Biar Nggak Baperan ketika Lawan Jadi Kawan

Biar Nggak Baperan ketika Lawan Jadi Kawan

Ilustrasi (Image by Ryan McGuire from Pixabay)

Jokowi dan Prabowo akhirnya bertemu. Bukan di Istana Negara, bukan pula di Istana Jalan Kertanegara, melainkan di stasiun MRT. Dari Lebak Bulus, Jakarta, Jokowi dan Prabowo kemudian naik MRT. Keduanya tampak mesra, ketawa-ketiwi, bisik-bisikan. Ah, semua akan segerbong MRT pada waktunya.

MRT sendiri bisa dibilang salah satu ikon pembangunan. Jadi, selain upaya rekonsiliasi politik, pertemuan kedua politikus itu juga seolah pertanda bahwa negara ini siap melanjutkan pembangunan. Tentunya dengan janji kesejahteraan di… kemudian hari.

Dan, seperti biasa, muncul beragam reaksi. Ada yang senang sampai terharu, ada yang terkejut heran, ada pula yang kecewa. Padahal, bukan pertama kali politik kita diwarnai kejutan.

Saat Ma’ruf Amin dipilih sebagai calon wakil presiden untuk mendampingi Jokowi, apa itu bukan sebuah kejutan? Bagaimana para pendukung Jokowi yang nyambi mendukung Ahok, eh BTP, kecewa dengan keputusan itu. Lha, ini kok malah diajak koalisi. Jadi wakil lagi…

Baca juga: ‘Anut Grubyuk’ yang Disebut Mbah Pram Kini Begitu Nyata

Karena itu, wahai rakyatku, momen-momen politik elektoral seperti itu tidak sefiksi Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot, dalam naskah klasik karya sastrawan Irlandia, Samuel Beckett.

Toh, pada 2009, Prabowo bareng Megawati. Lanjut 2014, Prabowo malah kontra Jokowi yang diusung Megawati cs. Tahun 2019, Prabowo versus Jokowi lagi. Sempat berseteru dengan drama polarisasi antar pendukung, eh Jokowi dan Prabowo malah mesra-mesraan lagi.

Ya begitulah politikus. Tapi, sudah tahu begitu, masih saja dimasukin ke hati. Memang ya, selalu ada pihak ketiga yang nggak suka orang lain mesra, eh? Walaupun sudah jalan bareng, nyatanya masih ada yang baper.

Seorang penulis dan aktivis asal Rusia, Alexander Berkman pernah menyinggung soal seberapa sadis sebuah kepentingan.

“Kita tahu bahwa dunia ini penuh dengan perselisihan dan perang, kesengsaraan, ketidakadilan, kesalahan, kejahatan, kemiskinan, dan penindasan. Mengapa terjadi seperti itu? Itu karena, meski kita memiliki tujuan hidup yang sama, namun kepentingan kita berbeda. Inilah yang menyebabkan semua masalah di dunia ini.

Baca juga: Mau Perubahan tapi Nggak Mau Bersuara, Kamu?

Rekonsiliasi politik juga tak luput dari bayang-bayang kepentingan. Mengibaratkan negara sebagai sebuah rumah, maka gemerlap ‘pesta demokrasi’ sering kali menyebabkan banyak kaca jendela pecah. Pecahkan saja kacanya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh.

Nah, kepentingan dalam rekonsiliasi itulah usaha untuk memperbaiki satu per satu kaca jendela. Ya Alhamdulillah ya, kepentingan Jokowi dan Prabowo sudah bertemu. Ya itu tadi, semua akan segerbong pada waktunya.

Sayangnya, selalu ada korban yang mengalami trauma berkepanjangan pasca perang. Begitu juga dengan politik praktis. Ketika Jokowi dan Prabowo berekonsiliasi, lantas apakah para pendukungnya juga demikian? Nyatanya nggak juga. Katanya nggak ada lagi istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’, tapi kok nagih?

Mengapa begitu?

Karena sebagian dari mereka tidak pernah berdiri, misalnya dalam mendukung Prabowo. Di bawah parade kebencian kepada Jokowi lah mereka berhimpun. Kalau memang benar-benar mendukung Prabowo, seharusnya bisa ikut legawa. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

Baca juga: Bagaimana Zombi Melihat Trump dan Jokowi?

Jadi, saya prihatin, polarisasi yang terjadi di masyarakat akibat bayang-bayang kebencian, bukan semata-mata atas dukungan. Tapi, semoga saja kekhawatiran itu salah. Bagaimana mau jadi agen kesejahteraan pembangunan, coba? Kalau ini saja berlarut-larut.

Saya paham sih, bagaimana rasanya sudah mati-matian menghalau lawan, eh ujung-ujungnya lawan jadi kawan. Rasanya kayak kamu curhat ke teman tentang orang lain yang kamu nggak suka, eh temanmu malah mesra-mesraan dengan orang itu. Pusing pala Barbie Kumalasari.

Maka dari itu, wahai agen-agen pembangunan, kebencian itu mending dienyahkan saja dari muka bumi. Makan hati, tauuu… Apalagi dalam kontestasi politik, sadeeess…

Nah, bagi yang merasa senang dengan adanya rekonsiliasi, jangan lantas menjadi pendukung-pendukung snob, gaes… Semoga saja memang karena alasan persatuan, bukan persatean, kalau meminjam istilah Bung Hatta. Ingat, politik adalah panggung Sandiaga, eh sandiwara.

Hari ini, gandengan sama Prabowo. Besok, bisa jadi cipika-cipiki dengan Amien Rais. Besoknya lagi, ngaqaq bareng Rizieq Shihab. Sebab, pilpres itu fana, oligarki persatuan yang abadi.

Artikel populer: Anti Apatis-apatis Club, tapi Nggak Masuk Partai

Jadi, sekadar saran aja nih, mendukunglah tanpa tendensi mencari keuntungan belaka, apalagi pakai bumbu-bumbu kebencian segala. Kan, kalau sudah begini, siapa yang patah hati, toh?

Makanya, daripada berpihak pada elit, mending kamu berpihak kepada kelompok yang rentan, yang lemah, dan dilemahkan. Tapi, kalau terlanjur patah hati karena kiciwa, sudah lemesin aja. Fatum brutum amorfati, mencintai takdir walau takdir hadir begitu brutal.

Jadilah kembali manusia merdeka yang tidak tersekat oleh kuasa. Lawan jadi kawan, musuh jadi sahabat, itu sih biasa. Yang luar biasa itu, sahabat jadi pacar.

Tapi, kalau kamu masih saja patah hati bin kecewa, kaum golput siap mengayomi. Eh, tapi nggak jadi deng, sana kalian nangis aja sendiri…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.