Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

Berbagai Versi Akhir Cerita ‘Game of Thrones’ Berdasarkan Kepribadian Penonton

Trailer Game of Thrones season 8 (HBO)

Setelah lebih dari setahun menunggu, akhirnya musim penghabisan Game of Thrones datang juga. HBO punya tanggung jawab yang berat untuk menebus penantian penggemar serial TV yang diadaptasi dari novel karya George R. R. Martin ini.

Selama ini, penonton setia sudah lama menunggu Game of Thrones season 8. Saking sabarnya penonton, sampai dirilis lebih telat dari yang dijanjikan saja masih bisa menahan untuk tidak unjuk rasa ke kantor pusat HBO. Jadi, HBO harus bisa memuaskan semua orang-orang yang sabar itu.

Jangan salah, kalau memang niat, Game of Thrones musim terakhir ini sebenarnya bisa saja membuat semua penonton merasa menang di akhir cerita. Perjuangan tokoh yang dijagokan sudah menjadi bagian dari perjuangan penonton juga. Sebelumnya, penonton sering dibikin kecele: menjagokan salah satu karakter yang punya jiwa ksatria, selanjutnya karakter tersebut malah dibunuh dengan keji.

Namun, sudah cukup sampai situ. Untuk ending yang bagus, setiap penonton harus mendapatkan akhir cerita yang sesuai ekspektasi masing-masing.

Caranya? Mudah sekali. Game of Thrones musim 8 ini harus kayak film orisinal Netflix, Black Mirror: Bandersnatch, yang mana kita bisa pilih siapa yang di-ending duduk di Iron Throne. Tentunya, setiap kita pasti punya jagoannya masing-masing. Dengan fitur interaktif, kita bisa memilih jalan cerita dan ending yang kita mau. Tokoh favorit kita akan sama-sama berakhir sebagai pemenang secara paralel.

Baca juga: Tentang ‘Game of Thrones’ Ala Jokowi. Jangan Berlebihan Memuji, Ceritanya Begini

Saya sih pilih Podrick untuk bikin harem di Westeros. Nah, di musim terakhir, rahasia Podrick yang good in bed itu harus dibeberkan. Itu utang HBO kepada penonton yang penasaran seperti saya.

Latar belakang penonton menentukan ending seperti apa yang diinginkannya. Tentunya, karakter yang duduk di Iron Throne adalah karakter favoritnya. Di sini, saya coba memetakan alternatif akhir cerita menurut kepribadian penonton.

1. Membosankan dan Mudah Ditebak

Penonton yang suka cerita klise heroik, bakalan memilih Jon Snow dan Daenerys Targaryen yang jadi raja dan ratu Westeros. Sebab, sejak awal kedua orang inilah yang diceritakan sebagai hero dari daerah asalnya masing-masing. Sampai akhirnya, keduanya bertemu dan bercumbu. Eh, nggak tahunya masih punya hubungan darah ponakan dan tante.

2. Gampang Nyaman dan Mudah Betah

Penonton yang menyenangi cerita anti-mainstream justru mendukung Cersei Lannister tetap duduk di Iron Throne. Selama ini, kita disuguhi oleh cerita tentang orang baik yang selalu bisa mengalahkan orang jahat. Sekali-kali orang jahat dan licik seperti Cersei jadi pemenangnya. Di dunia nyata banyak, heuheu.

3. Tidak Kagetan

Penonton yang sudah terbiasa ditipu dengan plot Game of Thrones, tidak akan kaget apabila yang menang dan tertawa di akhir cerita adalah kubu White Walkers. Orang-orang yang mengharapkan ending seperti ini sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Mereka pun sudah siap dengan Pilpres, apapun hasilnya, eh?

Baca juga: Jawaban Penggemar Naruto soal Indonesia Rasa Konoha

4. Feminis

Penonton yang mengharapkan narasi kebangkitan perempuan, diam-diam berharap Sansa Stark yang akan menendang bokong Cersei dan menggantikannya sebagai ratu adil pelindung Seven Kingdoms.

Untuk mendapatkan tahta, pengorbanan Cersei memang sudah banyak. Setiap kehilangan yang ia derita, ditebus dengan semakin dekat dirinya dengan kekuasaan. Suaminya mangkat, anak sulungnya naik tahta. Anak sulungnya mati keracunan tongkol, anak bungsunya menggantikan jadi raja. Eh, anak bungsunya malah bunuh diri dengan cara loncat indah. Ketika anak-anaknya sudah mati semua, akhirnya Cersei jadi ratunya.

Namun, Sansa Stark jauh lebih menderita dan kehilangan lebih banyak: ayah, ibu, kakak, adik, cinta pertama, suami, dan hewan peliharaan. Dihitung dari banyaknya luka, Sansa ratunya.

Sansa pun masih punya Bran dan Arya Stark, adik-adiknya yang masih hidup. Bran punya ‘banyak mata’ dan Arya punya ‘banyak muka’. Ibarat intelijen dan politisi yang kerap menjadi sosok kunci di negeri ini.

5. Idealis

Jika menuruti wasiat almarhum Ned Stark: Arya Stark berhasil mendorong sahabatnya, Gendry, sebagai anak haram Robert Baratheon alias pewaris tahta yang sah, menjadi Raja Westeros. Namun, ini termasuk teori yang tidak populer. Di mana-mana yang idealis memang tidak populer, ketutup sama yang pragmatis oportunis.

6. Pendendam

Arya Stark duduk di Iron Throne setelah berhasil menceklis semua nama di daftarnya. Nama terakhir yang dibunuhnya tentu saja Cersei Lannister yang selain dicabut nyawanya juga direbut mahkotanya.

Baca juga: 4 Tokoh Selain Thanos yang Bisa Digunakan Jokowi dalam Pidatonya

Tapi kalau ini urusannya bisa panjang, yang namanya dendam politik selalu berkepanjangan. Perang klan, perang dinasti. Bisa-bisa nanti ada Game of Thrones lainnya. Arya Stark bisa sampai tua main film, lawannya: anaknya Night King.

7. Pendiam

Tidak mengharapkan ending bagaimana-bagaimana, hanya diam menonton dan menerima hasil akhirnya. Nggak mau menjagokan siapa yang bakal jadi raja atau ratu pada 2019 ini, mau Jon Snow kek, Daenerys Targaryen kek, Cersei Lannister kek, atau bahkan jika yang akhirnya berkuasa adalah Night King. Ngerihh..

8. Anti Sosial-sosial Club

Sebagai orang yang netral, Bran Stark mampu bertahan hidup di akhir. Dirinya berhak menyandang gelar raja, tapi ia menolak karena tidak mau menyapa rakyat dan berada di tengah keramaian. Ia juga tidak mau menduduki Iron Throne. Kecuali, Iron Throne didesain seperti kursinya Profesor X di film X-Men.

9. Pemarah

Terserah bagaimana akhir ceritanya, yang penting nontonnya sambil teriak-teriak dan mukul-mukul TV. Kalau perlu marah-marah juga di media sosial, terus twitwar biar diramein sekalian sama akun @InfoTwitwor.

10. Pemaaf

House Lannister dan House Stark berdamai dan saling memaafkan. Begitu juga Daenerys Targaryen yang sibuk mengurus naga, alih-alih merebut tahta. Akhirnya, diam-diam Varys si kasim yang duduk di Iron Throne.

Artikel populer: Ulasan ‘Captain Marvel’ dan Prediksi ‘Avengers: Endgame’

11. Penyuka Konspirasi

Littlefinger ternyata belum mati. Yang digorok oleh Arya adalah pengguna ilmu penyamaran wajah yang mengorbankan dirinya untuk keselamatan Littlefinger. Littlefinger yang asli masih hidup dan menunggu pertempuran manusia dan White Walkers. Setelah perang selesai yang mengakibatkan kedua pihak mengalami banyak kehilangan, Littlefinger baru keluar dari persembunyiannya untuk mengambil alih kerajaan. Yhaa…

12. Adil

Tyrion Lannister yang pintar dan bijak bestari dirasa cocok jadi raja yang adil. Kepiawaiannya dalam memimpin bisa dicek melalui track record dalam perang melawan pasukan Stannis Baratheon di Blackwater. Tyrion juga pernah menjadi Hand of the King, Master of Coin, lalu Hand of the Queen.

Kalau sampai Tyrion yang jadi raja, dijamin kerajaan nggak bakal terjerat utang. Keuangan kerajaan bakal aman, jauh dari krisis ekonomi. Terlebih, ada slogan yang terkenal di kalangan House Lannister: “Lannister selalu membayar utang-utangnya”.

Iya sih, kerajaan mungkin terhindar dari krisis ekonomi, tapi dekat dengan krisis moral akibat merebaknya rumah bordil. Maaf, sekadar mengingatkan.

Bonus: Penggemar Superhero Marvel

Game of Thrones season 8 (terakhir) mulai tayang pada 14 April 2019, sedangkan Avengers: Endgame (terakhir juga) bakal tayang pada 24 April 2019. Penggemar superhero Marvel tidak berharap apa-apa dari akhir cerita Game of Thrones. Jadi, lebih suka bikin teori fans atau prediksi ending untuk Avengers: Endgame.

“Yang terpenting Thanos harus kalah dan mendapatkan balasan untuk apa yang telah diperbuatnya!”

Apa, Westeros??

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.