Foto ilustrasi. (Image by Angeline 1 from Pixabay)

Sebelum pebisnis dunia digital memperkenalkan metaverse, waralaba Spider-Man sudah lebih dulu menyuguhkan multiverse. Konsep dimana ada semesta alternatif selain semesta yang kita kenal saat ini. Termasuk manusia-manusia lain dalam varian berbeda.

Di antara banyaknya cabang multisemesta, yang menjadi Spider-Man tidak hanya Peter Parker, ada Gwen Stacy dan Miles Morales. Spider-Man versi Peter Parker sendiri pernah diperankan tiga aktor berbeda, yaitu Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland.

Marc Webb sang sutradara film (500) Days of Summer sempat mengarahkan dua film The Amazing Spider-Man. Berbeda dengan Spider-Man versi Sam Raimi, Spider-Man versi Marc Webb banyak dibenci penggemar, sama seperti tokoh rekaannya di film Webb sebelumnya, yaitu Summer. Padahal, Webb sudah cocok dengan gambaran Spider-Man karena namanya bisa diartikan jaring.

Spider-Man dikenal dengan julukan friendly neighborhood. Bisa dibilang Spider-Man merupakan tetangga yang ramah. Apalagi, kalau dilihat dari kacamata Mary Jane yang secara harfiah memang tetangga sebelah rumah Peter Parker. Ketika mereka berdua berkencan, jadilah pacar lima langkah.

Baca juga: Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Di film Spider-Man: No Way Home, Peter Parker sempat terlibat kasus hukum. Identitasnya sebagai Spider-Man dibongkar oleh media milik J. Jonah Jameson. Sudah begitu, Spider-Man di-framing sebagai penjahat yang membunuh Mysterio.

Namun, Peter bisa lolos dari jerat hukum. Berkat didampingi pengacara yang cakap sekelas Matt Murdock alias Daredevil. Kalau Spider-Man tinggal di Indonesia, bisa saja alasan tidak ditahan karena sopan di depan hakim.

Walaupun tidak mendapatkan sanksi hukum, Peter dan teman-temannya yang terlibat dalam proyek di film Spider-Man sebelumnya mendapatkan sanksi sosial. Bahkan sanksi akademik, yaitu ditolak kampus favorit.

Dari situlah, Peter pergi ke dukun untuk meminta bantuan. Satu-satunya dukun yang dikenalnya adalah Doctor Strange. Doctor Strange pun merapalkan mantra agar semesta melupakan Spider-Man adalah Peter Parker. Namun, Peter malah merecoki ritual Doctor Strange dengan permintaan yang aneh-aneh.

Baca juga: Membayangkan Fenomena ala Hellbound dengan Latar Metaverse

Akibatnya, Doctor Strange belepotan saat komat-kamit baca mantra. Peter Parker pun ‘disembur’ sang dukun karena membuat ritual berantakan. Imbas dari malapraktik Doctor Strange, dua varian Spider-Man dan musuh-musuhnya dari film sebelumnya masuk ke semesta utama.

Spider-Man pernah melawan mentornya sendiri, yaitu seorang dosen bernama Dr. Otto Octavius yang nantinya menjadi jahat sebagai Doctor Octopus. Mirip dengan mantan mahasiswa yang melawan mantan rektor di kampusnya dulu. Bedanya, kini mereka bertarung di panggung politik.

Nah, Doctor Octopus muncul kembali untuk melawan Peter Parker yang bahkan belum masuk kuliah. Selain Doctor Octopus, terseret juga ilmuwan gila lainnya seperti Norman Osborn yang punya kepribadian ganda sebagai Green Goblin.

Sandman, Electro, dan Lizard pun turut meramaikan suasana. Sebenarnya, Venom juga ikut terseret masuk ke semesta ini. Berhubung sudah solo karier, Venom hanya numpang lewat. Lagi pula kalau Venom terlalu ikut campur, penonton bakalan kembali menyaksikan Peter Parker-nya Tobey Maguire versi emo joget-joget nggak jelas karena efek symbiote.

Baca juga: Healing ala Hawkeye di Tengah Meniru Idola dan Bad Influencer

Dengan musuh yang segambreng itu, Peter Parker pun mendapatkan dukungan Peter Parker-Peter Parker dari semesta alternatif. Sebelum beraksi sebagai Spider-Man, mereka bekerja sama di lab untuk menciptakan obat yang menyembuhkan penyakit musuh-musuhnya. Sebagai Peter Parker yang terkenal kecerdasannya, mereka bertiga tampak kompak seperti regu cerdas cermat tingkat kabupaten.

Ketika menjalankan misi multisemesta tersebut, para Peter Parker sempat curhat tentang masalah asmara masing-masing. Ada Peter Parker yang hubungan asmaranya sedang gantung. Ada juga Peter Parker yang ditinggal mati kekasihnya.

Di versi film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse, malahan Peter Parker itu sendiri yang meninggal saat bertugas. Ada juga versi Peter Parker yang sempat menikah dengan Mary Jane, lalu bercerai karena alasan Peter Parker belum siap memiliki momongan.

Intinya, setiap Spider-Man punya MJ masing-masing. Spider-Man versi Tobey Maguire punya Mary Jane. Spider-Man versi Tom Holland punya Michelle Jones. Bahkan Ahmad Dhani juga ikut-ikutan punya MJ alias Mulan Jameela.

Artikel populer: Seandainya Eternals Punya Grup WhatsApp

Di Indonesia pun bisa jadi ada varian “Spider-Man” yang tidak kita sadari. Bedanya, “Spider-Man” lokal ini tidak panjat dinding, lalu naik gedung, melainkan panjat sosial, lalu naik status. Senjatanya pun bukan jaring laba-laba, melainkan jaringan internet.

Peter Parker ditanamkan ideologi dalam benaknya “Di balik kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang besar” oleh sang paman atau bibinya. Itulah yang membuat Spider-Man mau repot-repot menyelamatkan semua orang dengan kekuatan supernya. Termasuk memperbaiki moral musuh-musuhnya yang sudah toksik.

Namun, kalau varian “Spider-Man” di Indonesia, mungkin malah dapat pemahaman “Di balik kekuatan yang besar, ada uangku mampu”. Bukannya menolong semua orang, malah meminta bantuan ke banyak orang dengan kekuatan uang, seperti doxing identitas hater atau kabur dari karantina (sebab “Spider-Man” yang ini tidak bisa lompat dari gedung Wisma Atlet). Jadinya malah “With great power comes abuse of power”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini