Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Ilustrasi (Gerd Altmann via Pixabay)

Salah satu alasan untuk menikah muda yang kerap terdengar adalah agar terhindar dari hubungan seksual di luar pernikahan, dan pada akhirnya terhindar dari dosa.

Alasan tersebut terdengar seolah: daripada susah payah belajar mengontrol birahi, sebaiknya kawin saja biar hawa nafsunya ada pelampiasan.

Kalau benar begitu, apakah berarti kita mengamini bahwa manusia tidak bisa menahan birahi? Padahal, setiap tahun kita berpuasa, salah satunya untuk belajar mengelola hawa nafsu.

Tentu saya tak anti kawin muda. Bagi yang ingin menikah muda karena merasa sudah matang, siap lahir-batin, fisik, mental, dan material untuk mengelola organisasi kecil bernama rumah tangga, tentu boleh saja.

Asalkan sudah memenuhi batas usia pernikahan, dilakukan dengan kesadaran, paham akan segala konsekuensi, dan tidak melanggar hukum, siapa yang bisa melarang?

Namun, bahaya juga kalau kawin hanya karena tidak bisa mengelola birahi dan butuh melampiaskan hawa nafsu. Karena sudah sewajarnya manusia mampu mengelola dorongan seksual.

Pendidikan seks

Berapa banyak yang sudah teredukasi dalam mengelola, mengatur, dan menjaga birahi? Berapa banyak dari kita yang pernah bicara – dalam kerangka edukasi – soal hubungan (misalnya pacaran), seks, hasrat, dan alat kelamin dengan guru atau orang tua?

Kebanyakan pembahasan soal seks dan alat kelamin di Indonesia hanya ada dalam pelajaran Biologi di SMA. Itupun sangat terbatas, seolah-olah seks dan alat kelamin adalah sesuatu yang sangat jauh dan terpencil dari kehidupan kita sehari-hari. Padahal, kelamin dan seks adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kita semua memiliki kelamin, kecuali dalam kejadian khusus dan luar biasa. Kita pun tahu di mana letak kelamin, juga tahu namanya. Sebagian orang berani mengucapkan namanya, sebagian lagi hanya berani berbisik-bisik. Sebagian belajar membersihkan kelaminnya dengan benar, sebagian hanya bisa mengira-ngira karena tak pernah diajarkan.

Seberapa banyak dari kita yang tahu dengan pasti dan diajarkan dalam sistem yang benar bagaimana cara membersihkan alat kelamin, apa fungsinya, dan bagaimana seks dan kehamilan terjadi? Seberapa banyak dari kita yang mengetahui hal tersebut dari curi-curi dengar, film, atau dari menerka-nerka sendiri?

Padahal, itu semua bisa jadi memberikan informasi yang sepotong-sepotong, tidak benar, atau bahkan menyesatkan.

Banyak yang beranggapan pendidikan seks melulu mengajarkan cara berhubungan seks. Lalu, karena anggapan yang salah ini, mereka jadi khawatir anaknya menjadi liar dan akan berhubungan seks dengan tidak bertanggung jawab, jika mendapat pendidikan seks.

Padahal sebaliknya, ketiadaan pemahaman yang benar soal seks, kehamilan, dan dampak negatif seks justru akan membuat remaja menjadi lebih cenderung terjebak dalam seks yang tidak bertanggung jawab.

Sementara itu, pendidikan seks yang baik, benar, dan menyeluruh justru menjadi life skill yang dapat membantu mencegah seks tidak bertanggung jawab. Mencegah seks tidak bertanggung jawab pada akhirnya juga dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, serta penyakit dan infeksi menular seksual.

Pendidikan seks juga dapat menghindarkan anak dan remaja dari menjadi korban atau bahkan pelaku pelecehan serta kekerasan seksual.

Pendidikan seks yang ideal membahas cara membersihkan alat kelamin yang benar, juga menjaganya tetap higienis. Termasuk juga membahas soal menstruasi dan mimpi basah.

Edukasi seks juga menjelaskan soal nafsu seksual dan bagaimana mengendalikan nafsu. Apakah boleh masturbasi dalam rangka memuaskan nafsu? Juga bagaimana menghindarkan diri dari hubungan seks yang tidak bertanggung jawab, serta menghindarkan diri dari kekerasan seksual?

Lalu, kalau sudah terlanjur aktif secara seksual, bagaimana cara untuk mengontrol dorongan seks agar tidak menjadi candu? Bagaimana cara agar tidak terkena penyakit seksual, terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan, termasuk juga mengelola hubungan seksual, dan soal kontrasepsi?

Selain itu, salah satu yang paling penting adalah bagaimana caranya menolak berhubungan seks, menegaskan batasan hubungan, dan mengambil keputusan dengan rasional. Jangan sampai berhubungan seks hanya karena kemakan rayuan gombal.

Mengontrol atau dikontrol nafsu

Dorongan seksual tentu adalah hal yang alami, bahkan naluriah. Kita tahu semua orang memiliki dorongan seksual. Namun, satu hal yang tak sering kita amini: semua orang bisa memiliki kemampuan untuk mengelola dorongan seksual tersebut.

Pendidikan mengelola hasrat yang ada di masyarakat saat ini adalah pendidikan seks ala haram dan halal. Kalau berhubungan seks di luar lembaga pernikahan, maka kamu termasuk golongan pendosa. Namun, kalau seks terjadi dalam lembaga pernikahan, maka kamu akan mendapat pahala berlipat-lipat.

Itu memang terdengar menjanjikan, namun kita butuh sesuatu yang lebih berwujud dan nyata untuk mendampingi doktrin agama.

Misalnya, dibarengi dengan pengetahuan bahwa perempuan dari kelompok ekonomi lemah cenderung berhubungan seks lebih dini, sementara berhubungan seks dini cenderung melipatgandakan risiko kanker rahim. Atau, kehamilan dan penularan penyakit bisa terjadi, meski baru pertama kali berhubungan seks.

Kebanyakan orang tahu bahwa berhubungan seks dapat menyebabkan kehamilan dan penyakit menular seksual, namun banyak yang merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi pada mereka.

Hal ini bisa jadi lantaran kehamilan dan penyakit melulu dibahas dalam konteks yang terpencil dari kehidupan sehari-hari, dan tidak dapat dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, agar dapat mengelola dorongan seksual, sudah tentu kita harus terbiasa bicara soal seks dalam konteks yang tepat, juga bicara soal hubungan dan hawa nafsu. Dengan demikian, seks akan menjadi sesuatu yang normal, biasa saja, dan tidak membuat orang penasaran.

Kalau kurikulum Indonesia belum menyediakan pendidikan seks, sebagai orang tua, kakak, om, atau tante, ada baiknya kita mulai bicara kepada anak, adik, keponakan, atau bahkan juga pada diri sendiri. Lembaga seperti Youth Center PKBI, Samsara, dan Tanam Benih Foundation menyediakan informasi mengenai kurikulum pendidikan seks.

Jadi bagaimana, pilih kawin muda semata-mata biar bisa ngeseks atau pilih memiliki kontrol yang baik atas nafsu dan menikah ketika benar-benar sudah siap fisik, mental, dan material?

3 COMMENTS

  1. Saya termasuk yg beruntung mendapatkan pendidikan seks di saat yg tepat, yaitu setelah menstruasi. Kedua ortu saya – terutama ibu – termasuk maju di zaman itu. Ketika saya bertanya mengenai seks dan mereka menjelaskan sejelas mungkin (bukan cerita porno, ya), jujur…saya malah sempet takut berinteraksi dg lawan jenis. Namun seiring waktu saya belajar mengenali yg mana trmasuk pelecehan seksual dan dg tegas menolak saat ada pacar yg mengajak. Apakah kepikiran utk nikah muda? Malah enggak. Selain puasa, saya jg menyibukkan diri dg banyak kegiatan serta mengumpulkan banyak informasi seputar seksualitas.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.