, para petani juga harus waspada terhadap petir.

Bagi masyarakat Jawa, mungkin sebagian masih sering melakukannya. Ketika melihat kilatan petir di langit, dengan sadar lalu berucap yang dalam bahasa Indonesia artinya, “Aku masih cucunya Ki Ageng Selo.” Supaya apa? Supaya tidak tersambar petir. Dengan logika si petir akan takut dan menjauh ketika kita menyebut-nyebut nama Ki Ageng Selo.

Baca juga: Orang Sering Keluhkan Bahan Pangan, Kini Saatnya Anak Petani Bicara

Iya sih, kesannya nggak masuk akal. Ada orang kok menangkap petir. Memang petirnya salah apa? Tapi itulah keragaman budaya kita.

Dari situlah karakter Gundala dibuat. Dengan nama asli Sancaka dan memiliki musuh bernama Pengkor. Kemampuan utamanya adalah mengelola energi petir menjadi kekuatan membasmi kejahatan dan ketidakadilan.

Tentu saja, film Gundala (2019) disesuaikan dengan gaya si penulis skenario sekaligus sutradara, Joko Anwar. Dengan ekspektasi yang jujur sangat tinggi ini, saya pribadi mengapresiasi (trailer) film ini. Karena nggak mungkin Joko Anwar menggarap film sekedarnya. Mustahil seorang Joko Anwar tidak mengerahkan segala kemampuannya meramu film ini.

Masalah sosial negeri ini pasti diangkat. Pasti. Mungkin masalah perburuhan seperti yang tampak pada trailer film Gundala.

Isu tentang film Gundala ini mencuat cukup tinggi ketika Joko Anwar mengumumkan bahwa ada #GundalaFanArt. Para kreator terutama di bidang visual grafis dipersilakan untuk membuat fan art tentang Gundala, dengan timbal balik berupa repost dari akun resmi Instagram @gundalaofficial.

Baca juga: Jika Keluarga Cemara Disutradarai Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Sineas Lainnya

Sebenarnya tim promosi film Wiro Sableng (2018) sudah melakukannya. Memang promo seperti ini sangat efektif. Pemanfaatan media sosial kekinian untuk memancing para kreator mengerahkan segala daya kreatifnya untuk membuat fan art dari superhero asli, ori bukan KW, dari Indonesia ini.

Salah satu karya yang cukup menggelitik adalah karya dari akun @goresan.dody yang di-repost oleh akun @gundalaofficial pada 25 Juni 2019. Dalam gambar tersebut terlihat satu orang (warga) yang membaca komik Gundala. Di sebelah warga itu, duduk Gundala yang mengangkat lampu bohlam di tangannya. Lampu itu dalam kondisi menyala di malam hari.

Sudah jelas pesannya bahwa kemampuan Gundala sangat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat. Gundala terjun langsung mengatasi persoalan listrik di Tanah Air. Sebuah persoalan yang juga bisa dibilang Indonesia banget.

Harapan itu masih ada. Tidak hanya harapan tentang masa depan film Indonesia, melainkan harapan adanya pahlawan-pahlawan yang memang peduli dengan rakyat. Para ‘Gundala’ lainnya. Para pencinta Tanah Air atau patriot yang terjun langsung mengatasi permasalahan yang dihadapi rakyat.

Artikel populer: Memangnya Kenapa kalau Nonton Bioskop Sendirian?

Jika Gundala benar-benar ada, tak akan ada lagi wilayah yang tak terjamah listrik. Tak ada lagi pemadaman bergilir. Tak ada lagi masalah kenaikan tarif dasar listrik. Minat baca pun meningkat. Semuanya terang, semuanya bertabur cahaya, meski itu pada malam hari.

Mungkin, Gundala memang tak ada. Tapi, Ki Ageng Selo yang terjun langsung ke pertanian, mengangkat rasa percaya diri dan memotivasi para petani supaya tidak takut petir ketika di sawah, pernah ada. Menangkap petir, berarti menangkap dan menyelesaikan masalah para petani.

Boleh kan berharap? Eh tapi, harapan adalah candu, kata Pengkor, salah satu musuh Gundala.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.