Ilustrasi perempuan memperhatikan layar ponsel (Photo by Elijah O'Donnell from Pexels)

Kehadiran segambreng media sosial di era digital bukannya dimanfaatkan untuk menguatkan akal, tapi malah buat pelampiasan alat kelamin jempol yang gatal.

Semisal, ketika saya posting status atau foto diri, ada saja tanggapan yang aneh-aneh di inbox atau via direct message (DM). Begitu juga saat komentar di beberapa akun atau laman media sosial. Terkadang pesan yang masuk nggak ada hubungannya dengan posting-an.

Sewaktu nulis komentar di salah satu posting-an foto laman mantan pemain bola dunia, Paolo Maldini, komen saya singkat saja: “Send you a kiss from Indonesia, we miss you in your soccer uniform.”

Selang beberapa lama, muncul notifikasi pesan masuk. Dari sekian pesan yang ada, hanya satu yang bunyinya seperti ini: “So, you are Paolo Maldini fans too?” Lalu, sisanya? Kurang lebih seperti ini: “Do you want to see me with soccer uniform too, with underwear only?”, “Could you give me a kiss too with your sweet lips?”, dan “Hey bitch, wanna kiss me?”

Iya sih, itu di rimba dunia maya. Banyak yang nggak jelas. Tapi tetap nggak bisa gitu dong. Dan, jangan salah, orang-orang yang kita kenal secara personal di dunia nyata juga terkadang nggak kalah mesumnya. Ih, segitunya.

Baca juga: Jawaban untuk Kamu yang Suka Kirim Pesan Mesum

Makanya, pas ada podcast yang membahas tentang DM yang diterima oleh beberapa selebgram, yang isi DM-nya nggak banget, jadi nggak heran sih. Namun, hal ini harus menjadi concern kita semua.

Rata-rata perempuan pengguna medsos yang mendapat pesan mesum hanya bisa diam, nyuekin, atau ngedumel sendiri. Nyaris nggak ada yang membahasnya secara khusus, apalagi mengambil tindakan. Tapi memang sih, ketika perempuan speak up, ujung-ujungnya malah disalahin sama rang-orang.

Coba deh, posting foto dengan berbagai gaya. Kalau ada komentar yang cenderung mesum, jawab saja dengan tegas atau call-out. Biasanya ada yang komen kurang lebih begini: “Makanya nggak usah kebanyakan gaya, nggak usah pakai baju seksi-seksi segala, kalau nggak mau dikomentarin mesum atau sampai ditawar open BO segala.”

Ya gitu, giliran kita bahas malah disalahin sama nitijen-nitijen. Lagian, pliss deh nggak usah menjustifikasi perkara baju. Nyatanya, mbak selebgram yang pakai jilbab tetap dapat DM mesum.

Mau sampai kapan sih kata “seksi” hanya dilekatkan pada pakaian mini perempuan? Kata “seksi” itu artinya luas loh dan genderless. Cek lagi KBBI deh, apa arti kata “seksi”? Tenang, nggak makan banyak kuota kok dibanding ngejulid posting-an orang lain.

Nah, kalau udah, coba dengar suaranya Enrique Iglesias ketika nyanyi, seksi kan? Atau, kecerdasan seorang Sri Mulyani Indrawati, ‘killer‘ lah seksinya.

Baca juga: Kepada Lelaki Nusantara yang Masih Nafsu dan Nyinyirin Pakaian Seksi

Sik, balik lagi ke perkara DM-DM mesum yang sering banget diterima netizen perempuan, siapapun dia, apapun profesinya.

Memang betul, mesum adalah hak personal setiap orang. Tapi, yang menjadi masalah, ketika kemesuman itu tak terkendali, lalu dilampiaskan dan merugikan orang lain. Kalau kamu merasa bagian dari a man with dignity seharusnya nggak sembarang melampiaskan. Mbok ya beli sex doll atau self service bisa tho?

Tapi nyatanya sampai saat ini sulit deh. Buktinya, sebagian besar perempuan pengguna media sosial pernah mengalami pelecehan seksual dan bullying di ruang publik maupun DM. Lentera Sintas Indonesia, Hollaback! Jakarta, perEMPUan, dan Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta pernah mengadakan survei kepada netizen mengenai kekerasan seksual di ruang publik.

Dari survei yang ada, mereka menemukan fakta bahwa dari 62.224 responden dengan 38.766 responden adalah perempuan, terdapat 64% perempuan mengalami kekerasan seksual online. Sedangkan dari 23.403 responden laki-laki, hanya 11% responden yang pernah mengalami hal serupa di ruang publik.

Baca juga: Oke, Fix! Kita Hidup di Negara ‘Rape Public’

Which is, 3 dari 5 perempuan mengalami pelecehan seksual di dunia siber. Perempuan 13 kali lebih rentan mendapatkan pelecehan seksual di ruang publik.

Sayangnya, komen atau pesan mesum tadi belum menjadi perhatian khusus. Bahkan, banyak orang menganggap itu lumrah dengan dasar asumsi bahwa setiap orang yang aktif di media sosial harus siap menerima segala risiko. Itu orang nggak pernah baca aturan main di beberapa platform sih ya. Tapi jangankan itu, wong pelecehan seksual verbal di jalan saja dianggap lumrah sama mereka kok. Apalagi ini di media sosial, pas protes malah diketawain atau dibilang baperan.

Kamu sering dengar kalimat seperti ini: “Gitu doang marah, cuma bercanda kok. Lagian nggak bikin luka kan, nggak ada lecetnya kan? Ini kan cuma candaan, cuma kata-kata, nyenggol juga nggak, boro-boro nyentuh atau memperkosa.”

Ya kali nunggu jadi cerita perkosaan dulu gitu supaya dianggap sesuatu yang tidak lumrah? Eh tapi, perkosaan kadang dianggap lumrah juga sih sama sebagian orang.

Hal lain yang memprihatinkan selain dianggap lumrah adalah, pelecehan seksual di dunia siber jika dibawa ke ruang publik terkadang malah menjadi ‘bumerang’ bagi korban. Bagaimana kisah Baiq Nuril yang malah sempat jadi tersangka gara-gara speak up tentang pelecehan seksual online yang dialaminya.

Artikel populer: Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Ini gimana kita mau ngomongin perkara “women’s rights in the cyber space and the related duties” yang mengatur hak-hak perempuan di dunia siber yang sama pentingnya dengan hak di dunia nyata? Ngomongin tentang pasal 28 G ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang mengatur hak atas keamanan dan privasi saja dianggap lebay.

Padahal, ini bukan perkara lebay atau baperan. Ini perkara hak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman di dunia siber. Lagi pula, kenapa ya para lelaki suka hilang kendali, kirim-kirim pesan mesum lewat DM ke perempuan?

Seandainya ibu mereka yang menjadi korban, dijadikan objek candaan dan pelecehan seksual di dunia siber, apa jadinya?

1 KOMENTAR

  1. susah sih memang, dari dulu masalahnya laki-laki sih sebagian besar…susah buat ngendaliin hawa nafsu…cenderung frontal…sepengatahuan saya, bukan satu atau dua orang saja yang di dm sama satu orang tapi ada ratusan…ibarat mancing…giliran ada yang nyamber itu yang disikat….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini