Ilustrasi. (Image by mohamed Hassan from Pixabay)

Menteri kecantikan?? Hmmm… cukup menggelitik, bukan?

Pasti kehadirannya bakal langsung menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang pro berasal dari kalangan pemuja standar kecantikan. Lahiriah, sesuai standar patriarki. Sementara, mereka yang kontra memprotes, “Lu kira perempuan cuma urusan penampilan luar doang? Lagian, cantik itu apaan sih?”

Btw, laki-laki pun ada yang tampil menawan, loh! Ada “beautiful men” dan “beautiful people” juga.

Makanya, jabatan menteri kecantikan nggak semudah menyematkannya di bio akun media sosial. Tapi, kalau seumpama ada, ini yang bisa dilakukan untuk kepentingan rakyat. Demi Indonesia yang lebih cantik.

Baca juga: Saat Perempuan Dituntut Cantik dan Laki-laki Dituntut Kaya

Pertama, pastikan semua warga bisa bahagia dulu. Bukankah rasa bahagia bisa membuat orang merasa lebih cantik? Tapi… tapi… nanti industri kecantikan bakal lesu. Terus, nggak ada produk yang bisa di-endorse lagi deh.

Yowis, kalau gitu bikin program yang menawarkan beragam pilihan untuk mereka yang merasa ‘cantik banget’, ‘cantik aja’, ‘cukup cantik’, hingga ‘kurang cantik’. Mulai dari kursus ‘kecantikan’, kelas-kelas olahraga, hingga program gizi seimbang. Gratis!

Jangan sampai ada kasus alergi karena keracunan bahan pada skincare. Jangan sampai ada yang cedera karena olahraga berlebihan. Jangan sampai ada yang kurang gizi, apalagi mati kelaparan.

Tentu ini memerlukan koordinasi dengan menteri kesehatan, menteri sosial, ataupun pejabat lainnya, ciyeee. Lagi pula, cantik itu sehat dan bahagia, bukan malah jadi sakit dan menderita.

Baca juga: Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Jangan lupa selalu cek privilese. Apa, sudah? Baiqla… Semisal menteri kecantikan, tentu punya kuasa, akses dana dan informasi, manajemen waktu, hingga akses kesehatan. Manfaatkan privilese itu agar warga juga punya akses. Bisa beli skincare bermutu, ikut program diet aman, fasilitas kebugaran, kursus gratis via media sosial, hingga operasi plastik.

Lho, kok oplas? Selama itu keputusan pribadi dan bukan karena ejekan orang lain, termasuk keluarga sendiri, itu sih pilihan masing-masing. Ngapain kita usil? Yang penting, yang punya tubuh happy dan nggak ngemis-ngemis biaya operasi.

Oh ya, satu lagi. Sebaiknya hindari menuduh mereka pemalas atau enggan merawat diri. Menteri kecantikan selaku pejabat publik mesti jeli melihat realitas di lapangan. Banyak perempuan yang nggak punya waktu luang untuk berolahraga maupun berdandan. Dalam hal ini, bisa berkolaborasi dengan menteri pemberdayaan perempuan tentang kesetaraan dalam rumah tangga. Harus ada pembagian peran yang adil.

Bukankah untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera bisa dimulai dari unit terkecil semacam keluarga atau rumah tangga?

Baca juga: Menjawab Pertanyaan “Lebih Cantik kalau Pakai Jilbab atau Lepas Jilbab?”

Buat bapak-bapak, jangan cuma bisa mengeluhkan “istri selalu dasteran nggak pernah dandan, beda sama waktu pacaran”, tapi nyatanya enggan berbagi peran.

Kalau nonton film Kim Ji-young, Born 1982, perhatikan adegan saat suami meminta Ji-young di rumah saja, setelah istrinya itu berhenti bekerja di luar rumah. Si suami bilang, “Ya sudah kamu istirahat saja di rumah.” Sontak, perkataan itu langsung dipotong oleh Ji-young dengan berkata, “Apakah mengurus rumah adalah istirahat?”

Dalam film Korea yang Indonesia banget itu, Ji-young juga bilang ke psikiaternya, “Kadang-kadang aku merasa bahagia. Tapi kadang-kadang aku merasa seperti terkunci di suatu tempat.”

Artikel populer: Influencer di Dunia Siber: Sedikit Blunder, Jatuhnya Abuse of Power

Balik lagi soal menteri kecantikan atau menkec (duh, nggak enak banget singkatannya, ya?).

Betul, media sosial kini punya peran strategis terkait komunikasi massa. Negara tidak boleh kalah dari beauty influencer. Kalau mau komentar, misalnya purely soal film, pastikan jangan bawa-bawa fisik pemerannya. Kasih komen yang berkelaz gitu, contohnya soal kualitas akting. Atau, kasih saran soal fesyen.

Kemudian, sampaikan tentang definisi kecantikan itu seperti apa, tentunya yang tidak eksploitatif. Memang sih, setiap orang punya selera masing-masing. Tapi jangan sampai memaksakan selera, lalu yang nggak sesuai selera, dikomentari “buriq”.

Alamat besoknya didemo massa, mundur sekarang juga!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini