Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Ilustrasi hijaber (Rawpixel via Unsplash)

Bagi perempuan muslim yang belum mengenakan jilbab, pernah nggak sih kalian ditanya, “Kapan pake jilbab?” atau “Wah, cantik sekali. Kalau pake jilbab pasti lebih cantik lagi.”

Saya sering sekali mendengar komentar-komentar dan pertanyaan semacam itu, bahkan ada yang bilang, “Kok nggak mau pake jilbab? Agamamu apa sebenarnya?”

Umat muslim memang wajib menutup aurat, menurut standar agama. Nggak cuma perempuan, tapi juga laki-laki. Dan, sesama muslim wajib mengingatkan, bukan wajib menghakimi.

Semoga saja komentar-komentar tadi masih dalam konteks mengingatkan. Sebab, belakangan ini, tak sedikit perempuan berjilbab, bahkan di antaranya newbie, yang begitu angkuh dan mudah sekali merendahkan perempuan yang belum berjilbab atau berhijab.

Kita sebut saja mereka, hijaber snob.

Begini… Ada dua motif mengapa orang melakukan sesuatu. Pertama, mereka ingin orang lain terkesan. Kedua, karena mereka memang ingin melakukannya saja.

Pada motif kedua, orang akan melakukan lebih banyak hal daripada motif pertama. Sebab, yang menjadi fokus mereka adalah melakukan sesuatu dengan benar. Mereka tidak banyak berpikir tentang apa yang akan dikatakan orang lain tentang prestasinya atau tentang apa yang berhasil mereka capai.

Baca juga: Di Balik Jilbab yang sedang ‘Hype’

Sementara itu, pada motif pertama, fokusnya adalah melakukan sesuatu demi mendapatkan validasi dari orang lain. Mereka ingin mengesankan orang lain. Kalau orang lain tidak memuji atau mengakuinya, mereka merasa tidak berharga.

Mereka merasa paling unggul, paling pintar, paling beriman, dan paling-paling lainnya, sehingga memunculkan sikap snob. Mereka menilai karakter secara kuantitatif, bukan kualitatif. Itu keliru.

Sayangnya, sikap tersebut muncul pada sejumlah hijaber, terutama mereka yang mengklaim baru saja berhijrah dalam konteks perubahan sikap, perilaku, dan sebagainya.

Bagaimanapun memutuskan untuk berjilbab adalah sebuah keputusan besar. Bahkan, ada yang bilang, “Jika berjilbab adalah soal hidayah, semestinya itu hak Allah.” Perempuan muslim berhak tidak dipaksa memakai jilbab, begitu juga tak ada orang yang boleh melarang mereka memakai jilbab.

Baca juga: Nissa Sabyan dan Nashwa Zahira dalam Tatapan Mata Lelaki

Sementara itu, Prof Quraish Shihab pernah menyatakan, kalau kamu tidak mampu berjilbab, sebaiknya menutup aurat dengan standar kepatutan.

Tapi, para hijaber snob sebetulnya hanya butuh pengakuan orang lain. Dengan begitu, mereka bisa merasa puas dengan apa yang dilakukan. Mereka ingin terlihat superior, sehingga mereka cenderung merendahkan perempuan lain yang belum mengenakan jilbab.

“Kamu kok belum pake jilbab sih, surga nggak nerima wanita yang auratnya terbuka lho.”

“Salah sendiri nggak pake jilbab, jadinya dilecehkan.”

Begini ya, mengapa sih perempuan yang sudah tahu jadi korban, masih saja disalahkan, bahkan oleh kaum perempuan sendiri? Data-data menunjukkan bahwa perempuan berjilbab juga mengalami pelecehan. Jadi nggak ada urusan sama pakaian. Tolong dicatat!

Laki-laki juga seharusnya menjaga pandangan dong. Harus berlaku dua arah, katanya adil? Jangan ambil sebagian aturan agama bahwa perempuan harus ini-itu, tapi nyatanya menutup mata pada sebagian aturan yang lain.

Tapi, balik lagi sih, hijaber snob merasa nyaman mengatakan hal-hal itu kepada orang lain. Sebab, dengan begitu, derajatnya merasa terangkat.

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Namun, kontradiksinya adalah kalau memang mereka menilai diri setinggi itu, seharusnya tidak butuh validasi orang lain. Mereka tidak akan butuh pengakuan agar dinilai paling salihah.

Jika memang mereka fokus pada perbaikan diri, ya nggak perlu sombong juga, keleus… Sombong adalah penyakit hati, bukan bagian dari perbaikan diri. Jagalah hati, jangan kau nodai, eh?

Justru, kalau menurut saya, perilaku membutuhkan pengakuan dengan cara merendahkan orang lain adalah ciri-ciri orang yang kekurangan. Untuk mensubsidi kekurangan itu, akhirnya mereka mengumumkan sebuah pencapaian pada satu sisi. Di sisi lain, mereka meremehkan orang lain. Agar terlihat wow.

Karena itulah, saat ini saya tak lagi risau, jika ada hijaber snob yang aneh-aneh. Saya paham, sesungguhnya mereka merasakan kekurangan pada dirinya sendiri. Biarlah masalah jilbab ini menjadi urusan pribadi setiap orang dengan Tuhannya.

Untuk para hijaber snob, ingatkah kalian kenapa Tuhan mengusir setan dari surga? Karena setan, dengan kesombongannya, berkata, “Aku lebih baik daripada Adam.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.