Ilustrasi vaksinasi. (Image by Elf-Moondance from Pixabay)

Seorang musisi (cum aktivis) akhirnya kembali ke jalan yang lurus. Sebelumnya, ia paling tendensius dalam mengaitkan wabah dengan elite global dan pencipta frasa “diendorse covid” yang terdengar kurang merdu.

Ketika beredar kabar bahwa ia memutuskan untuk divaksin dan mempublikasikan semacam pleidoi yang mengungkap bahwa seluruh teorinya selama ini “hanya informasi penyeimbang”, orang-orang kembali marah. Ia diejek dengan peribahasa yang kurang sesuai dengan anjuran medis: seperti menjilat ludah sendiri. Padahal, kita tahu, air liur itu bisa menjadi transmisi virus.

Namun, itu reaksi kemarahan yang mudah dipahami.

Baca juga: Influencer di Dunia Siber: Sedikit Blunder, Jatuhnya Abuse of Power

Saya pernah membuat tulisan yang, kira-kira, menganggap bahwa teori konspirasi terkait wabah yang ia utarakan hanya layak dianggap sebagai lelucon. Konsekuensi logis yang saya terima adalah perisakkan dari sejumlah pengikutnya, baik di kolom komentar maupun pesan langsung, sehingga saya perlu menggembok akun Instagram untuk beberapa waktu.

Betapapun menyebalkan tingkah polahnya, keputusan sang musisi untuk divaksin tetap layak diberi apresiasi. Peristiwa langka ini membuat kita boleh sedikit berharap bahwa seorang yang antivaksin atau antivax kawakan sekalipun masih bisa berubah.

Yup! Banyak antivax, juga covidiot, di sekitar kita. Mereka menjadi sosok yang menyeramkan ketika menyebarkan teori acak tak bertanggung jawab, sehingga upaya menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) justru bisa berbalik menjadi kebebalan kelompok (herd stupidity).

Baca juga: Varian Loki dan Varian Baru Virus Corona

Aksi-aksi mereka juga kadang membahayakan. Lihat misalnya bagaimana video viral seorang terapis yang menghirup nafas pasien Covid-19. Sungguh itu adalah konten ekstrem yang patut dilabeli “don’t try this at home”.

Tapi pertanyaan kemudian, bagaimana cara kita menyikapi perangai mereka dalam aktivitas sehari-hari? Ini sangat membingungkan. Sebab bisa jadi keluarga, teman, tetangga, atau singkatnya orang-orang terdekat kita, adalah covidiot sekaligus antivax. Elokkah jika kita menjauhi mereka dan menjadikannya sebagai public enemy?

Mari kita tengok pengertian populer atas dua lema tersebut. Dalam situs Merriam-Webster, antivax didefinisikan sebagai “kampanye antivaksin yang menggaungkan bahwa vaksin tidak aman dan bisa menyebabkan autisme…” Istilah itu muncul pertama kali pada tahun 1996. Sementara itu, di situs Urban Dictionary, covidiot didefinisikan sebagai “seseorang yang mengabaikan peringatan tentang kesehatan atau keselamatan publik” – terkait dengan Covid-19.

Baca juga: Kewalahan Dampingi Anak Belajar Online, tapi Masih Ngeri kalau Tatap Muka: Dilema Orangtua

Ada dua kata kunci yang patut kita cetak tebal dari istilah antivax dan covidiot, yakni ketakutan dan kebebalan. Keduanya tampak tak identik, namun saling memengaruhi. Ketakutan tak berdasar terhadap vaksin, yang dikonversi menjadi aksi kampanye, disebabkan oleh kebebalan – dan begitu sebaliknya.

Sebagian covidiot dan antivax bisa jadi merupakan kelompok yang tak memiliki cukup referensi untuk mengolah informasi dan tak punya akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dan, untuk orang-orang seperti itu, teori konspirasi adalah godaan yang sangat membuai. Teori yang menyediakan jalan pintas – meski menyesatkan – tanpa perlu membikin bingung.

Orang pencari jalan pintas, kita semua tahu, tak selamanya jahat.

Dengan kata lain, hidup bukan sebagai seorang covidiot dan antivax adalah privilese juga. Dan, itu tak serta-merta membuat kita lebih digdaya ketimbang siapa pun. Justru karenanya, di pundak kita terdapat beban untuk memberikan edukasi. Tak mesti melulu mengandalkan negara, sebab kadang-kadang bikin potek hati.

Artikel populer: Seandainya Falcon dan Batman Gelar Hajatan di Masa Pandemi

Dulu, kita menganggap beban edukasi yang ada di pundak sama seperti batu yang diangkat oleh Sisifus ke atas bukit. Ketika tiba di tujuan, batu menggelinding kembali sebagai simbol kesia-siaan. Itulah potret kita. Berdebat tanpa pangkal-ujung dengan para covidiot dan antivax tanpa menghasilkan apa-apa, selain permusuhan.

Tapi, sebagaimana tadi disampaikan, orang yang paling tekun menyangkal Covid-19 sekalipun pada akhirnya akan percaya. Seperti sang musisi yang konon berubah setelah konsultasi dan mendapatkan edukasi dari pakar yang ia percaya. Itu adalah harapan yang mahal harganya.

Percayalah bahwa musuh terbesar kita hari-hari ini adalah para pemangku jabatan yang tak kompeten dan enggan berkhidmat pada sains, koruptor yang menggasak uang bantuan sosial, dan para pendengung yang membuat kalut informasi. Covidiot dan antivax? Saya yakin, mereka masih bisa diselamatkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini