Ilustrasi. (Photo by Ryan 'O' Niel on Unsplash)

Pertanyaan bolehkah cewek nembak duluan sering membuat perempuan remaja dan dewasa muda kebingungan sendiri. Mereka takut mendapatkan stigma hanya karena berani menyatakan perasaan. Tapi banyak yang lupa bahwa Khadijah yang melamar duluan Muhammad.

Dulu, sebelum ada aplikasi kencan daring, ada yang namanya biro jodoh. Biro jodoh ini ditempatkan pada kolom surat kabar atau koran di bawah kolom iklan. Saat itu, lelaki akan mengiklankan dirinya untuk mencari pasangan. Jika ada yang tertarik, mereka bisa berkirim pesan sebagai sarana untuk saling mengenal melalui alamat yang tercantum di iklan tersebut.

Saat itu, lelaki yang memiliki pekerjaan tetap, terlebih PNS, dianggap sebagai lelaki yang diidam-idamkan dan diyakini bisa mendapatkan puluhan surat dari perempuan. Ya, perempuan di zaman itu punya keberanian mengirim pesan untuk menyatakan ketertarikan.

Tak jarang, pasangan yang jadian dari biro jodoh adalah orang-orang dari kota yang letaknya berjauhan. Banyak yang akhirnya menikah dari perkenalan melalui cara itu. Orangtua saya termasuk salah satunya.

Kalau sekarang kita malu kenalan lewat aplikasi kencan, apa kabar dengan orangtua kita yang mengiklankan dirinya di surat kabar, ya? Jadi sebenarnya nggak perlu malu.

Baca juga: Karena Menyatakan Cinta dan Ngegombal Adalah Hak Siapa Saja, termasuk Perempuan

Jika lelaki yang mengiklankan dirinya, maka perempuan akan pergi jauh-jauh ke luar kota hanya untuk menyambangi lelaki yang dia temukan melalui biro jodoh di koran. Mereka cukup berani untuk bertemu dengan orang-orang, yang bahkan belum kenal.

Kalau dulu ibu ke luar kota untuk bertemu bapak, saya pun pernah ke luar negeri dan lintas benua hanya untuk menyambangi dan bertemu lelaki yang saya kenal lewat aplikasi kencan daring. Yup, itu hal yang normal dan tidak perlu malu atau menyesal melakukannya, walaupun sekarang tidak lagi sama dia. Setidaknya punya kesempatan untuk saling mengenal.

Tentunya berkenalan dengan orang yang hanya kita kenal melalui surat kabar atau aplikasi kencan memiliki risiko yang sangat besar. Karena itu, kita tetap harus berhati-hati. Melihat profilnya di LinkedIn dan Facebook saja tidak cukup. Kita harus mengenali tanda-tanda merah yang menandakan bahwa orang itu berbahaya dan berisiko, jika kita ingin menemui dan berelasi dengannya.

Baca juga: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Balik lagi soal urusan nembak duluan. Jadi, bolehkah perempuan nembak duluan? Boleh! Tentunya kita harus punya inisiatif dan melatih diri untuk memiliki agensi menyatakan perasaan dan bertindak. Kalau nggak berani menyatakan perasaan, bagaimana kita mau menyatakan sesuatu, jika terjadi hal buruk dalam hubungan di masa depan?

Urusan nembak duluan ini dijadikan batasan, jika ingin berpacaran dengan orang lain. Tapi semakin dewasa dan memiliki berbagai relasi romantis dengan beberapa orang, menyatakan perasaan tak hanya dilakukan secara verbal, melainkan ditunjukkan melalui eksistensi diri untuk hadir secara emosional dan memberi dukungan penuh.

Dalam beberapa hubungan terakhir saya, tidak ada tanggal jadian yang jelas sebagai penanda kami bersatu. Yang ada, perasaan nyaman untuk tumbuh dan hidup bersama seiring waktu.

Tentu ada pembicaraan soal komitmen, entah itu komitmen ingin monogami atau ingin memiliki hubungan terbuka untuk berkencan dengan orang lain. Itu semua dibicarakan, pastinya melibatkan perasaan dan akal.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Menyatakan perasaan suka dan tidak suka harus dibiasakan, bahkan jika itu dilakukan kepada orang yang bukan pasangan. Semisal, ada orang yang membuat dirimu tidak nyaman dan terintimidasi, maka harus berani membicarakannya.

Jika memang berani menyatakan perasaan, harus berani juga menyatakan batasan.

Sering kali kita takut untuk menyatakan perasaan hanya karena takut ditolak. Ya kalau ditolak, itu tandanya bukan jodoh. Justru bagus kalau ternyata perasaan kita tidak sama dengan dia. Bisa langsung move on dan berpindah ke lain hati daripada berlarut-larut dalam perasaan suka yang tak terbalas.

Ada pula yang takut karena stigma dan anggapan murahan jika nembak duluan. Jika orang yang kita tembak menganggap kita sebagai perempuan murahan, ya berarti orang itu bukan orang yang baik. Buat apa meneruskan rasa suka hanya karena ia menganggap kita murahan? Segampang itu. Kalau memang perasaan tidak satu frekuensi bisa ditolak tanpa perlu memberi stigma murahan, kan?

Artikel populer: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Stigma perempuan murahan merupakan hambatan psikologis dari konstruk yang dibentuk agar perempuan menjadi submisif. Jika itu dibiarkan, bakal menyebabkan hubungan menjadi tidak setara.

Tak ada aturan bahwa perempuan nggak boleh nembak duluan. Itu bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi, yang justru dijamin dan dilindungi aturan selevel undang-undang. Nembak duluan itu demokratis.

Mari berlatih dan membangun agensi perempuan untuk menyatakan perasaan dan bersuara. Mulai dari relasi antar personal hingga relasi dengan negara sekalipun.

Jadi, kapan mau nembak doi duluan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini