Berbeda-beda Kelas Sosial, tapi Tetap Satu Derita

Berbeda-beda Kelas Sosial, tapi Tetap Satu Derita

Ilustrasi (Photo by Bryan Minear on Unsplash)

Netizen sempat ramai oleh fenomena seorang gadis yang memanfaatkan platform charity untuk mendanai kuliahnya di Universitas Oxford, Inggris. Tidak tanggung-tanggung, Kay Jessica – nama gadis itu – berhasil mengumpulkan uang lebih dari Rp 180 juta dalam tiga hari atau melampaui target yang sebesar 9.500 poundsterling atau sekitar Rp 177 juta.

Tentu itu luar biasa cepat dan sangat beruntung. Sebab, banyak pengguna platform sejenis yang kesulitan mengumpulkan dana untuk biaya pendidikan ataupun kesehatan, karena minim atensi publik.

Ya, atensi kita pada mereka yang rentan dan membutuhkan pertolongan memang terkooptasi oleh algoritma viralitas di media sosial semata. Jika Kay tidak memiliki social support dari influencers, mungkin ia akan bernasib sama dengan mereka yang tidak mendapatkan atensi. Hopeless.

Saya pun pernah merantau dan berjuang untuk pendidikan. Mulai dari bekerja paruh waktu sebagai babysitter, penulis lepas, presenter TV lokal, hingga menjual apa saja. Setidaknya untuk bisa bertahan hidup selama kuliah.

Bedanya, Kay berjuang untuk pasca sarjana di Oxford, saya waktu itu untuk gelar sarjana di UIN. Dia butuh dana ratusan juta untuk tuition fee, saya cuma ratusan ribu untuk bayar UKT, kos, dan biaya hidup.

Baca juga: Maudy Ayunda Galau soal Harvard-Stanford, Kita Galau soal Apa?

Kay bukanlah satu-satunya warga negara Indonesia yang sedang menghadapi masalah finansial. Ada banyak sekali mahasiswa yang senasib. Mereka berasal dari kelas sosial yang berbeda-beda.

Seorang teman yang pernah satu kosan sampai diminta pulang oleh ibunya, karena si ibu tak lagi sanggup membiayai kuliah anaknya itu. Malah disuruh jadi TKI. Saya sebetulnya masih beruntung ketimbang dia, karena mendapat beasiswa dan uang bulanan sebesar Rp 500 ribu. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung itu?

Kita yang ternyata masih mendapat privilese tentu problemnya tidak seberat mereka yang tanpa privilese. Kalau di kampung lebih pelik lagi, banyak yang tidak melanjutkan sekolah setelah tamat SD atau SMP. Alasannya, ya apalagi kalau bukan uang.

Baca juga: Hal-hal Kecil tapi Penting saat Mendaftar Beasiswa

Kay Jessica termasuk beruntung, karena bukan dari kelas bawah. Namun, bukan berarti penderitaannya gugur karena status sosialnya. Kay dan anak-anak lainnya bisa jadi merasakan symptom yang sama. Tidak bisa tidur, gelisah, mulai putus asa, bahkan beberapa di antaranya merasa tidak berguna dan ingin bunuh diri.

Yang berbeda adalah mereka tidak berasal dari kelas sosial yang sama. Ada yang bingung memikirkan pendidikannya dari atas kasur springbed yang nyaman. Ada yang gelisah memikirkan sekolahnya dari kamar kos yang pengap. Ada pula yang resah sendirian di kamar panti asuhan yang dingin.

Begitulah kelas sosial, kita seperti hidup di jajaran anak tangga. Setiap orang lahir dalam urutan anak tangga yang berbeda, lalu hidup akan membawa mereka naik atau turun. Yang jelas, kapitalisme berbohong jika berkata bahwa kita semua lahir dari titik yang sama, dan hanya kerja keras lah yang akan membedakan di mana kita akhirnya berdiri.

Nah, dari persoalan Kay dan anak-anak lainnya yang terkendala biaya untuk melanjutkan sekolah, kita bisa mendapatkan tiga hal penting.

Baca juga: Balada Perempuan Desa yang Berpendidikan Tinggi

Pertama, tidak ada yang salah dengan Kay Jessica. Itu merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, ia juga berhak untuk menggapai mimpi. Keputusannya meminta donasi melalui platform charity adalah salah satu upaya yang kreatif. Dia secara sadar melakukannya, donatur pun tahu betul mengapa mereka menyumbang.

Jadi, tak perlu kita mencemoohnya. Ya filosofi anak tangga tadi. Mungkin, selama ini ia hidup dengan barang-barang mewah dan keistimewaannya bisa berkuliah di luar negeri tanpa beasiswa. Namun, kini kondisinya berbeda dan memerlukan bantuan.

Mereka yang nyinyir tentunya tak bisa merasakan penderitaan Kay. Secara esensi sebetulnya sama-sama menderita dengan mahasiswa yang lain, cuma beda kelas saja. Sebagaimana kita mungkin tak akan mampu membayangkan rasa sakit seorang anak yang dipaksa orangtuanya berhenti kuliah. Kelas sosial membuat kita terkurung dalam privilese masing-masing.

Artikel populer: Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Lalu, kedua. Kay bukan orang pertama yang menggunakan platform tersebut untuk kepentingan pendidikan. Atensi cukup besar terjadi, karena ia berasal dari kelas yang berbeda dengan kebanyakan pengguna platform sejenis. Atensi tentu dibutuhkan untuk mempercepat proses penghimpunan dananya. Nah, kakak-kakak influencers sesekali boleh lah beri atensi yang besar kepada mereka yang tak seberuntung Kay.

Ketiga, check ur privilege! Selalu terus menerus cek keistimewaanmu dalam bersikap, berkomentar, maupun bertindak. Ketika Kay merasa sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, saya melihat itu tidak lebih rendah dari titik tertinggi kehidupan teman saya yang terpaksa berhenti kuliah.

Itu pun tak lebih rendah dari titik tertinggi kehidupan 187 ribu anak SD-SMA di Indonesia yang putus sekolah selama tahun ajaran 2017-2018. Tentu saja dibalik angka itu, ada ratusan ribu kisah yang begitu pedih.

Dan, mereka semua juga butuh atensi kita.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.