Bersimpati atas Tragedi Tanpa Menguak Privasi

Bersimpati atas Tragedi Tanpa Menguak Privasi

Ilustrasi (Ricardo Gomez via Unsplash)

Hari Senin terasa pekat oleh bencana. Belum pulih betul rasa sesak oleh gempa di Lombok, yang kemudian disusul oleh gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi.

Kini, kita dikagetkan dengan kabar duka jatuhnya pesawat Lion Air JT610 di perairan Karawang. Penerbangan untuk rute Jakarta-Pangkal Pinang itu mengangkut 178 penumpang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi. Sementara untuk awak pesawat berjumlah tujuh orang.

Kita berduka.

Sesungguhnya dari musibah ini, hal yang paling menimbulkan trauma adalah bagaimana kisah kehilangan yang penuh luka itu disulap menjadi drama oleh sejumlah media.

Saya masih ingat jelas pengalaman Air Asia dulu, saat seorang sahabat kehilangan keluarganya. Tak ayal, foto sahabat saya muncul di headline salah satu surat kabar nasional, ketika ia menangis dengan hati yang hancur. Namun, itu dianggap renyah sekali oleh media.

Akibatnya, beberapa hari ia menangis dan sama sekali tak mau melihat berita. Merasa terluka sekaligus tereksploitasi. Media dan publik sedikit pun tidak membantu pemulihan dan memastikan bahwa duka yang mendalam dirasakan lebih lama.

Tak hanya itu, rumah istri seorang awak kabin Air Asia pun ramai didatangi wartawan. Alhasil, berita tentang seorang istri yang hamil besar yang ditinggal selamanya menjadi pemberitaan yang masif di beberapa media arus utama.

Baca juga: Bercermin dari Palu dan Donggala

Belum lagi, berita soal kisah pribadi seorang pramugari yang dikupas tuntas hingga seluruh isi media sosialnya diungkap seluas-luasnya. Kisahnya mengilhami sebuah film remaja, meski keluarga korban sempat menolak kisahnya diangkat.

Bagi saya, ini adalah kengerian dan arogansi.

Stalin pernah berujar, “If only one man dies of hunger, that is a tragedy. If millions die, that’s only statistics.” Jika hanya satu orang mati karena kelaparan, itu adalah tragedi. Jika jutaan orang mati, itu hanya statistik.

Dengan asumsi itu, tanpa mengecualikan kemanusiaan dan belasungkawa yang mendalam, maka satu korban adalah tragedi, 100 korban adalah statistik.

Berkaca dari kasus Air Asia dulu, media tak akan sekadar melaporkan berita soal jumlah korban, tapi juga kisah setiap korban dan keluarganya atau orang-orang terdekatnya menjadi sebuah tragedi, meskipun itu bersifat pribadi atau tergolong ruang privat.

Baca juga: Kenapa Menyelamatkan Nyawa 13 Orang Lebih Menarik daripada 200 Orang?

Dan, publik diperlakukan seolah-olah tak mampu tersentuh simpati serta empatinya, dan media tak mampu menaikkan trafiknya, jika hanya melaporkan kronologi, proses evakuasi, atau pengetahuan seputar keselamatan penerbangan. Seakan-akan harus ada angka yang dipecah agar menghasilkan tragedi.

Strategi pemberitaan yang berusaha memenuhi ‘selera pasar’, bukan asas kemanusiaan.

Mulai dari kisah cinta penuh romantisme pramugari yang harus dipisahkan dari kekasihnya oleh maut, kesedihan seorang istri yang hamil tua dan ditinggalkan oleh suaminya, hingga kisah tragis sepasang suami istri yang meninggal bersama anak-anaknya.

Ada pula tentang sepasang kekasih yang berencana segera menikah, namun harus meninggal sebelum pesta pernikahan dan kisah pemuda saleh yang jenazahnya tetap utuh sembari membandingkan dengan jenazah lain yang sulit diidentifikasi. Bahkan, beritanya diberi judul-judul ajaib, salah satunya: “Ajaib! Yang Lain Busuk, Jenazah Ke-40 Utuh!”

Seolah-olah bencana tak pernah cukup mengaduk emosi, sehingga harus menguak ruang privat para korban sedemikian rupa demi menghadirkan berita yang sarat tragedi.

Statistik angka kematian sebenarnya bukan sekadar angka. Tak perlu memecah dan mengupasnya satu persatu. Dengan begitu, rasa kehilangan yang haru dan syahdu bisa dirasakan secara privat oleh keluarga korban.

Artikel populer: Hanya Satu yang Kita Punya, yaitu Empati. Kalau Tidak Punya, Apa Harga Hidup Ini?

Dan, keluarga dapat segera memulihkan diri pasca berkabung tanpa harus menghadapi kenangan di kemudian hari akibat jejak digital. Sebab, jika sudah masuk ranah digital, terlebih tanpa persetujuan yang bersangkutan, maka tak akan ada privasi.

Sungguh, tak ada ruang duka yang tertutup, kesehatan mental keluarga korban pun diabaikan. Hanya ada cerita-cerita based real event yang berubah fungsi menjadi ‘hiburan sore’ dari sebuah bencana.

Selain tidak berdampak baik bagi pemulihan keluarga korban, itu juga buruk bagi kesehatan mental masyarakat kita. Masyarakat akan terus menerus dimanjakan oleh tragedi individu dan kehidupan privatnya.

Masyarakat sekejap berubah menjadi pihak yang paling berhak menilai kepribadian korban dan keluarganya. Ketika nama korban dalam manifest dipublikasikan, bukan berarti kehidupan pribadi korban juga menjadi konsumsi publik.

Kita sebaiknya memahami itu, jika ingin sebenar-benarnya bersimpati dan berempati terhadap bencana atau musibah yang terjadi, termasuk peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT610.

Mulailah menghargai ruang privat korban, keluarga, dan orang-orang terdekatnya. Mereka berhak untuk itu agar segera kembali pulih. Cukuplah pemberitaan seputar kronologi, progres penanganan, dan pengetahuan tambahan tentang keselamatan di dunia penerbangan.

Sebab, kejadian ini akan sungguh berbeda, jika keluarga terdekat kita yang menjadi korban.

1 COMMENT

  1. Asw, mbak Mila kami kangennn. Tulisan ini sangat mewakili perasaan kemanusiaan kita semua. Bagaimana orang menulis musibah ini masih memikirkan bagaimana media mereka bisa laku keras. Seharusnya kita memulihkan dan menguatkan masing2 anggota keluarga yg ditinggalkan pd semua ujian yg diterima bangsa kita. Mari terus bangun bangsa kita ini dg etika hidup dan kehidupan. Selamat dan sukses sll utk mbak Mila, kpn plg?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.