Bisakah Feminis Menjalin Relasi yang Harmonis dan Romantis?

Bisakah Feminis Menjalin Relasi yang Harmonis dan Romantis?

Ilustrasi (Photo by Shelby Deeter on Unsplash)

Suatu hari, ketika makan malam bersama teman-teman perempuan yang mendaku dirinya sebagai feminis, seseorang sempat mengumumkan rencana pernikahannya. Raut wajahnya tampak begitu bahagia. Akhirnya tiba juga salah satu milestone krusial dalam hidup.

Namun, beberapa teman terlihat kaget, bahkan ada yang nyeletuk, “Buru-buru banget sih.” Dan, ketika dijelaskan maksud dan tujuan dari pernikahan tersebut, tiba-tiba ada yang memotong pembicaraan. “Kalau kamu diselingkuhin gimana? Kalau dia mukulin kamu nanti gimana?”

Padahal, teman yang mau nikah tadi pacarannya nggak sebentar, lebih lama dari cicilan kulkas saya di rumah. Pastinya mereka sudah saling kenal dan tahu harus bagaimana. Semua itu adalah pilihan.

Menikahlah, sebab pada dasarnya feminisme tidak membenci pernikahan. Menikah juga tidak akan melunturkan narasi feminisme-mu. Jika ada yang berpikir sebaliknya, itu stereotip belaka.

Sesungguhnya, stereotip tersebut bukan hal baru di kalangan masyarakat kita. Menjadi perempuan feminis seolah-olah menabuh genderang perang terhadap laki-laki, beserta produk-produk masyarakat patriarki seperti pernikahan konvensional. Nggak gitu juga, keleus.

Baca juga: Baru Usia 20-an, tapi Sudah Begitu Cemas Ingin Menikah

Saya sendiri sering diceletuki oleh beberapa teman, baik laki-laki, perempuan, maupun gender ketiga, seperti “feminis tapi sayang suami” atau “feminis tapi bucin”. Ya pokoknya celetukan yang seakan-akan feminis itu jauh dari relasi yang romantis. Seolah-olah feminis itu sudah pasti anti pernikahan.

Memang sih, kalau ditelisik lebih dalam, pernikahan menjadi salah satu lokus yang cukup sering terjadi kekerasan terhadap para perempuan. Simak saja catatan tahunan Komnas Perempuan. Pada 2018 saja, terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani, naik dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466 kasus.

Sebagian besar data bersumber dari kasus atau perkara yang ditangani oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama. Data ini pun didominasi oleh berbagai jenis kekerasan dalam rumah tangga sebesar 71%. Ngeri banget.

Pernikahan dalam masyarakat yang patriarkis misoginis sungguh sangat berisiko. Masyarakat menganggap pernikahan sebagai sebuah perpindahan atas kepemilikan tubuh perempuan dari keluarga yang diwakili oleh ayah menuju sosok patriarkal lainnya: suami.

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Dalam analisis feminisme, perempuan hanya menjadi objek pertukaran dan perpindahan. Menjadi subordinat dan tak memiliki otoritas dalam pernikahan yang patriarkis. Perempuan dipaksa mengemban beban berlapis, dari tugas reproduksi, pengasuhan, hingga tugas domestik lainnya.

Belum lagi, tugas-tugas memuliakan melayani suami, seperti selalu siap sedia diajak berhubungan seksual, harus nurut semua kata suami dan keluarga, hingga kudu tabah dan sabar dengan segala risiko eksploitasi yang mungkin muncul.

Duh, ngeri banget sih mbak-mbak feminis ini, kan gak semua pernikahan begitu, mbak…

Tidak semua tentu tidak membuat kita buta dan enggan melihat realita. Angka kekerasan menunjukkan keterlaporan dan itu menvalidasi subordinasi yang terjadi pada perempuan. Kita tidak boleh menegasikan korban kekerasan dengan dalih “tidak semua pernikahan menderita dan tidak harmonis”.

Seorang feminis pastinya anti dengan pernikahan yang tidak harmonis, misoginis, dan patriarkis. Feminis juga mempercayai bentuk-bentuk regenerasi umat manusia, seperti dalam ulasan antropolog Lewis Henry Morgan perihal bentuk-bentuk awal regenerasi keluarga dalam bentuk klan yang sangat matriarkal.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Siapapun berhak membangun keluarga yang harmonis, termasuk feminis. Keluarga merupakan lokus terkecil dari relasi sosial, dan menikah adalah salah satu jalan yang bisa menawarkan harapan. Persoalannya, sama siapa kita akan membangun keluarga? Uhukk…

Kita tak bisa berharap membangun sebuah relasi harmonis, jika kita atau partner masih skeptis tentang hubungan yang tidak patriarkis. Pastikan dulu isi celana kepala, apakah kita telah adil sejak dalam pikiran?

Dengan demikian, kita dapat menjalani pernikahan yang mengakomodasi hubungan setara, seimbang, penuh dengan konsensus, dan minim risiko untuk saling menyakiti. Hal ini dilakukan melalui dialog yang berimbang, pembagian kerja, serta ruang privat yang adil dan ideal.

Khusus kamu yang perempuan, tinggal pasanganmu mau mendukungmu atau tidak? Tapi percayalah, masih ada lelaki yang adil sejak dalam pikiran, meski mereka tidak terlalu banyak. Hanya ‘laki-laki baru’ atau sekutu feminis yang membuka diri dengan dialog berimbang dalam sebuah relasi.

Artikel populer: Lagi Ngetren Pernikahan Intim, Memang Seberapa Intim?

Kalau pengalaman pribadi, suami saya selalu bilang, “Tak ada lelaki feminis, yang ada lelaki yang pikirannya berubah karena diperbarui oleh para perempuan di sekitarnya”. Proses membangun relasi ini juga jangan dirasa akan mulus. Tentu, akan ada dialog panjang yang penuh konflik, argumen, dan ungkapan kasih sayang. Ehm.

Dan, tak ada relasi yang bebas tangisan, sesekali menangis karena rindu tak akan melunturkan jiwa feminismu. Sebab feminis juga romantis. Ada?? Banyak!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.