Orang Selalu Bicara Papua, Sekarang Saatnya Mendengar

Orang Selalu Bicara Papua, Sekarang Saatnya Mendengar

Ilustrasi (New York Times)

Bicara memang paling mudah, tapi kalau sudah diberi fakta, lain acaranya. Semua merasa menjadi orang yang paling tahu apa yang dibutuhkan Papua, apa yang diharapkan masyarakat Papua, giliran disuruh ke sana, masing-masing minggir dengan sendirinya.

Cobalah hidup di tanah Papua, tanah yang selama ini selalu dianggap tanahnya masyarakat yang paling primitif dan tak berbudaya. Padahal, budaya kami sangat kaya. Kami masih menjaga keaslian budaya, tak teracuni apa itu, K-Pop?

Tidak, kami masih setia dengan koteka, dengan bakar batu untuk duduk bersama, menikmati anugerah sang pencipta. Kami pun masih menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.

Di tanah Papua semua ada, bukan hanya tentang emas yang katanya membuat kami kaya, nyatanya tinggal sisa belaka.

Cobalah tengok anak Papua yang hidup dan belajar di tanah Jawa. Yakin, kalian tak menyangkal keberadaan kami? Menganggap kami asing hanya karena warna kulit kami berbeda? Hanya karena kami lantang saat berbicara? Banyakkah pintu akan terbuka saat kami mengetuknya?

“Ah pace, mace, ko tau, kita pi jalan cari kontrakan saja susah sampe, karna kami Papua, dong anggap kami hanya biang keributan saja.

Kami lantang bukan karena kami tak tahu diri. Kami lantang karena kami kuat, terbiasa bicara apa adanya, bukan bicara karena ingin disuka.

Kami bicara dengan bahasa kami, bahasa anak rantau yang mengharap tangan bersambut sebagai saudara, bukan pintu tertutup menganggap kami hanya ilusi semata.

Coba-cobalah hidup di tanah Papua, ada banyak cinta yang ada, tak hanya lewat sapa, tapi juga pintu yang terbuka. Senyum sapa kami, tak berbeda dengan Raja Ampat yang manisnya melegenda. Tak hanya sagu, sageru, kasbi, dan keladi.

Tak usah kau risau akan babi, tak sembarang tamu kami suguhi babi. Hanya obrolan tentang cinta pada negeri, yang seperti cinta orang patah hati.

Kawan, kau bicara tentang Papua, seolah ia sama dengan Jawa. Jangan samakan Jawa dengan Papua. Seringkali kami dilirik hanya karena Pemilu dan Pilkada.

Marilah kemari, mungkin kau akan tahu tentang Malaria, pun rindunya anak-anak ODHA bisa hidup dengan tawa. Atau, tentang jalan-jalan kami, yang banyak berlubang dan jauh dari aspal.

Ini Papua kawan, bukan hanya tentang cantiknya Cendrawasih, sang burung Irian. Bukan hanya surga Raja Ampat, candu lembah Baliem, atau eloknya Puncak Jaya yang berselimut keabadian. Tidak kawan, Papua lebih dari itu.

Lebih dari sekadar perjalanan 3-5 jam medan berat dari satu distrik ke distrik lainnya. Lebih dari sekadar listrik yang tak menyala di semua tempat, juga tentang guru yang enggan datang meski kami telah mengundang.

Saat kau sibuk dengan gadget kekinian, kami punya sinyal pun seringkali tak datang. Jika pelita bagi kalian adalah nyanyian hati, maka bagi kami adalah makanan sehari-hari.

Jangan harap bertemu antrian gas tiga kilo, sementara tungku kami menyala bagai anglo. Hanya minyak tanah yang kadang kala dicari begitu susah. Tanyalah mace-mace bersirih pinang, apa mereka kenal Facebook?

Pi sekolah tinggi, biar bisa bangun negeri. Jang pikir mama bapa punya susah di sini, asal anak bisa sekolah tinggi, pintar sedikit bisa jadi menteri.”

Kami Papua, bukan kami tak mampu, hanya seringkali jalan begitu kelabu. Berharap bapak guru datang mengajar, tak hanya saat mulai lewat masa mengajar. Jangan tengok kaki kami yang seringkali tak mengenal sepatu, karena ke sekolah pun kami butuh waktu.

Di Jawa, kelas kosong adalah anugerah, sorak sorai bisa bolos sekolah. Bagi kami, kelas kosong adalah biasa, pacemace guru datang hanya saat akan ujian. Di Jawa, guru bingung dengan murid yang kurang ajar, sementara kami berfikir bagaimana bisa belajar.

Cobalah datang ke tanah Papua, jangan bicara seolah kau paling tahu segalanya. Kami lahir besar di tanah surga, tapi tak tahu surga macam apa. Saat semua bersorak dengan segala kemajuan, sementara betapa kami begitu ketinggalan. Kau hanya tahu surga Papua, tapi tak mau tahu susah kami segala rupa.

Rambut kami memang keriting, bukan berarti kami ajak semua orang bertanding. Sirih pinang kami suguhkan, sebagai tanda persaudaraan. Tak elok bagi kami menolak saudara, meski bukan sesama Papua.

Tapi, tak ada tempat di hati kami, para pembual, pengolok, pem-bully. Tuhan kami mengajarkan kami memaafkan, tapi bukan berarti kami bebas engkau hinakan.

Jang bikin diri terlalu tinggi, biar kau berkulit putih, sedangkan kami yang berkulit hitam segelap malam. Tra berarti kami trada kuping buat mendengar, dan bukan trada hati untuk berasa tersakiti.”

Cobalah datang ke tanah Papua, bukan sekadar lewat Sorong belaka atau bertandang ke Jayapura. Duduk-duduklah di Agats sana, dan ya.., ke Otjanep sedikit bergeser, mungkin kau akan temui cerita tentang Rockfeller. Siapa tahu kau sedikit beruntung, bertemu dengan Paradisaea Apoda, kata Carolus Linnaeus.

Atau, mungkin tak tahu lagi, nama Papua terdengar tak hanya seantero negeri. Di London sana, Alfred R Wallace pernah bercerita tentang Papua, tentang negeri surga. Surga yang seringkali terlewat masa.

Saat gedung megah rumah sakit tak terisi tenaga medis, sementara yang datang sakit hanya mampu meringis. Jangan tanya tentang insulin atau segala macam obat untuk bermacam penyakit, karena kami hanya berteman dengan pil kina untuk mengobati malaria.

Lalu, kau bertanya bagaimana kami bisa mati kurang gizi, sementara tanah kami berlimpah rezeki?

Mungkin kau tak mengerti bedanya Papua dan Papua Barat. Sama halnya antara Jayapura dan Manokwari, atau bahkan tentang suku Fak-Fak dan Serui, suku Mee dan suku Moni, hanya tahu nama Asmat dan Dani. Membayangkan kami semua masih tidur di rumah Honai, saat melihat sebagian di sana tinggal tinggi di atas pohon-pohon di Korowai.

Kawan, marilah kemari, turun di Sorong jika kau ingin ke Raja Ampat, jangan turun di Jayapura kecuali kau ingin ke Carstensz, puncak Jayawijaya yang melegenda. Atau ke Painai, gugusan danau tua Wissel Meeren, Danau Painai dan Tege yang termasuk danau purba di Indonesia, karena bukan hanya Sentani yang kami punya.

Ini Papua kami kawan, sejuta mata sejuta pesona, mereka bilang. Pengetahuan kami terbelakang, mereka katakan. Meski kami tak tahu para bapak-ibu yang bermain politik di sana, menilep uang rakyat, apakah tak lebih terbelakang dari kami yang masih hidup bergantung alam?

Ah kawan, coba-cobalah hidup di tanah Papua. Mungkin esok engkau akan tahu, di tanah surga ini, harga nyawa kami hampir tak berarti…

3 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.