Betapa Lucunya, Pintar-pintar tapi Remeh-temehin Meme

Betapa Lucunya, Pintar-pintar tapi Remeh-temehin Meme

Ilustrasi (Image by Jess Foami from Pixabay)

Seorang kawan yang mengisi hari-harinya dengan membuat dan menyebarkan meme, pada satu kesempatan pernah memplesetkan seenak udel penggalan lirik lagu “Susan Masuk Sekolah” menjadi Susan masuk sekolah / Di dalam kelas / Tak boleh malas / Kalau kamu malas / Nanti hobi bikin meme.

Pada kesempatan lain, masih kawan yang sama, ia mengutak-atik ucapan Socrates dengan begitu apik menjadi “Pacaranlah! Jika pasanganmu baik, kamu akan bahagia. Jika pasanganmu jahat, kamu akan menjadi admin shitpost sepertiku”.

Tak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi kreator meme (ingat, dibaca mim) di internet. Terlebih, pada mereka yang bertumpu hidup dari proses kreatif semacam itu. Minimnya apresiasi, dianggap pengangguran, ditolak gebetan dengan alasan “Maaf, kamu terlalu lucu buat aku” atau diputusin sepihak dengan alasan “Aku ini sebenarnya pacar apa bahan konten, sih?”

Baca juga: Meme, Meme, dan Meme…

Hingga akhirnya, kawan tadi memplesetkan lirik lagu dan kutipan di atas, karena ia telah mencapai titik pesimis yang paripurna.

Belakangan, bayangan itu tampil nyata dalam unggahan halaman resmi Kemendikbud di Facebook, lebih tepatnya di kolom komentar hasil Lomba Cipta Meme dalam Festival Literasi Sekolah (FLS) 2019 jenjang SMA.

Memang sih, sudah menjadi rahasia umum bahwa netizen Indonesia memiliki sensor motorik untuk merisak secara berjamaah dan tampil menjadi pakar secara instan. Bahkan, ada yang berkomentar seperti ini:

“Literasi: kemampuan membaca dan menulis, pengetahuan tentang subjek tertentu. (Terjemahan dari Cambridge Dictionary). Dan di sini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerjemahkan Festival Literasi menjadi lomba meme yang saya tidak paham di mana keunggulannya.

Ya Lord. Padahal, keterampilan membuat meme bukan perkara sepele yang bisa dilakukan sembarang orang. Minimal ya kreator mesti peka terhadap isu sosial-politik, lihai memilih diksi, cerdik memadukan visual, dan tentu saja punya selera humor di atas rata-rata. Kalau empat hal dasar itu belum terpenuhi, ya kamu akan tenggelam dalam rimba permemean.

Baca juga: Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Lihatlah bagaimana meme bekerja sebagai kritik sosial, semisal dalam kasus Setya Novanto. Dengan bentuk visual yang imajinatif, meme menyebar serupa virus dan menumbuhkan kesadaran bahwa jangan sekali-kali kamu menabrak tiang, eh maksudnya korupsi.

Bahkan, pada titik tertentu, meme bisa menjadi sanksi sosial yang sangat mengerikan. Saat jerat hukum formal tak bisa membuat pelaku kriminal jera, kita bisa memberi ancaman mereka dengan “Yang membuat resah warga dengan tindak kriminal, akan dijadikan konten meme di seluruh platform internet Indonesia. Sebarkan, jangan berhenti di kamu”.

Betapa lucu masyarakat kita yang emosi saat terjadi pembakaran buku, tapi memandang meme sebagai satu bentuk kreativitas kacangan. Masalahnya, kita tak pernah kenal apalagi dekat dengan meme. Ia lebih dari sekadar rayuan gombal untuk menaklukkan hati gebetan, atau satu bentuk visual disertai kalimat-kalimat ngehek.

Baca juga: Obrolan Khusyuk Bikin Nyengir dengan @jek___ yang Fenomenal

Meme adalah padanan gen dalam kajian budaya. Segala sesuatu yang ditularkan dari satu otak ke otak lainnya, itu sih kata Pak Profesor Richard Dawkins saat pertama kali memperkenalkan konsep ini melalui buku The Selfish Gene (1979).

Sementara, banyak kampus mentereng di dunia ini (bukan UI) yang menjadikan meme sebagai mata kuliah. Di Northwestern University, Amerika Serikat, Internet Memeology alias Jurusan Meme menjadi salah satu program studi yang dipelajari dan ditelaah.

Bahkan, University of Cambridge menawarkan kursus singkat dalam studi meme pada musim panas tahun 2017, dan menerbitkan jurnal edisi pertama berjudul Cambridge Journal of Memeology. Kalau kata Pak Profesor D. Oge, “Kursus ini sudah lama tertunda, dan sudah saatnya kita menerima bahwa meme telah dan akan terus memiliki tempat yang pasti dalam masyarakat modern.”

Artikel populer: Wawancara dengan @InfoMemeTwit: Indonesia Perlu Swasembada Hantu

Di Indonesia, ingat kan ketika Presiden Jokowi menyampaikan orasi dalam acara Dies Natalis ke-60 Universitas Padjadjaran? Jokowi bilang, “Harusnya Unpad ini punya fakultas media sosial, jurusannya meme, kenapa tidak? Jurusannya animasi, kenapa tidak? Karena ini yang ke depan akan kita hadapi.”

Yah, meski mendengar itu, seribuan orang yang hadir tertawa sejenak. Tapi itulah meme. Sebuah media yang merevolusi budaya populer, yang tak hanya haha-hihi, tapi juga aspiratif dan edukatif.

Jadi, piye kabare netizen Indonesia yang katanya pintar dan kritis? Pasti kawan saya tadi akan mencak-mencak sambil memplesetkan puisi Sapardi Djoko Damono: Yang fana itu waktu, yang funny itu meme!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.