Boleh Dicoba, untuk Kamu yang Sering Cekcok dengan Orangtua

Boleh Dicoba, untuk Kamu yang Sering Cekcok dengan Orangtua

Ilustrasi (Image by MoteOo from Pixabay)

Saya termasuk orang yang cukup sering ribut dengan ibu sendiri. Dari persoalan ideologis hingga yang receh sekalipun. Meski begitu, banyak juga waktu yang kami habiskan untuk saling support.

Hal serupa tentu dialami banyak orang. Hubungan antara anak dan orangtua yang kadang penuh konflik dan drama, kadang penuh canda dan perasaan bahagia.

Sebagai konselor, saya telah bertemu puluhan orang yang curhat tentang orangtuanya masing-masing. Bahkan, ada yang menyebut orangtuanya toxic. Hingga si anak sempat ingin bunuh diri. Tapi belakangan, sudah ada kabar baik. Ia menunjukkan bukti-bukti betapa besar cinta orangtuanya.

Fenomena tersebut sebetulnya wajar, tidak serta-merta dianggap sebagai kegagalan pola asuh dalam keluarga. Banyak keluarga yang mengalaminya. Beneran deh.

Seorang teman, kebetulan juga konselor, sering cekcok dengan orangtuanya. Menurut dia, kedua orangtuanya adalah sosok misoginis yang sering kali menyalahkan kelompok minoritas seksual sebagai penyebab terjadinya bencana alam. Setiap hari, dia harus berdebat keras dengan rasa tidak nyaman dan muak.

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Ada pula teman yang dalam situasi dan kondisi apapun selalu berseberangan dengan ibunya. Sang ibu yakin betul bahwa perempuan hanya numpang hidup di dunia laki-laki. Sementara, teman saya itu seorang feminis. Bisa dibayangkan perdebatan yang terjadi.

Ketika dia mengkritik habis-habisan seorang ustaz misoginis, yang selalu menakut-nakuti perempuan dengan dosa, ibunya malah memuji-muji si ustaz saat acara kumpul-kumpul keluarga.

Saking besarnya perbedaan mereka, jika menyampaikan pendapat pada waktu yang tidak tepat, bisa berakibat hilangnya jatah uang saku bulanan. Terbukti, dia sering kali mengungsi ke kosan saya. Hehe.

Namun, sekali lagi, ini merupakan fenomena yang sangat umum, selalu ada fase dimana orangtua kelelahan terhadap anaknya. Bingung mengapa segala hal yang telah diajarkan pada sang anak terasa sia-sia. Lalu, merasa menjadi orang yang ‘tidak beruntung’ karena sikap si anak jauh dari harapannya.

Begitu juga dengan anak yang sering kali merasa begitu rapuh dan sendirian. Merasa orangtuanya tak bisa menjadi supporting system seperti yang ia harapkan.

Problem antara anak dan orangtua memang lebih kompleks dibandingkan problem apapun. Sebab, mayoritas keluarga memiliki doktrin bahwa orangtua ibarat pusat tata surya. Semua harus condong dan mengikutinya.

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Banyak orang terlahir dalam keluarga yang penuh masalah. Mereka sering kali menghabiskan masa kecil sembari berharap suatu hari diberi kesempatan untuk menjauh dari orangtua mereka.

Seperti halnya bentuk relasi lain, relasi dengan orangtua pun tidak memiliki imunitas terhadap bentuk-bentuk ‘beracun’ yang dominatif dan saling menyakiti. Secinta-cintanya orangtua tetap berpotensi memberikan pengaruh negatif pada anaknya. Sebagaimana ketergantungannya si anak, ia tetap memiliki kemampuan untuk mematahkan hati orangtua.

Tetapi, kita perlu membaca ulang parameter ‘racun’ yang muncul dalam relasi ini. Jika ya, apakah ada obat penawarnya? Atau, jangan-jangan sudah pasti mematikan?

Lantas, bagaimana seorang individu dapat mempertahankan kebebasan dan kesehatan mental tanpa berkonflik dengan orangtua? Dapatkah dalam hubungan yang terasa memuakkan sekalipun, sesuatu yang positif seperti cinta kasih tetap bisa diselamatkan?

Terlebih, dalam masyarakat kita, ‘menghormati’ orangtua itu wajib hukumnya, terlepas dari kesalahan pada masa lalu. Sebaliknya, seburuk-buruknya anak, ia tetap darah daging dan tanggung orangtuanya.

Namun, terlepas dari itu, tak ada salahnya kita memahami polarisasi antar keduanya. Sebab, relasi dengan orangtua sangat berbeda dengan relasi lainnya. Jenis relasi ini ditopang tak hanya oleh konstruk sosial, melainkan kelekatan biologis.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Di dalam diri orangtua dilekatkan tanggung jawab serta bagaimana ego mereka dihancurkan. Kebahagiaan orangtua dipindah dan disematkan pada anak. Orangtua dituntut oleh masyarakat untuk menjadi ‘wakil Tuhan’ bagi anak-anaknya. Itulah mengapa ungkapan “Anak adalah titipan Tuhan” begitu diyakini.

Dalam kelekatan biologis, misalnya, seorang ibu yang mengandung bayi tak akan lagi memiliki otoritas tubuh. Segala hal yang terjadi pada tubuhnya sering kali terjadi karena perkembangan sang bayi. Seorang ibu yang membenci pepaya, bisa jadi mendadak begitu ingin menyentuh pepaya ketika sedang hamil.

Begitu juga dengan ayah. Sama seperti ibu, ayah akan mudah merasa gagal, jika anak tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Sebab itu, sebaiknya kita jangan terburu-buru memberi label ‘beracun’ kepada orang tua atau toxic parents. Menurut Psychology Today, orangtua dengan kepribadian ‘beracun’ mudah dikenali dari bagaimana mereka merasa terancam oleh kemandirian anak-anaknya ketika dewasa. Hal itu terjadi karena relasi dominatif yang tumbuh di antara keduanya.

Selama orangtua masih menjadi support system bagi anaknya untuk tumbuh dan berkembang, tidak menjadikan anak sebagai komoditas dan kapital, serta tidak pernah berniat menyingkirkan anak, sebesar apapun perbedaannya jangan terburu-buru menyebut mereka sebagai toxic parents.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Sebagai anak, perlu dipikirkan juga posisi orangtua ketika pikiran mereka tidak semutakhir dan seterbuka pemikiran kita. Bayangkan dulu, apakah orangtua sudah mengakses pengetahuan yang sama dengan kita? Jika kita merasa orangtua misoginis, misalnya, bisa jadi mereka hanya terjebak di lingkungan yang tidak tepat dan mereka tak punya pilihan lain.

Kita tak bisa memaksa mereka untuk sepemikiran sebagaimana mereka juga tak punya kuasa untuk menjadikan kita sesuai harapan mereka. Relasi keluarga akan sangat menyesakkan, jika terus menerus berekspektasi tinggi. Menurunkan sedikit ekspektasi dan mencoba berdamai dengan keadaan akan membantu kita sedikit legowo menerima perbedaan.

Alihkanlah kemuakanmu pada hal lain. Ini bukan soal balas budi, ini soal menjaga keluarga tetap teduh. Jadi, selama mamamu masih bertanya apakah akhir bulanmu menyenangkan, sesungguhnya dia bukanlah ‘racun’ bagimu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.