Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Ilustrasi perempuan (Photo by James Forbes on Unsplash)

Banyak sekali saya menerima curhatan dari perempuan yang mengaku sudah ‘tidak perawan’. Tapi, ketika saya bongkar mitos keperawanan mereka, masih saja ada yang merasa dirinya tidak berharga.

Sekarang begini, bagaimana ingin merasa berharga kalau masih mengikuti definisi sempit patriarkis yang memang menjadikan perempuan sebagai objek? Ya jangan berharap.

Tapi, di satu sisi, miris juga dengan perempuan yang masih terbelenggu pemikiran patriarkis. Merasa bersalah karena menikmati seks, terlebih setelah hubungannya berakhir. Mungkin ini karena masih banyak yang tidak memiliki akses pengetahuan.

Sesungguhnya, yang perlu ditangisi itu – kalau memang perlu – adalah fakta bahwa kamu berpisah dengannya, bukan karena kehilangan keperawanan. Kecuali, jika ia memang memanipulasi kamu agar mau berhubungan seksual, karena itu namanya kekerasan seksual. Terlebih, jika tidak adanya consent atau persetujuan – dalam posisi sadar.

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Tapi kan itu dosa, mbak? Ya kalau kamu menyadari bahwa itu sebagai perbuatan terlarang, ya jangan lakukan. Lalu, bagaimana dengan perempuan yang curhat dengan saya tadi? Mari kita bahas dalam konteks realitas sosial. Bagaimanapun dosa adalah urusan masing-masing.

Lanjut…

Masalah keperawanan ini bisa dibilang sebagai mitos untuk mengontrol tubuh perempuan. Coba deh lihat, siapa yang marah-marah dan nyinyir kalau perempuan berhubungan seks? Ya lelaki patriarkis yang menganggap perempuan sebagai objek belaka.

Terus, masih mau gitu sama lelaki yang sudah tahu misoginis dan menganggap perempuan sebagai pemuas seks belaka? Sedangkan perempuan dilarang untuk menikmati seks. Kalau lelaki dianggap lumrah.

Lelaki patriarkis takut jika perempuan bisa berdaya dan menuntut kenikmatan seksual. Mereka takut ketahuan bahwa mereka tidak bisa melakukan apapun di atas ranjang. Mereka takut perempuan akan membandingkan mereka dengan lelaki lain. Mereka takut perempuan memiliki kendali atas tubuhnya sendiri, karena akhirnya mereka tidak bisa seenaknya saja.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’? Udah Putus Aja! Tapi Gimana kalau Udah Nggak Perawan?

Lelaki patriarkis yang cuma mau perempuan ‘perawan’ hanya ingin memaksakan kehendaknya pada tubuh perempuan tanpa mempedulikan perasaan perempuan.

Perempuan yang tahu letak titik kenikmatan tubuhnya akan menuntut kesetaraan dalam kenikmatan. Dia tidak akan mau bersama lelaki yang hanya mementingkan kenikmatan seksualnya saja. Dalam hal ini, perempuan menjadi berdaya dalam urusan seks.

Ketika perempuan berdaya, ia tahu bahwa dirinya berharga. Ia tahu ia tidak dinilai dari sekadar daging pada tubuhnya. Ia tahu bahwa dirinya berhak mendapatkan yang lebih baik daripada lelaki patriarkis yang cuma mementingkan dirinya sendiri.

Jadi, buat apa kita menaruh standar pada keperawanan, kalau itu tidak akan membuat kita bahagia?

Orang-orang yang sibuk melarang seks yang konsensual tidak akan suka dengan perempuan yang punya kendali atas tubuhnya karena mereka takut dikendalikan. Mereka takut dikendalikan sebagaimana mereka mengendalikan tubuh perempuan selama ini.

Baca juga: Bagaimana kalau Pacaran, lalu Berhubungan Seks, terus Ujung-ujungnya Kandas?

Tentunya, lelaki patriarkis adalah orang yang tidak akan pernah bisa membuat kamu bahagia, apalagi dalam urusan ranjang yang cuma mementingkan kenikmatan dirinya. Kamu akan dibuat menderita.

Kalau sudah begitu, masak harus terus-terusan memelihara definisi keperawanan ala patriarkis yang tidak mengizinkan perempuan untuk berbahagia dan mencintai dirinya sendiri?

Kita harus mengubah definisi keperawanan, yaitu ketika pertama kali menikmati tubuh kita sendiri, alias pertama kali berhubungan seks dengan tubuh kita sendiri. Tubuh yang kita cintai.

Bagi perempuan yang berdaya, pertama kali ia kehilangan keperawanan ketika pertama kali ia bercinta dengan tubuhnya sendiri dan mendapatkan kenikmatan dari aktivitas tersebut.

Perempuan yang tahu cara menikmati tubuhnya sendiri adalah sebuah revolusi. Aksi untuk mencintai dan bercinta dengan tubuh sendiri adalah pemberontakan terhadap masyarakat patriarkis, terutama pada lelaki yang takut dengan perempuan yang berani untuk mencintai dirinya sendiri.

Artikel populer: Baiklah, Sekarang Kita Bicara Cinta dengan Logika Kepemilikan

Kalau kamu tidak bisa menerima dan mampu mencintai diri sendiri, jangan harap orang lain akan mencintaimu dengan tulus. Yang ada, orang lain akan memanfaatkan kebencian dan penyesalanmu untuk kepentingan dirinya. Makanya, tidak heran lelaki patriarkis hanya menginginkan perempuan yang belum pernah berhubungan seksual.

Sesungguhnya, lelaki patriarkis tak punya apa-apa. Mereka mau diterima apa adanya, tapi mereka mau sama kamu karena ada apanya. Ya itu, keperawanan yang sebetulnya cuma mitos.

Jadi, jika ada yang menyesal karena menikmati seks, berarti tidak mengizinkan dirinya untuk bahagia. Segala pengetahuan yang menyebutkan bahwa hanya suami yang boleh menyentuh tubuh seorang perempuan adalah upaya untuk mengontrol tubuh dan menempatkan perempuan seperti barang. Tubuhmu adalah milikmu, bukan suamimu.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.