Ilustrasi malam hari. (Photo by Elijah O'Donnell from Pexels)

Unggahan saya di Instagram tentang relasi ayah dan anak sempat viral. Bagaimana ayah berdamai dengan saya yang suka pulang malam dan sangat ekspresif dalam berbusana. Namun, banyak orang khususnya lelaki yang merasa terusik. Saya dianggap durhaka.

Unggahan tersebut dianggap terlalu open minded, padahal hanya menceritakan perjalanan panjang relasi antara ayah dan anaknya yang menemukan titik keseimbangan baru. Tentunya perjalanan relasi itu tidak mulus.

Sebelum ibu meninggal, ayah belum bisa menerima. Namun, sejak pandemi terjadi negosiasi. Di situ kuncinya. Secara perlahan terjadi perubahan sikap dan perilaku pada ayah.

Dia mulai memahami bahwa anaknya adalah manusia yang mandiri dan berbeda. Saya pun memiliki kesempatan untuk belajar memahami beliau sesuai zamannya. Setiap generasi tampaknya punya cara yang berbeda-beda dalam menunjukkan rasa sayang.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Setelah mengunggah foto dengan secuplik cerita perdamaian itu, selain banyak yang menghujat, tak sedikit pula yang mendukung. Banyak perempuan yang akhirnya bercerita bahwa orangtuanya sudah mulai menerima dia yang harus pulang malam karena pekerjaan atau kegiatan organisasi.

Ketika para orangtua menghubungi anak perempuannya pada malam hari, mereka hanya berpesan untuk membeli nasi goreng kesukaan mereka dan belanja di pasar pagi. Menurut para perempuan tersebut, ini merupakan perubahan sikap orangtua yang luar biasa. Para orangtua telah belajar untuk lebih bijak dan berdamai dengan anaknya. Lagi pula, mau kemana sih anaknya selain bekerja dan bergaul dengan temannya?

Baca juga: Ditentang Orangtua karena Beda Pilihan, Aku Harus Apa Kak?

Ayah saya kini tak pernah pusing tatkala saya pergi menemui pasangan hingga beberapa hari. Ia hanya berpesan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Pesan itu disampaikan karena ia takut saya hamil di luar nikah. Ketakutan itu wajar-wajar saja. Daripada berdebat panjang lebar, iya aja.

Ingat, orangtua punya zamannya sendiri. Ia tidak dibesarkan dengan WhatsApp group parenting yang marak seperti sekarang, atau bahkan konten-konten di Instagram yang memberikan tips bagaimana membesarkan anak. Ia hanya menduplikasi cara orangtuanya, padahal zaman berubah. Meski demikian, kita harus paham soal itu, jika ingin orangtua memahami kita.

Masih banyak anak terutama perempuan yang merasakan kekangan orangtua, dan perasaan itu valid dan nyata lho. Kita tidak bisa mengesampingkan hal tersebut. Lantas, bagaimana mengubah orangtua agar ia bisa menerima kita?

Baca juga: Kredo Orangtua Zaman Sekarang, Banyak Anak Banyak Konten

Perubahan tak terjadi dalam semalam. Yang pasti, kita harus konsisten. Semisal, jika harus pulang malam karena pekerjaan, kita harus tunjukkan bahwa pekerjaan itu membuat kita tak bergantung lagi secara ekonomi kepada orangtua. Dengan demikian, ia bisa mengerti dan tak akan mempertanyakan lagi.

Selain itu, kita harus gigih bekerja. Awali dengan niat untuk membuktikan pada diri sendiri terlebih dahulu, sehingga tak perlu mencari validasi dari orangtua. Lambat laun, orangtua akan mulai melihat dan bisa memahaminya.

Mengenai pakaian, bisa juga diawali dengan mengajak bicara orangtua agar dapat bersikap lebih bijak. Bagaimana pun, pakaian adalah soal pilihan dan tentunya selera. Proses ini tidak mudah, sering kali terjadi perdebatan keras. Maka, ada baiknya tidak terus-terusan membahas itu.

Artikel populer: Surat Kafka untuk Semua Ayah dari Anak yang Takut Bersuara

Saya sendiri pernah memilih mengunci diri di kamar agar tak mengganggu pandangan beliau. Ia pun akhirnya sadar sendiri bahwa sering-sering mengomel hanya akan menjauhkan anak dari orangtua.

Tetapi, jika orangtua masih menekan, kita mesti bisa mengutarakan batasannya. Semisal, kita perlu bilang butuh waktu untuk privasi. Bukan karena tidak sayang dengan orangtua, tapi itu cara kita untuk mencari ketenangan.

Nah, usia dewasa adalah saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan orangtua. Namun, jika orangtua tak kunjung berdamai, jangan merasa kecil hati. Perasaan kita tetap valid, kok.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini