Tutorial Bertani yang Cocok dengan Selera Anak Milenial

Tutorial Bertani yang Cocok dengan Selera Anak Milenial

Ilustrasi (google+)

“Halo Gaes! Mari cangkul-cangkul yang dalam. Menanam jagung di kebun kita.”

Saya sedang membayangkan menonton vlog Agung Hapsah yang berkolaborasi dengan SkinnyIndonesian24 berisi tanya-jawab dan tutorial menanam cabai dan jagung. Mungkin nggak ya?

Konten semacam ini mungkin kurang cocok dengan selera anak milenial, kids jaman now, atau apapun itu namanya. Yang lihat video tersebut pasti tak banyak. Jangan samakan dengan videonya Mas Kaesang.

Eh, tapi belum tentu juga. Bukankah menghakimi selera penonton sebelum menayangkan tontonan adalah sebuah ketidakadilan? Artinya, ini perlu dicoba. Saya bayangkan jutaan subscriber akan manggut-manggut dan mulai tertarik bercocok tanam setelah melihat video tutorial itu tadi.

Biar sesekali nggak cuma posting foto makanan dan mengomentari pedasnya cabai. Cabai memang pedas dari sananya. Tapi setidaknya ada pengetahuan bahwa cabai ada karena ditanam. Bukan turun ke bumi bersama hujan.

Hal itu muncul setelah saya membaca catatan sarat data yang ditulis Kepala Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Suryo Wiyono, dalam buku berjudul “Mencari Petani Muda” terbitan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan.

Suryo mengupas krisis regenerasi petani di Indonesia. Sensus Pertanian tahun 2013 menyebut 61,8% petani Indonesia sudah berumur di atas 45 tahun. Hanya 12,2% saja yang umurnya di bawah 35 tahun.

Untuk tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedelai, ketela dan lain-lain, petaninya lebih sepuh lagi. Sebesar 47,5% usianya di atas 50 tahun.

Sementara, rumah tangga petani – skala yang mendominasi pertanian Indonesia – juga makin berkurang. Tahun 2013 berjumlah 26,13 juta rumah tangga. Padahal, tahun 2003, jumlahnya masih 31,23 juta rumah tangga.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, jumlah rumah tangga petani yang menghilang didominasi rumah tangga yang memiliki lahan pertanian kurang dari satu hektare. Mereka beralih profesi.

Koran Kompas, 4 September 2017, juga melaporkan bahwa sejumlah petani di Cirebon, yang merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Barat, menjual lahan pertaniannya karena terlalu sempit dan tak menguntungkan.

Hasil penjualan lahan mereka gunakan untuk modal membuka usaha gorengan dan bengkel di Jakarta dan Bekasi.

Begitupun petani di daerah lain. Di Tuban misalnya, banyak petani yang nyambi bekerja di sektor informal. Hasilnya tak banyak, tapi harus dilakukan demi hidup layak.

Saya sendiri pernah bertemu dengan penjaja jasa servis payung keliling di Semarang. Ia ternyata juga seorang petani berlahan seperempat hektare di Boja, Kendal.

Lahan yang sempit itu menjadi salah satu penyumbang tidak moleknya sektor pertanian di mata generasi muda. Kata BPS, sebesar 56% rumah tangga petani di Indonesia hanya menguasai 13,3% lahan pertanian. Rata-rata luas lahannya 0,5 hektare per rumah tangga. Ini yang dinamakan petani gurem, anak-anak milenial mungkin tak kenal.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Cirebon mendata, sebesar 60% dari sekitar 110.000 petani di Kabupaten Cirebon adalah penyewa, bukan pemilik lahan. Sisanya 30% berlahan 0,5 hektare, bahkan lebih sempit.

Dengan luasan lahan tersebut, sulit bagi rumah tangga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terbukti, nilai tukar petani yang membandingkan antara harga yang diperoleh dan dibayarkan petani, terus merosot.

Sejak akhir 2016 hingga pertengahan 2017, nilai tukar tak pernah berada di atas angka 100 – angka 100 artinya impas alias bakbuk. Petani terus tekor dalam 15 bulan terakhir.

Bagaimana anak muda tidak jeri untuk bertani, jika dihadapkan dengan kenyataan begitu? Belum lagi risiko gagal panen akibat serangan hama dan iklim yang tidak menentu. Bahkan sudah panen pun nggak bisa kasih harga pada hasil panen sendiri. Benar-benar tekor.

Sudah begitu, pemerintah terus saja berbangga-bangga menyodorkan angka produksi padi, jagung, dan kedelai yang terus meningkat sebagai akibat keberhasilan subsidi dan kredit usaha rakyat.

Padahal, menjadikan produksi sebagai panglima, dengan mengesampingkan aspek petani sebagai pelaku utama yang menjalankan usaha tani, sudah terbukti gagal.

Lho, nggak gagal gimana? Coba tengok kabar Revolusi Hijau. Penggunaan bibit unggul, penerapan pestisida sesuai serangan organisme pengganggu, penggunaan pupuk kimia secara optimal, dan penyediaan air dalam sistem irigasi adalah pilar-pilar penting revolusi yang fokus pada peningkatan produksi.

Katanya itu untuk swasembada. Jangan dicari petaninya ada di mana. Wong, tidak masuk hitungan sebagai pilar penting.

Tujuan revolusi memang tercapai, swasembada beras tahun 1984-1986. Tapi juga ironi. Jumlah petani gurem ikut-ikutan meningkat.

Tahun 1983, petani gurem berdasar sensus pertanian, mencapai 50,99%. Pada dekade berikutnya jadi 51,63%. Tahun 2003 peningkatan jumlah petani buruh per tahun mencapai 26%.

Ini sebab petani tak dianggap penting, tapi produksinya terus digenjot untuk menyangga sektor industri. Agar pangan murah, sehingga upah buruh tak perlu mahal. Pertanian tak lagi menjadi landasan ekonomi nasional.

Yang ngaku anak 90-an, masih ingat dong sama rincian Repelita dalam buku GBHN yang disuruh hafalkan oleh guru PPKN?

Peningkatan jumlah petani gurem tak mendapat peduli, alih-alih kendali. Produksi lalu menurun, dan impor kembali menjadi solusi. Ya, solusi berkepanjangan yang seringkali diributkan cerdik pandai di media sosial.

Keributan yang sama juga menyasar misi Revolusi Hijau, karena tak memandang petani sebagai faktor penting. Keributan menjadi-jadi, jika harga tempe dan cabai naik sedikit. Nyesek rasanya.

Maka itu, ketimbang nyesek, lulusan pertanian mending kerja di bank. Sebab paling mentok jadi tukang jualan benih GMO dan obat semprot tanaman. Nggak usah repot mikir risiko gagal panen atau galau di-PHP harga jual cabai. Kira-kira begitu alasannya, Pak Jokowi.

Tapi apa ya berguna mengutuki keadaan sekarang sekaligus dosa masa lalu seperti ini? Duh, keburu senjakala datang. Suka nggak suka, keadaan sudah begini. Lahan tinggal seuprit-uprit. Menunggu kebijakan reforma agraria pemerintah, ya malah keburu kelaparan.

Tapi masih ada harapan. Negara ini masih punya kaum muda, milenial, kids jaman now. Tahun 2030 diramalkan 70% usia produktif berasal dari generasi yang lahir tahun 1980-2000. Langgas, begitu Yoris Sebastian menyebut.

Ia mencirikan generasi yang kreatif, efisien, dinamis, melek teknologi, pencari tantangan, dan fokus pada gaya sendiri. Dengan karakteristik itu, menyodorkan tantangan bertani kepada mereka sepertinya menarik. Meski sedikit, tapi sudah ada yang memulai.

Rizal Fahreza, pemuda Garut berusia 26 tahun, membangun Orchard Buah Nusantara. Menggunakan prinsip efisiensi lahan, menanam buah sebagai tanaman utama yang ditumpangsari dengan sayuran. Menggaet investor dengan sistem usaha bagi hasil.

Frisca Chairunnisa, gadis Padang berumur 24 tahun. Mendirikan Blasta Indonesia, terdiri dari kebun sayuran hidroponik sekaligus penjualannya melalui Blasta Korean Food. Ia jadikan hasil bertaninya menjadi makanan beku, termasuk Kimchi dalam kemasan.

Apni Olivia Naibaho, 35 tahun. Menyewa lahan dan mendirikan Siantar Sehat Organik di Pematangsiantar, tanah kelahirannya. Menanam berbagai sayuran di tengah lahan petani konvensional, yang belakangan mengikutinya.

Langkah itu membebaskan petani dari jerat tengkulak. Sebab lewat produk organik, yang belum sepenuhnya murni lantaran masih ada di sekitar pertanian konvensional, petani menemukan pasarnya sendiri di luar jaringan tengkulak.

Masih ada beberapa lagi petani milenial lainnya, yang semuanya layak dijadikan narasumber tanya-jawab atau tutorial di channel Youtube para vlogger papan atas.

Siapa tahu, bisa jadi konsep kampanye untuk mengarus utamakan isu regenerasi petani yang menghadapi krisis. Kalau sampai tak ada lagi yang mau bertani, kita semua mau makan apa?

Mungkin Mas Kaesang mau bantu bikin vlog-nya?

  • Manda Handri

    Dan tetiba merasa bersalah, rumah yang saya tempati ini berdiri di atas lahan yang dulunya blok hektaran sawah