Berjalan Sejajar dengan Pasangan. Ah, Siapa Takut?

Berjalan Sejajar dengan Pasangan. Ah, Siapa Takut?

Ilustrasi pasangan (StockSnap via Pixabay)

Sebuah artikel di Voxpop berjudul “Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya” sempat menjadi viral. Tanggapannya memang ramai dan kontroversial, sungguh makanan yang niqmat bagi netijen kekinian.

Tulisan Dea Safira Basori tersebut penuh diksi yang efeknya lebih dari ‘sekadar mengingatkan’, terutama ke perempuan, agar lebih jeli sambil hati-hati bahwa laki-laki aktivis punya sisi gelap. Mantul, mantap betul…

“Cok! Emangnya perempuan aktivis gak punya sisi gelap?” begitu kata teman-teman lelaki yang punya pengalaman sakit hati dan remuk di masa lalu. Tapi kami tak mau terlalu lama menaruh atensi pada perdebatan dua jenis kelamin tersebut. Lebih baik mendedah fenomena itu secara utuh.

Bahwa terlalu tipis menjadikan ‘sisi gelap laki-laki aktivis’ sebagai main theme dalam persoalan ini. Pertama, penggunaan istilah ‘aktivis’. Pemaknaan istilah tersebut sebetulnya masih kabur. Khawatir menjadi stereotip pada orang-orang yang sedang memperjuangkan hak orang lain.

Baca juga: Cara Bersikap kepada Teman yang Aktivis dan Apatis

Ya kali ngomong aktivis, ada kok mahasiswa masuk organisasi kerjaannya cuma ribut sama teman, mainan politik di Pemira, lalu mendaku diri sebagai aktivis, ehehe… Padahal, mainnya cuma di kantor BEM sama komisariat. Boro-boro ketemu warga di wilayah konflik, ketemu tetangga saja melengos dan nggak pernah menyapa.

Atau, banyak juga kok buruh-buruh NGO yang pergi pagi pulang sore sembari menunggu gajian, tanpa benar-benar sadar perspektif dan hanya melakukan tugas-tugas donor.

Namun, kali ini bukan untuk menggugat nilai aktivisme di sana, melainkan orang yang paham HAM – belajar teori keadilan setiap hari, ngomongin itu sampai berbusa – tapi tetap seksis membangun relasi kuasa dengan pasangan. Kok bisa?

Ya bisalah! Buktinya banyak kejadian, beberapa di antaranya seperti yang diungkap oleh Dea Safira dalam tulisannya. Saya kenal beberapa bajingan seperti itu, kalau ketemu bikin muak. Tapi sepatutnya kita juga harus sadar, kadang-kadang sering nggak adil dengan pasangan sendiri.

Saya pernah lho diputusin pasangan gara-gara nggak sengaja ngomong seksis. Tapi, setelah itu taubatan nasuha. Berusaha memahami posisi perempuan yang mengalami tekanan berlapis dari masyarakat. Akhirnya nyambung lagi dan masih bertahan sampai saat ini membangun relasi yang berprinsip. Lho, kok jadi curhat? Mayan, haha…

Baca juga: Buku Bacaan untuk Pemilih Muda, sebab Demokrasi Tak Sebercanda Itu

Jadi, intinya, laki-laki yang sebut saja ‘aktivis’ seharusnya membangun relasi yang setara. Setiap pasangan membuka diri dengan sukarela untuk saling memahami apa yang jadi landasan ideologis dan apa saja yang menjadi lawan ideologi pasangan.

Dalam hal ini, saya berpegang teguh pada ucapan pasangan saya bahwa laki-laki yang feminis harus ditempa oleh relasi sosial yang penuh keadilan. Widih, ini pacaran apa mau diskusi? Pacaran ideologis neh.

Selama pasanganmu nggak abusive secara psikis maupun fisik, cobalah membangun relasi yang penuh keadilan. Saling memahami dan melebur dalam relasi yang penuh prinsip. Tapi, kalau memang bajingan dan nggak mau berubah, udah putusin aja. Gitu kok cinta?!

Banyak pasangan hebat yang menjadikan keadilan dan kesetaraan sebagai cara pandang hidup. Jika pasangan Sartre dan Beauvoir terlalu jauh bagi kita, lihatlah Cak Munir dan Mbak Suciwati yang bersama sampai akhir. Atau, kalau anak Gusdurian pasti kenal nama Kristanto Budiprabowo dan pasangan miss Charlotte.

Baca juga: Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, tapi Tak Yakin dengan Sosialisme, lalu Apa Penggantinya?

Dan, masih banyak lagi nama para pejuang kemanusiaan dan pasangannya yang membangun relasi dengan prinsip keadilan dan kesetaraan. Kamu pun bisa, kenapa tidak?

Yup, memang betul, masyarakat kita masih diselimuti hasrat maskulinitas yang menghasut. “Ah, masa laki-laki kudu setara sama perempuan?”, ”Kita ini pemimpin rumah tangga lho!”, atau “Lho, hari gini masih takut sama istri”.

Tapi, lagi-lagi, ego adalah sumber malapetaka dalam relasi sosial, termasuk dengan pasangan. Relasi ego harus dikubur hidup-hidup dan akal harus digenggam erat. Pahami betul bagaimana berbagi peran, termasuk urusan domestik, terutama bagi pasangan yang sudah menikah.

Jika relasi dengan prinsip kesetaraan dan keadilan itu dibangun secara masif, pseudo maskulinitas akan enyah dari muka bumi. Tak selamanya keluarga adalah bentuk kapitalisme terkecil, karena keluarga pun bisa menjadi perwujudan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Tapi adil di sini, bukan adil dengan istri lebih dari satu, lho ya?

Artikel populer: Nikah Tanpa Pacaran? Tidak Semudah Itu, Ferguso!

Nah, sampai di sini dalilnya jelas dan berlaku untuk semua laki-laki, terlebih laki-laki yang mendaku sebagai aktivis. Kalau kamu bisa berbusa-busa ngomong keadilan, tapi nggak mampu menghadirkan keadilan bagi pasanganmu, mending pindah ke planet lain saja. Itu juga kalau diterima dinas kependudukan alien di sana.

Bagi perempuan, pastikan setiap hal yang kamu inginkan dan setiap prinsipmu tersampaikan. Pastikan juga dialogmu berlangsung dengan asertif. Jangan merasa inferior dan takut. Kamulah perEMPUan dalam relasi ini.

Yakinlah, masih ada laki-laki yang tidak bangsat. Bukankah justice has no gender, ya kan?

Dan, tentu saja cara pandang ini tidak berdiri sendiri. Ada pasangan saya yang berjalan sejajar, bukan berada di belakang. Jadi ketimbang menyibukkan diri mencari sisi gelap pasangan, mending mulai membangun narasi kesetaraan dan keadilan dalam relasi kalian.

Selamat berbahagia!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.