‘Body Shaming’ Nggak Lucu, Karena Cantik Itu Hanya Mitos

‘Body Shaming’ Nggak Lucu, Karena Cantik Itu Hanya Mitos

Ilustrasi (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan memang menjadi obyek paling rentan dieksploitasi luar dalam. Mulai dari fisik, psikis, seksual, bahkan finansial. Standar kecantikan merupakan salah satu bentuk eksploitasi.

Dan, rupanya media menjadi alat untuk menghegemoni masyarakat mengenai definisi dan standar cantik itu sendiri, yakni putih, langsing, wajah mulus, dan sebagainya. Standar kecantikan ini kemudian mengeksploitasi perempuan, menjadikan perempuan membenci tubuhnya dan merasa insecure.

Akibatnya, masyarakat yang terhegemoni gemar melakukan body shaming atau mengomentari ‘kekurangan’ fisik orang lain. Body shaming sering kali menjadi ‘bahan basa-basi dan guyonan’ dalam keseharian.

Seorang teman bercerita bagaimana ia mendapat perlakuan body shaming dari beberapa temannya. Beberapa komentar yang terlontar seperti “Tambah gemuk aja kamu!” atau “Berat badanmu berapa sih? Tinggimu berapa? Tidak proporsional berarti ya, tidak ideal”.

Baca juga: Lagi-lagi Perempuan Ditimbang dari Berat Badannya

Usai kejadian itu, ia bertekad untuk diet ekstra, beli berbagai macam obat diet hingga obat pencahar. Ia juga melakukan kebiasaan makan yang kemudian dimuntahkan (bulimia). Hal itu kemudian berdampak buruk.

Ia pernah menderita bulimia selama 2 bulan untuk mendapatkan validasi dari orang lain guna memenuhi standar kecantikan. Lha, memang kenapa sih kalau gemuk? Apakah keperempuanan seorang perempuan hanya diukur dari seberapa ideal berat dan tinggi badannya?

Body shaming dan menertawakan tubuh perempuan rupanya tidak selesai sampai di situ. Ketika teman tadi rela diet ekstra untuk membungkam mulut jahat teman-temannya, ternyata tidak berhasil. Ia memang berhasil menurunkan berat badannya hingga kurang lebih 12 kg dalam 2 bulan, namun ketika suatu hari berat badannya tampak turun drastis, teman-temannya kembali berkomentar.

Baca juga: Cara Memuji Tubuh Seseorang Agar Dia Tidak Merasa Tersinggung

Dalam kerumunan teman laki-laki dan perempuan, seorang lelaki tiba-tiba memperhatikannya dengan cermat, lalu memberikan instruksi kepada teman saya tersebut. Laki-laki itu bilang, “Eh, coba kamu berputar, kurusan kamu ya, mikir apa?” Komentar itu disambut gelak tawa oleh teman di sekelilingnya.

Seolah-olah itu lucu, mereka kira tubuh itu obyek stand up comedy?

Pengalaman serupa juga dialami teman lain, dimana ia selalu dikomentari mengenai wajahnya yang tidak mulus nan putih alias glowing sebagaimana standar kecantikan yang didiktekan pada perempuan.

Dia memiliki wajah yang berjerawat, ragam produk kecantikan telah dia pakai, berbagai obat herbal dia coba, namun rupanya tidak berhasil. Hampir setiap hari, dia mendapatkan komentar tidak menyenangkan dari teman-temannya, dan hampir setiap hari dia berhadapan dengan mulut-mulut jahat tersebut.

Ada saja pertanyaannya, dari sekadar basa-basi lupa diangetin seperti “Eh, mbak wajahnya kenapa?” sampai yang sok-sok’an merekomendasikan pakai produk inilah, itulah. Memangnya situ mau kasih duit berapa?

Baca juga: Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Keseringan body shaming sampai luput berempati. Bagaimana jika dirinya sendiri yang mendapat perlakuan seperti itu? Diolok-olok tubuhnya di depan banyak orang? Yang lebih memprihatinkan adalah komentar-komentar tidak menyenangkan tersebut keluar dari mulut orang-orang yang mengaku berpendidikan. Bahkan, dari para pembelajar ilmu psikologi.

Saya sebagai  salah satu pembelajar psikologi merasa malu, karena minimnya sensitivitas gender di kalangan calon konselor/psikolog. Mereka seharusnya memiliki empati yang tinggi agar tidak mudah blaming. Jika itu tidak ada, tidak heran banyak psikolog yang suka victim blaming terhadap korban kekerasan seksual.

Secara psikologi, body shaming tentu akan berdampak buruk terhadap psikis seseorang, dimana individu tersebut (korban) menjadi benci dengan tubuhnya alias tidak mencintai dirinya sendiri. Self love-nya memburuk, self acceptance-nya menurun, dan kepercayaan dirinya terlucuti. Bahkan, kondisi itu berpotensi menyebabkan gangguan psikologis terhadap individu berupa gangguan makan, seperti bulimia dan anorexia.

Artikel populer: Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Itulah mengapa definisi cantik atau standarisasi kecantikan sangat tidak ramah terhadap perempuan, mengeksploitasi perempuan luar dalam, baik fisik, psikis, seksual, maupun finansial. Standar yang sangat eksploitatif dan diskriminatif.

Sistem patriarki yang menstandarisasi kecantikan seorang perempuan sangatlah banal, mengeksploitasi perempuan sekaligus juga mereduksi nilai-nilai kemanusiaan dalam memandang perempuan. Perempuan yang dianggap memenuhi standar kecantikan memiliki keistimewaan dibandingkan perempuan lain yang tak berhasil memenuhi standar tersebut.

Di situlah, parameter cantik itu menjadi kian diskriminatif. Tidak dapat dipungkiri bahwa standar kecantikan tersebut yang kemudian memotivasi individu untuk berperilaku body shaming. Kemudian, body shaming tersebut akan berdampak negatif terhadap kondisi mental dan psikologis seseorang.

Lantas, siapa yang harus bertanggunjawab memulihkan kesehatan jiwa mereka (korban)? Sementara, masyarakat kita masih sakit (patriarkis), akademisi minim kesadaran gender, bahkan tenaga profesional pun tak memiliki sensitivitas gender.

Terakhir, untuk kalian yang hobi body shaming, plisss deh stop! Sebab, body shaming itu nggak ada lucu-lucunya. Teruntuk Puan! Kuy ah, bangun kesadaran bahwa keperempuanan kita tidak ditentukan oleh standar kecantikan yang eksploitatif nan diskriminatif. Lagipula, cantik itu hanya mitos.

1 COMMENT

  1. Saya termasuk org yg setuju kalau standar cantik itu “relatif”. Tp menyebut itu cuma mitos?? Terlalu SJW.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.