Berguyon tentang Tubuh Perempuan Adalah Kegagalan dalam Melucu

Berguyon tentang Tubuh Perempuan Adalah Kegagalan dalam Melucu

(Ilustrasi/Photo by Z H on Unsplash)

Saya pikir kasus body shaming atas Pia Haryono, yang fotonya digunakan dalam meme, bakal surut dan cepat selesai. Apa nyana, kasus tersebut malah seperti bola salju, semakin membesar dan masih dibahas di mana-mana yang disertai komentar-komentar julid netizen, tentunya.

Bahkan, banyak perempuan menganggap tindakan Pia Haryono yang melaporkan pelaku body shaming ke polisi sebagai tindakan yang lebay. Padahal, sebaliknya, itu mengajarkan kita terutama para perempuan, yang sering mendapat perlakuan tak sepantasnya semacam body shaming atau bullying akibat bentuk fisiknya.

Tindakan Pia yang melaporkan kejadian tersebut sepatutnya mendapatkan apresiasi dan dukungan, bukan malah dicemooh tanpa henti. Sebab, urusan berat badan seorang manusia, dalam konteks ini perempuan, merupakan otoritas si pemilik tubuh.

Tapi perlakuan masyarakat kita memang seringkali jauh dari kata humanis saat memandang seorang perempuan dari tubuhnya yang gemuk atau overweight.

Ada banyak kasus bullying yang menimpa perempuan bertubuh gemuk. Dan, itu tak terbatas umur, dari yang masih remaja hingga yang sudah tua. Para pelaku bullying dengan entengnya menyebut mereka dengan berbagai julukan, mulai dari karung beras, gentong air, gembrot, dan lain-lain.

Dan, itu tak berhenti di situ saja.

Dari dulu hingga sekarang, tak jarang ada bisik-bisik sirik serombongan orang terhadap perempuan gemuk yang melintas di jalan. Atau, mereka dianggap menuh-menuhin tempat saat naik angkutan umum.

Di media sosial, juga banyak ditemui meme-meme dengan caption yang seksis habis. Salah satu yang beredar belum lama ini, selain meme Pia Haryono, adalah sebuah meme dengan foto seorang perempuan gemuk (lagi) dengan caption: “Perempuan gendut nggak mungkin masuk surga. Jaga makan aja nggak sanggup, apalagi jaga iman.”

Celakanya, banyak yang tertawa dengan komedi slapstick semacam itu. Receh banget.

Komedi serupa juga sering kita temui di ranah panggung hiburan negeri ini, ketika kita melihat seorang komedian perempuan, terutama yang overweight, berada di atas panggung.

Ranah panggung hiburan di negeri ini kadang memang kejam. Tak hanya di jagat maya, para perempuan bertubuh gemuk juga dianggap sebagai hiburan di dunia nyata.

Dulu, dengan dimulainya era standup comedy, saya punya harapan bahwa komedi slapstick yang sering melibatkan perempuan sebagai obyek, akan menghilang atau setidaknya berkurang banyak. Tapi rasanya semakin jauh api dari panggang.

Lihatlah para komedian yang ada, bukannya menghilangkan komedi slapstick yang menempatkan perempuan sebagai obyek, tapi justru melanggengkan mereka sebagai korban utama.

Tengoklah bagaimana seorang Nunung menjadi bulan-bulanan rekan sepanggungnya. Sebagaimana dahulu kita melihat Ratmi B29 yang juga menjadi obyek komedi slapstick, karena badannya yang gemuk dan hidungnya pesek.

Kita terbiasa tertawa terpingkal-pingkal dengan gaya Nunung yang kemayu, serta penderitaan yang ia terima atas ejekan rekannya atas tubuhnya. Bukan karena celetukan-celetukan yang cerdas, tapi lebih banyak ejekan, yang cenderung seksis pula.

Tak banyak humor segar yang mendidik, hanya komedi slapstick yang lagi-lagi menempatkan perempuan sebagai obyek bulan-bulanan ejekan.

Tapi tetap saja diterima masyarakat kita dengan dalih itu kan hanya sekadar lelucon. Tapi apa tak bisa, lelucon yang dilempar lebih cerdas sedikit begitu? Atau, setidaknya mengandung pesan moral, seperti yang dilakukan Srimulat?

Meski gaya komedi Srimulat banyak memakai komedi slapstick, tapi jarang sekali mereka menempatkan perempuan sebagai obyek bulan-bulanan ejekan. Karena memang seharusnya slapstick tak mengenal gender.

Coba kita lihat lagi ke belakang, apa pernah ada yang melihat seorang Pretty Asmara (saat belum dipenjara) mendapat peran yang benar-benar serius, selain sebagai bahan tertawaan karena tubuh gemuknya?

Bahkan, saat ia ditangkap karena narkoba pun, masih ada yang sempat nyeletuk, ”Yaelah, udah gendut aja kebanyakan gaya pake narkoba.”

Apa hubungannya coba?

Atau, mungkin ada yang pernah melihat seorang Sinyorita Esperanza tak menjadi bahan bullying rekan-rekannya terkait penampilan fisiknya di atas panggung?

Sinyorita atau yang akrab disapa Sinyo tak jauh beda dengan Pretty Asmara. Mereka seolah ada di panggung komedi kita hanya untuk dijadikan korban bully.

Amat jarang sekali, kita melihat para perempuan bertubuh gemuk yang tak menjadi obyek bahan tertawaan di panggung komedi.

Pada akhirnya, banyak perempuan bertubuh gemuk yang menjadi tertawaan, ejekan, meski mereka bukan seorang komedian, pun tidak sedang melawak dalam keseharian.

Tapi justifikasi dan perlakuan masyarakat terhadap perempuan bertubuh gemuk seringkali kelewat batas. Seolah dosa besar, jika seorang perempuan mempunyai tubuh yang gemuk, meski kadang itu bukanlah sebuah pilihan.

Tak semua perempuan gemuk itu akibat pola hidupnya yang tak seimbang. Ada faktor genetik juga yang bekerja dalam tubuhnya, sesuatu yang tak bisa kita ubah dengan cara apapun.

Lagipula, sudah wajar pula manusia menggemuk seiring bertambahnya usia. Kan masa otot juga berubah. Khusus untuk perempuan, masa otot bakal berubah banyak setelah ia berumur di atas 30 tahun, apalagi jika ia sudah pernah melahirkan.

Coba sajalah tengok emak-emak kita di rumah, yang sudah bertambah umur juga uzur, apa iya mereka tak mengalami masalah yang sama dengan apa yang namanya lemak di tubuh?

Terus, kalau sudah begitu, apa masih pantas terus dijadikan lelucon?

2 COMMENTS

  1. Setuju dan sebaiknya dilakukan secara “dua arah” juga dong biar tidak standar ganda. Jadi “say no to body shaming for ALL” bukan cuma buat women aja.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.