Beres-beres Medsos Ala Marie Kondo Biar Hidup Lebih Selo

Beres-beres Medsos Ala Marie Kondo Biar Hidup Lebih Selo

Ilustrasi Media Sosial (Rawpixel via Unsplash)

Pagi buta seorang kawan curhat, ia merasa cemas karena postingan mantan kekasihnya. Sebabnya sang mantan berguyon dengan istilah ‘mantan’. Padahal, dia sendiri tahu, ia bukanlah satu-satunya yang pernah memadu kasih dengannya. Itu twit no-mention belaka. Tapi kenapa ia merasa gusar dan insecure?

Barangkali inilah bukti bahwa media sosial, salah satu candu umat internet kiwari, mulai terasa beracunnya. Tapi ia tidak sendirian. Saya juga sering cemas melihat opini orang tentang pilpres, postingan orang yang saya taksir, dan postingan mantan kekasih yang sebentar lagi menikah. Untuk yang terakhir sudah saya block sih, eh?

Disitat dari Vice. Sebuah riset terbaru tentang bahaya bermedsos dipublikasikan oleh Michigan State University. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi medsos berlebih bisa berujung depresi dan kecemasan.

Lebih jauh dari itu, ia mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang tidak prima serta condong berisiko. Kondisi yang lazim ditemukan dalam otak para pecandu narkoba.

Dalam kata lain, jika kita penasaran kenapa selalu gelisah dan semua hal yang kita lakukan selalu berantakan, kita bisa curiga dari mana akar masalahnya. Bukannya tidak mungkin jika melihat postingan buruk bisa mendatangkan mood buruk dalam situasi-situasi penting.

Baca juga: Teruntuk Kamu yang Suka atau Tidak Suka Curhat ‘Online’

Nah, temuan yang dimuat Journal of Behavioural Addictions itu juga menyebutkan bahwa ketergantungan psikologis kita terhadap medsos sama dengan kondisi kimia para pecandu narkoba. Sebab, kita kerap kali gagal belajar dari kesalahan dan melakoni serangkaian perilaku yang menghasilkan output negatif.

Barangkali begini sederhananya. Pada mulanya waktu kita tersita di medsos, lalu fokus dan mood kita disetirnya, hingga akhirnya berujung pada kondisi pekerjaan yang berantakan karena keputusan-keputusan yang buruk.

Kalau sudah begini boro-boro mau ngomongin bermedia sosial yang sehat lahir dan batin. Kerjaan berantakan, gebetan entah ngapain, mantan kekasih ya lanjutin hidupnya yang bahagia. Kamu entah gimana.

Beres-beres

Mulanya media sosial diciptakan untuk mengikat jaring-jaring perkawanan lintas tempat, usia, dan gender. Namun, segala sesuatu bisa berubah, termasuk media sosial. Ia sudah jadi ladang bisnis, penunjang eksistensi, hingga yang terakhir pembentuk mood.

Dari Twitter, kita akhirnya mengenal nama Marie Kondo. Ada banyak twit yang nyinyir padanya, ada pula yang merasa bahagia karena mendapat pencerahan soal melipat baju yang baik dan benar.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Bude Sumiyati, Selebtwit Level Bidadari

Marie Kondo adalah spesialis beres-beres (beberes) rumah asal Jepang yang populer dengan bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up. Bukunya itu laris manis dan diterjemahkan ke berbagai bahasa hingga jilid ketiga. Ia juga menjadi selebritas di Amerika dan Eropa berkat TV show-nya Tidying Up with Marie Kondo di Netflix yang tayang sejak 1 Januari 2019.

Dalam show tersebut, sebagaimana isi bukunya, Kondo memperkenalkan metode KonMari yang terinspirasi ajaran tradisional Jepang, Shintoisme.

Mula-mula, Kondo akan meminta penghuni duduk bersama untuk mengheningkan cipta. Tujuannya untuk membangun koneksi dengan rumah sekaligus berterima kasih kepada rumah yang telah melindungi dari panas dan hujan.

KonMari dipraktikkan dengan mengumpulkan setiap barang menjadi satu tumpuk besar dalam satu waktu. Ada beberapa kategori barang yang Kondo sortir sesuai urutan. Pertama baju, lalu buku, kertas, komono (barang di dapur, kamar mandi, garasi, serta barang pelengkap lain), dan barang yang sentimentil (mengandung memori, berharga).

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Setelah semua baju (salah satu kategori barang) ditumpuk, Kondo meminta pemiliknya menyortir satu per satu. Jika satu baju ‘memicu kegembiraan’ saat dipegang, maka baju itu layak disimpan. Jika tidak, maka baju harus disingkirkan – baik dibuang atau disumbangkan ke pihak lain.

Terlepas dari perbicangan orang-orang di Twitter, dari Marie Kondo mungkin kita bisa mencoba beberapa hal untuk media sosial kita – rumah utama eksistensial kita, ceilah.

Kita bisa mulai duduk khusyuk, letakkan handphone di pangkuan dan mengheningkan cipta. Tujuannya untuk membangun koneksi dengan seluruh isi handphone sekaligus berterima kasih kepada ‘rumah’ yang berhasil menjaga eksistensi parsial kita, serta melindungi kita dari kerasnya dunia nyata. Yah, meski terkadang kita juga tidak bisa menghindar dari perdebatan panas di dunia maya, terutama media sosial.

Kedua, cobalah kumpulkan semua media sosial dan aplikasi chat di sebuah panel layar. Instagram, Facebook, Whatsapp, Line, dan Tiktok. Tatap logo dari masing-masing aplikasi itu pelan-pelan, sebagaimana Kondo bertanya pada klien-kliennya, tanyakan hal ini dalam diri sendiri: “Does it spark joy? Apakah ini memicu kegembiraan?”

Artikel populer: Diminta Beberes setelah Makan di Restoran Cepat Saji, kok Malah Ngegas?

Saya yakin kamu akan mengangguk.Tidak peduli jika Facebook sering mengungkit kenangan-kenangan kita dari yang memalukan sampai bikin sedih dalam fitur pengingatnya.

Baiklah, kita mungkin tidak bisa menghilangkan media sosial dari keseharian kita begitu saja. Uninstall aplikasi Instagram, WA, Facebook, atau Twitter mungkin terasa berat. Tapi kita bisa melepas satu saja dari simptom-simptom ‘beracun’ media sosial: teman dengan postingan yang merusak kegembiraan kita.

Buka satu demi satu media sosial dan sortirlah pertemanan di sana. Cari menu yang serupa ‘senyapkan’ atau jika dia keterlaluan sekalian pilih menu setara “block”, seperti para klien Marie Kondo yang menyingkirkan benda-benda yang tidak sparked joy dari rumahnya.

Selanjutnya, marilah kita nikmati hari-hari yang penuh dengan joy. Dalam kalimat lain, tidak perlu repot mempertahankan perkawanan di media sosial yang membuat kita murung, cemas, dan insecure. Memang sederhana, tapi mengena.

Bukankah kita sudah lama percaya bahwa gembira itu bisa diatur?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.