Ilustrasi Netflix (Image by Andrés Rodríguez from Pixabay)

Sejak pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, Presiden Joko Widodo sudah wanti-wanti bahwa tidak ada visi-misi menteri, adanya hanya visi-misi presiden. Namun, seiring berjalannya pemerintahan, ketidakkompakan sang presiden dan para menterinya mulai tampak. Untuk perkara ringan di industri hiburan digital seperti Netflix saja, mereka tidak satu suara.

Suatu waktu, Jokowi sempat mengatakan bahwa dirinya berkeinginan Netflix digunakan oleh perangkat negara untuk menyebarkan ideologi Pancasila kepada kalangan anak muda. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menuruti titah sang pemimpin negeri tersebut.

Kemendikbud sigap menggandeng Netflix untuk menggelar kompetisi film pendek bertema Pancasila. Demi memajukan perfilman Tanah Air, Kemendikbud x Netflix juga akan mengadakan berbagai workshop terkait industri layar lebar.

Langkah ini terbilang tulus. Netflix dipilih dengan alasan populer di generasi muda. Padahal, menterinya adalah mantan CEO Gojek yang notabene punya layanan streaming sendiri yang digadang-gadang sebagai pesaing Netflix, yaitu GoPlay.

Baca juga: Bagaimana jika Mendikbud Nadiem Makarim Mendadak Jadi Guru

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate sempat mengimbau agar Netflix Originals jangan dulu masuk ke Indonesia. Manuver ini bertentangan dengan Kemendikbud yang langsung menyiapkan karpet merah untuk Netflix. Kemendikbud ambil langkah konkret dengan mengajak Netflix duduk bareng untuk membicarakan tentang potensi karya anak negeri. Tidak pakai tangan besi seperti kementerian sebelah.

Selama ini, banyak juga tayangan Netflix yang mengedukasi penonton, jadi masih berkaitan dengan misi Kemendikbud dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satunya, serial Sex Education atau Pendidikan Seks. Serial yang dibintangi oleh Asa Butterfield ini dibuat fun dengan muatan mencerahkan perihal perilaku seks remaja di Inggris.

Jika Sex Education digarap versi Indonesia di bawah arahan Kemendikbud, tentu saja remaja-remaja di sini bakalan merasa terhubung. Sama seperti ketika meledaknya film Dua Garis Biru. Sebab, begitu banyak risiko dari hubungan seks pada masa remaja.

Baca juga: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Kalau generasi Baby Boomers punya Dokter Boyke, panutan edukasi seks untuk generasi milenial masih lowong. Maka, tokoh utama di Sex Education versi Indonesia bisa jadi opsi. ‘Otis Nusantara’ bisa berbicara tentang masalah seks remaja di negeri ini.

Selama ini, banyak lho remaja kita mengenal dan mendapatkan informasi seks dari video porno, lalu pengalaman pribadi. Padahal, sering kali informasi tersebut menyesatkan.

Lantas, kita berharap mendapatkan pendidikan seks di sekolah? Yang ada hanya diajarkan soal alat reproduksi. Nyatanya, pendidikan seks lebih dari itu. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, pendidikan seks juga membahas masalah pubertas, penyakit menular seksual, kesehatan reproduksi, orientasi seksual, dan lain-lain.

Kalau perlu update juga soal revenge porn yang belakangan mulai marak. Semisal, seorang remaja putri harus bertahan dalam toxic relationship karena takut pacarnya menyebarkan konten seksual mereka. Nah, ‘Otis Nusantara’ bakal datang untuk memecahkan masalah ini. Memberikan pencerahan kepada pelaku bahwa revenge porn adalah tindakan pengecut dan bisa dijerat UU ITE dan UU Pornografi.

Baca juga: Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Ditambah, kita seharusnya berempati pada korban dengan tidak turut menyebarkan kontennya, apalagi sampai dibikin trending topic di Twitter. Lalu, untuk mencegah semua itu, janganlah bertindak bodoh di depan kamera.

Itu satu contoh tayangan yang bisa mengedukasi. Selanjutnya, Kemendikbud bersama Kominfo bisa mengondisikannya, kemudian Netflix juga harus mendapatkan restu dari Kementerian Keuangan.

Selama ini, konsumen Indonesia membayar biaya langganan kepada Netflix, tapi tidak dikenakan PPN. Walaupun Netflix tidak punya kantor perwakilan di Indonesia, negara tetap berhak memungut pajak dari aktivitas jual-beli itu. Netflix mesti mengikuti aturan dengan taat pajak agar tidak diburu Sri Mulyani.

Lalu, Netflix juga masih punya PR dengan Telkomsel. Selama ini, pelanggan Telkomsel tidak bisa chill karena Netflix diblokir dari Indihome dan Telkomsel. Alasan pemblokiran tersebut karena Netflix memuat banyak konten pornografi. Mohon maaf, itu Telkom atau Kominfo ya?

Ditambah, Netflix termasuk pemain over the top (OTT) yang belum memiliki regulasi yang jelas dan dianggap berbahaya bagi para operator karena bisa mengeruk untung gede-gedean dengan modal secuil. Alhasil, Netflix diblokir karena terlalu kapitalis, sementara IndoXXI yang gratis juga diblokir.

Menkominfo angkat tangan karena tidak bisa mendamaikan Telkom dan Netflix yang perang dingin. Menteri BUMN Erick Thohir mungkin bisa membantu?

Artikel populer: Sandhy Sondoro Diceramahi, Agnez Mo Dibully, Maria Ozawa Dipuji

Menteri-menteri lain semestinya juga disinggung perihal Netflix ini. Saya membayangkan reaksi mereka pasti beragam, karena berasal dari latar belakang dan konsentrasi yang berbeda-beda. Bayangannya kira-kira seperti ini:

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: “Perbanyak film Netflix kreasi anak bangsa agar pertumbuhan ekonomi kreatif di negeri ini melaju pesat. Netflix kan mendunia. Karya tentang kekayaan Indonesia yang bagus bisa membuat penggemar dari luar negeri jadi penasaran dan akhirnya datang ke negeri ini untuk melancong. Itulah mengapa ekonomi kreatif digabung dengan pariwisata, karena saling berkaitan.”

Menteri Agama: “Apa itu Netfelix? Jaringannya Felix Siauw?”

Menteri Pemuda dan Olahraga: “Walaupun namanya maraton, maraton nonton film di Netflix itu bukan termasuk olahraga, Bung. Tidak ada cabornya di Olimpiade juga.”

Menteri Pertahanan: “Netflix? Yang online-online itu?”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini